Minggu, 31 Mei 2026

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini, semakin banyak yang dipikirkan jika ingin menuliskan sesuatu - nggak pede dan nggak seenteng dulu

Tapi terus terang membaca buku Fathul Wahid ini membuat dada saya kembali menggemuruh, api kecil yang tersimpan tenang selama ini seperti tersulut, saya nangis 

Seinget saya baru buku ini yang melihat realitas masyarakat secara utuh walau lewat novel, yang jelas novel mengingatkan kembali cerita Bahruddin saat mulai membuat komunitas belajar Qaryah Thoyibbahnya, mulai dari keresahan Bahruddin dan tetangga tetangganya tentang susahnya masuk SMP Negeri, hingga akhirnya komunitas tersebut berdiri dan bertumbuh hingga sekarang, yang kemudian jadi salah satu inspirasi mimpi saya tentang sebuah sekolah  

Sekolah terkhir ini menurut saya membagi beberapa segmen yang dibahas, tentang kurikulum, biaya sekolah, murid, guru dan kemudian peran orang tua, orang tua diajak diskusi kurikulum, biaya sekolah, murid dan asesmen.

Buku ini bercerita tentang Firman dan teman temannya (Maya, Siti,dan Raka) yang ingin menghidupkan kembali sebuah sekolah yang akan ditutup

Penulis banyak mengangkat  pandangan Freire dan Ivan Illich, walau begitu pilihan kata yang dipilih dan bahasan diskusi yang relate dengan kenyataan membuat pandangan Freire dan Illich jadi lebih mudah dipahami.

Tulisan yang saya suka pada bagian - "menjaga idealisme bukan berarti menutup telinga terhadap kecemasan orang tua, tetapi bagaimana anak anak siap menghadapi sistem, sambil tetap menaman keberanian untuk berpikir kritis terhadap sistem itu. Lentur tanpa kehilangan arah". - panjang umur perjuangan yay -

Idealisme yang justru dipandang aneh ini bikin sedih, sesempit itu yang terjadi di dunia pendidikan kita?

Sebutan pendidikan alternatif ini juga sedih ya, bukankah pendidikan semestinya seperti itu, mendampingi setiap anak untuk bertumbuh sesuai kompetensinya masing masing, menerima anak anak apa adanya, tidak dibentuk dilekuk-lekuk sesuai keinginan orang dewasa di sekitarnya, yang ditumbuhkan adalah kesadaran diri, karena belajar untuk mempersiapkan hidup- bukan sekedar angka dan ijazah - jangan meremehkan anak anak dengan ukuran angka dan ijazah

Balik lagi ke buku ini ya, saya suka cerita perdebatan orang tua tentang sistem yang digunakan di sekolah ini, ketakutan orang tua pada cara belajar yang berbeda dari sekolah pada umumnya, takut tertinggal, takut tidak lolos masuk SMP Favorit dan pada perdebatan tersebut penulis membiarkan orang tua berpikir tentang belajar anaknya, tentang perubahan yang terjadi pada anaknya dan tentang keresahan mereka sendiri terhadap masa depan anaknya 

Sebetulnya kerepotan bisa ditambah jika gurunya juga tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan, tapi ini nggak ya, gurunya udah sefrekuensi bahkan guru seniornya pun percaya apa yang dilakukan Firman dan teman temannya. Andai beneran punya temen diskusi seperti Firman, Maya, Siti dan Raka waah...

Buku ini mencerahkan, menambah keyakinan saya tentang pendidikan yang memerdekakan. 

Terimakasih Prof. Fathul Wahid - panjang umur perjuangan

Minggu, 30 Mei 2021

Menjadi Instruktur

Pengalaman berikutnya sejak pandemi tepatnya mulai 13 Oktober 2020, saya diajak mas Aye - menjadi instruktur pengajar praktik guru penggerak untuk dua modul yang dia susun, modul 1 mengenai peran guru penggerak dan masa depan Indonesia dan modul 3 tentang kepemimpinan dalam transformasi pendidikan Indonesia. 

Oya sebelumnya bulan April 2020, saya diminta untuk menjadi reviewer modul mereka, khususnya modul 2 mengenai Pendidikan yang Memerdekakan, mengapa diminta jadi reviewer karena disertasi saya mengenai merdeka belajar 

Benar saja, saya beruntung sekali terlibat dalam program guru penggerak Kemendikbud, (walau saya guru Madrasah dari Kementerian Agama), banyak hal baru yang saya pelajari, ilmu baru, budaya kerja baru, namun tidak sulit mengikutinya karena mas Aye dan kami tim instruktur sudah se frekuensi se pandangan mengenai pendidikan yang memerdekakan, kami sama sama sering diskusi di komunitas guru belajar, sejak 2017 pertama saya gabung (disini ceritanya http://untukanakbangsa.blogspot.com/2017/02/guru-merdeka-belajar-vs-guru-nggak-mau.html)

Modul modul guru pengajar praktik dan guru penggerak berbeda pengembangnya, namun di desain terintegrasi satu sama lain, alur yang digunakan menggunakan alur MERRDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata) dan disetiap tahapan alur isinya aktivitas seru yang diharapkan dapat merubah paradigma para pengajar praktik dan guru penggerak.
Sedikit bocoran ya..
Modul 1 mengenai Peran Guru Penggerak dan Masa Depan Indonesia, di modul ini peserta akan diajak untuk merubah mindset menggunakan konsep piramida terbalik - hari kedua

Modul 2 mengenai Pendidikan yang Memerdekakan, di modul ini peserta akan diajak berefleksi dan kemudian mengkaji filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara - hari ketiga dan keempat

Modul 3 mengenai Kepemimpinan dalam Transformasi pendidikan Indonesia, peserta akan merancang lebih detail lagi transformasi pendidikan yang dilakukannya dengan model 5D Inkuiri apresiatif yang dikembangkan di Indonesia menjadi BAGJA - hari kelima

Modul 4 mengenai teknik Fasilitasi, ini keren juga, peserta dilatih menjadi fasilitator yang baik dan benar hehe - di Angkatan 2 saya menjadi instruktur modul ini, fase tahapan fasilitasi dijelaskan gamblang dan dipraktikan, sehingga peserta paham betul bagaimana seharusnya menjadi fasilitator - hari keenam

Modul 5 mengenai Coaching, yang ini bikin saya iri ke peserta, karena mereka diajarin teknik coaching oleh certified coach lhoo, you know untuk dapet certified coach ini gak gampang dan gak murah - hari ketujuh dan kedelapan

Modul 6 membungkus mengintegrasikan ke 5 modul yang ada, peserta setiap hari harus melakukan refleksi dengan berbagai metode refleksi yang ditawarkan, modul ini disampaikan di hari pertama dan ke sembilan

Itu baru modul pengajar praktik yang akan mendampingi guru penggerak, satu pengajar praktik akan mendampingi 5 guru penggerak. Modul pengajar praktik ini akan disampaikan selama 9 hari di tambah sesi bersama fasilitator selama 5 hari.

Kira kira begitu urutan peran instruktur, PP dan GP

Modul Guru penggerak ada 10 modul juga dari modul 1.1 - modul 3.3 bisa liat di medsos, mungkin pernah denger hebohnya bu Adriana, itu sebetulnya contoh kasus di salah satu modul yang membahas mengenai Social Emotional Learning. Oke baiklah saya akan bocorin yang dipelajari peserta GP ya, yang pertama, Filosofi KHD, Peran dan Nilai guru Penggerak, Visi guru penggerak, Disiplin Positif, Dieferensiasi, Social Emotional Learning, Coaching, Keputusan berbasis Etika, Kepemimpinan berbasis aset dan yang terakhir Mengembangkan Sekolah yang Berpihak pada Anak. 10 modul ini akan dipelajari peserta Guru Penggerak selama 9 bulan, secara blended learning. 

Keseruan menjadi instruktur pengajar praktik dan guru penggerak ini justru lebih pada keberuntungan saya bisa belajar buanyak hal, apalagi di angkatan 2 saya diminta bantu bantu untuk sedikit edit modul mas Aye, yang waktu itu lagi ada komitmen lain yang tidak bisa ditinggalkan. Gara gara ini jadi kerasa betul deh ritme kerja mereka. Jadi dalam satu program guru penggerak ini ada tim yang terdiri dari pengembang modul, tim LMS, tim SimPKB, tim GTK Kemendikbud dan tim Konsultan 

Sebelum masuk ke angkatan berikut nya, sekarang angkatan 3 PP, kami melakukan refleksi dulu, terhadap program yang sudah berjalan di angkatan sebelumnya yaitu angkatan 2, refleksi ini difasilitasi oleh para konsultan, timnya bu Wei Han (saya ketemu baru pertama kali, tapi dapat banyak ilmu dan inspirasi dari beliau love love pokoknya). Pada tahapan refleksi kami dibagi menjadi kelompok dengan bahasan yang berbeda, dari modul, lms, dan penilaian. Kami diminta diskusi, apa yang sudah baik, apa tantangannya, bagaimana solusinya dan siapa aktor yang berperan, dari hasil refleksi tiap kelompok ini menjadi masukan untuk ditindaklanjuti di angkatan 3.

Itulah mengapa selama bulan puasa kemarin saya pergi pulang berkali kali, refleksi, tindak lanjut 1, tindak lanjut 2, persiapan penyamaan persepsi instruktur angkatan 3. Seminggu kemarin tgl 23 - 29 adalah minggu yang luar biasa karena marathon kegiatan.



                                                               Selesai kegiatan refleksi

 

                 Tindak lanjut tahap 1 hasil refleksi, kami dibagi tim, saya wakil instruktur ini sama tim LMS


ini Finalisasi beberapa panduan hasil refleksi (tindak lanjut tahap 2)

ini penyamaan persepsi instruktur Pengajar Praktik untuk semua modul 1- 6

Nah yang seru lagi, beberapa kegiatan bersamaan pada saat menjadi instruktur guru penggerak, seperti kemarin waktu saya berangkat, 27 Mei, bebarengan ngajar modul 1.2 untuk angkatan 2 calon guru penggerak (CGP) - jadi begitu sampai hotel, langsung cus ngajar, terus pulangnya tanggal 29 Mei, bebarengan ngajar modul 3.3 untuk angkatan 1 CGP, uwoo deh pokoknya

ini sampai hotel langsung cus ngajar dari jam 13.00 - 17.00
yang ini begitu sampai rumah langsung cus ngajar dari jam 10.00 - 15.00

Do'akan sehat sehat yaaa... Aamiin, semua juga, semangat dan sehat selalu yaa...











Rabu, 22 April 2020

SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA MEMPRIHATINKAN

Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2006 (kalau dirujuk dari buku yang saya baca, Sekolah itu Candu nya -Roem Topatimasang, untuk website pendidikan.net mungkin) - saya udah lupa, karena saya cari websitenya sudah tidak ada. Tapi tulisan ini dicopas di berbagai website, blog - banyak banget. Ketik saja nama lengkap saya atau judul diatas, pasti keluar dimana mana.

What I want to say adalah, menulis ini jaman dulu 14 tahun yang lalu menyeramkan bagi saya, nulisnya aja pakai emosi dan deg deg ser, sampai di sidang segala guru kok gak setuju ma UN..., tapi kalau bacanya di kontek sekarang, yang malah UN udah dihapus, tulisan ini B aja (pinjem istilahnya Rora)
--------
Sistem pendidikan saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun pada kenyataannya di lapangan, sering kali saya lihat nilai raport yang dimanipulasi, jarang bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar, karena tidak boleh ada nilai 4 atau 5 di raport dan lain sebagainya. Mengapa guru bersikap demikian, mengapa nilai siswa-siswa banyak yang belum tuntas, salahkah guru?? Jawabannya bisa ya bisa tidak, bisa ya karena mungkin guru tersebut tidak memiliki kompetensi mengajar yang memadai, bisa tidak, karena sistem pendidikan Indonesia mengharuskan siswa mempelajari bidang studi yang terlalu banyak. Rata-rata bidang studi yang harus mereka pelajari selama satu tahun pelajaran adalah 16 bidang studi, dengan materi untuk tiap bidang studi juga banyak, abstrak dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Terus terang dalam hal ini saya lebih senang menyalahkan sistem pendidikan Indonesia, sistem pendidikan kita terlalu memaksa anak untuk dapat menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian abstrak, yang selanjutnya membuat anak merasa tertekan/stress yang dampaknya membuat mereka suka bolos, bosan sekolah, tawuran, mencontek, dan lain-lain. Yang pada akhirnya mereka tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, nilai mereka kurang padahal sudah dilakukan remidi, dan supaya dianggap bisa mengajar atau karena tidak boleh ada nilai kurang atau karena kasihan beban pelajaran siswa terlalu banyak, kemudian guru melakukan manipulasi nilai raport. Nilai raport inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk memperoleh beasiswa atau melanjutkan kuliah atau ikut PMDK dan lain sebagainya. Tahukah siswa akan kenyataan pahit ini? Lalu apakah UN solusi untuk melihat kemampuan siswa? Bukan, karena UN tidak adil, bahwa kemampuan siswa tidak dapat distandardisasi.

Jumat, 10 Januari 2020

Diskusi Merdeka Belajar

Beruntung sekali Salatiga memiliki temen teman di bidang pendidikan yang concern dan kritis terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak Indonesia. Selasa, 7 Januari 2019 - kami berkumpul ngobrol bareng tentang Merdeka Belajar - awalnya hanya diskusi ringan di grup whatsapp alumni MMP (Magister Manejemen Pendidikan) UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), tentang sekolah menyenangkan kemudian merembet ke Merdeka Belajar, lalu salah satu alumni yang juga Kepala Sekolah mengusulkan untuk menyelenggarakan FGD (Forum Group Discussion) tentang Merdeka Belajar, di sekolahnya.

Ketika list kehadiran dishare di dua grup - grup Komunitas Guru Belajar (KGB) Salatiga dan grup Alumni MMP UKSW - banyak yang daftar mulanya dibatasi 20 akhirnya mbludak sampai 40 peserta
Peserta diskusi ini adalah KaDinas yang keren ibu Yuni Ambarwati, karena semangat sekali mengikuti diskusi dari awal hingga akhir, ada Dr. Bambang Ismanto dari UKSW, selaku inisiator dan wakil dosen, Bahruddin - anggota BAN PT juga founder Qaryah Thayyibah sekolah alternatif yang sudah berdiri 16 tahun, juga temen saya curhat pas peristiwa 10 tahun lalu itu, berbagai komunitas juga hadir selain KGB Salatiga tentunya, ada komunitas kampung juara, ada komunitas belajar ruang bintang, beberapa kepala sekolah dan guru dari TK - SMA juga hadir
Berikut resume dari diskusi kemarin - tapi insyaAllah tidak mengurangi makna dari pembicaraan teman teman narasumber, dan peserta diskusi. Narasumber diskusi ini adalah KaDinas, Bahruddin - QT dan Andy - dari KGB Salatiga, dengan moderator bapak Bambang Ismanto.

Kamis, 05 Desember 2019

Hari Guru kali ini...

Sebagai seorang guru madrasah, dibawah Kementerian Agama RI -

Begini - guru di Indonesia dibagi dua guru sekolah umum dibawah Kemdiknas, contohnya guru TK/SD/SMP/SMA baik negeri ataupun swasta, baik yang ada ciri khusus agama - asal menyebut di depannya TK/SD/SMP/SMA maka dia dikelola Kemdiknas, dari sarpras sekolah sampai guru gurunya.
Sedangkan guru RA/MI/MTs/MA dikelola oleh Kemenag walaupun yang diajarkan sama, kurikulum yang digunakan juga sama, yang berbeda hanya ada tambahan mata pelajaran agama seperti SKI, Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadis dan kadang ditambah Ilmu Kalam dll - jadi disamping mapel umum seperti disekolah lain yang sekitar 10 - 15 itu masih ditambah lagi mapel agama Islam.
Nah kami gurunya langsung berhubungan dengan Kementerian Agama Pusat - ASN nya pun ASN pusat sebutannya, karena Kemenag tidak ada Otda

Sejak tahun kurang lebih 2017 sejak Pendis dipecah menjadi dua KSKK (bidang kurikulum) dan GTK (bidang guru dan tenaga kependidikan) sejak kami terdaftar di Simpatika dan guru kemdiknas di Dapodik - itulah saya sebagai guru Kemenag sudah tidak bisa lagi mengikuti event event yang diselenggarakan Kemdiknas, demikian pula teman teman Kemdiknas

Senin, 04 November 2019

Tentang Ketrampilan Self-Regulated Learning

Tulisan tulisan beberapa bulan belakangan ini membosankan ya - lagi sok sokan gaya nulis beberapa untuk artikel - biar nggak ujian terbuka, saya pingin bikin 2 artikel untuk jurnal internasional Scopus Q3 (syarat dari progdi -) ini uwo banget - pengalaman pertama, 2 artikel kualitatif, dan 3 artikel kuantitatif (yang udah jadi, artikel meta analisis, dan multivariat) masih kurang 3 artikel lagi - belum plus disertasi yang galau pinginnya kualitatif, tapi masih menunggu keputusan promotor

Untuk diketahui, masukin jurnal internasional itu bisa berbulan bulan dari review sampai approve, cerita dari kakak kelas, lebih sulit bikin artikel untuk jurnal internas, daripada disertasi (aaah mereka tuh ya bisanya nakutin saya aja....) - target beasiswa hanya 6 semester, dan sekarang udah jalan separo dan belum ada kemajuan

Seruunya, jadi gak sempet ke salon buat facial n renang....., bukan bukaaan, cuma duitnya udah abis buat beli buku *hahahaha nggayya...

Penelitian saya, rencananya tentang Self-Regulated Learning atau Self-Directed Learning - biasa aja sih sebetulnya, tapi ya baru tahu lho, kalau anak anak SMA pada umumnya, gak punya ketrampilan SRL ini, ada beberapa alat ukur yang bisa dipakai sih tapi karena riset saya kualitatif, jadi data ini saya dapet dari wawancara beberapa dari mereka - sedih ya

Senin, 28 Januari 2019

Belajar Ekonomi lewat Lukisan, Gambar dan Seni Ukir

Nemu yang unik lagi - Belajar Ekonomi Using Arts dari Michael Watts dan Chineze Christoper dari Purdue University dan dimuat di The Journal of Economic Education 43(4), 408–422, 2012 kalau ingin membaca artikelnya bisa disini - untuk membuktikannya Watt dan Christoper membuat website khusus bisa dilihat disini https://intra.krannert.purdue.edu/sites/econandart/Pages/Instructions.aspx semua materi dihubungkan dengan lukisan yang menggambarkan suasana saat itu, ditampilkan dalam bentuk power point. Seperti misalnya mengenai konsep kelangkaan (scarcity) watt menjelaskan definisi kelangkaan dalam ppt nya, kemudian dijelaskan dengan lukisan Moretta de Brascia - The Young Man 1540 - 1545 - yang sedang berpikir bahwa ia terlalu menginginkan begitu banyak hal.

Belajar Ekonomi lewat Novel Sejarah - The Lost Painting Jonathan Harr's

Tuntutan menulis artikel jurnal terindex Scopus memang seru (walo banyak pro kontra di luar sana) saya mencoba melihat positifnya. Jadi banyak baca dan nemu artikel unik - kalau biasanya anak anak belajar sejarah dari novel sejarah, seperti Tan misalnya, atau Amba, atau Maryam. Ternyata ada novel sejarah yang dapat digunakan untuk belajar ekonomi, sayangnya novel ini tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia - dan mungkin karena referensi saya kurang, saya juga belum ketemu novel sejarah yang bisa saya gunakan untuk mengajar ekonomi.

Sabtu, 29 Desember 2018

Penilaian Formatif Merdeka Belajar

https://www.slideshare.net/CasperWendy/selfregulated-learning-zimmerman
ehem, saya mencoba menulis agak serius ini, dengan berbagai literatur yang ada, saya tahu masih kurang dalam, tapi biarkan ini tersimpan disini, jadi proses belajar nulis, dan memperdalam apa itu merdeka belajar..
Semangat ya...
--------------------------
Pendahuluan 
Tantangan belajar abad 21 antara lain adalah bagaimana siswa generasi Z dan Alpha dengan kompetensinya dapat menghadapi berbagai situasi di kehidupannya kelak. Untuk mengatasi hal tersebut UNESCO juga Finlandia (termaktub pada core curriculum-nya), mengembangkan yang disebut dengan Transveral Competencies, yaitu kompetensi yang menyangkut berbagai aspek keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa abad ini, yaitu ketrampilan berpikir kritis dan inovatif, ketrampilan interpersonal, intrapersonal, ketrampilang menguasai media, teknologi informasi, kepedulian, keterbukaan, tanggungjawab terhadap isu global dan yang terakhir adalah bagaimana mereka menghormati religious value dan healthy life. (Care & Rebeccah Luo, 2015). Model merdeka belajar menjadi topik penting dalam pendidikan, karena memiliki komponen penting yang mendukung siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat di abad 21 ini. Model Merdeka belajar ini membuat siswa terlatih untuk aktif, mandiri, problem solver, berpikir kritis, inovatif, menjadi siswa yang memiliki pandangan social budaya. (Zimmerman & Schunk, 2001) dan masih banyak manfaat yang diperoleh dari model ini, yang akan banyak membantu siswa memiliki transveral competencies, sebagai bekalnya di abad 21.

Senin, 24 Desember 2018

Jatuh Lagi :D - Setelah Operasi MCL (After Martial Collateral Ligament Surgery)

Rumah Sakit dimana saya jatuh terpeleset
Jum'at 9 November 2018, sekitar pukul 15.00, saya jatuh (lagi) - kenapa "lagi", karena ini jatuh saya yang ketiga kali selama hidup yang harus operasi -

Jatuh pertama saat SMA, boncengin temen naik motor (alhamdulillah teman yang saya bonceng gak papa), tapi tulang punggung tangan kanan saya berantakan dan harus di pen kanan kiri - 3 bulan gips, alhamdulillah pen langsung diambil beberapa bulan kemudian - dokternya Almarhum Dokter Tunjung spesialis tulang -

Jatuh kedua 2014, waktu ada acara presentasi Best Practice di Jakarta cerita nya disini http://untukanakbangsa.blogspot.com/2014/10/alhamdulillah.html - seharusnya saya operasi - tetapi tidak saya lakukan, akibatnya sampai sekarang duduk sholat saya tidak sempurna

Jumat, 14 Desember 2018

Indahnya Filsafat :)

Berikut adalah semacam timeline, resume, sumber buku, tokoh, yang berperan dalam dasar pendidikan Matematika. Judul kerennya sih Syntesises on The Philosophical And Theoretical Ground of Mathematic Education -




Senin, 26 November 2018

Ada Mengada Pengada - Prof Marsigit

Martin Heddeger 1889 - 1976
Mempertanyakan makna ADA (being) adalah proyek utama filsafat Heiddeger (Martin Heiddeger 1889 - 1976). Konsep Ada sebenarnya dijadikan bahan refleksi para filsuf selama berabad abad. Heideggerlah yang kemudian menggunakan kembali konsep tersebut di dalam filsafatnya. Tapi apa sesungguhnya arti kata Ada, apa arti pentingnya. Di dalam filsafat Heidegger, kata itu sendiri memiliki beragam makna. Menurut Heiddegger, maksud dari konsep Ada, dilihat dari ranah ontologi, yaitu penelitian tentang Ada yang merupakan dasar dari seluruh realitas, dipengaruhi ruang dan waktu, sehingga ada pun sudah berubah. 

Di dalam bukunya Being and Time, Heidegger memahami ada daris eluruh realitas yang paling dinamis dengan perkembangan dan perubahan realitas itu sendiri. Konsep ruang dan waktu sangat terkait dengan ada itu sendiri, dan yang mampu memahami dan menanyakan ada adalah manusia itu sendiri, karena manusia memiliki pikiran dan hati untuk mengolah ada. 

Konsep Ada menurut pendahulu Heidegger, yaitu Aristoteles, melibatkan dua hal dalam diri seorang yaitu kemampuan berabstraksi, memaknai tentang persamaan diantara perbedaan realitas dan kemampuan berefleksi pada diri sendiri. Pemikiran Heiddeger banyak berpijak pada pemikiran Aristoteles bahwa seluruh sejarah pemikiran manusia adalah sejarah kelupaan akan ada (forgetfulness of being).

Demikianlah cara saya memahami setiap kuliah Prof. Marsigit - saya harus mencari tahu lebih detail terlebih dahulu mengenai materi diskusi diskusinya di dalam kelas. Semakin banyak membaca, semakin banyak yang saya tidak tahu, semakin sering berdiskusi dengan beliau di kelas, semakin saya tidak paham - jadi saya harus terus mencari dan berpikir makna makna yang terkandung dalam setiap diskusi. Tidak di mata kuliah prof saja, tetapi juga saat belajar dengan dosen dosen yang lain.

Selasa, 30 Oktober 2018

Filsafat ala Prof. Marsigit

Prof. Marsigit, Selasa, 23 Oktober 2018
Satu mata kuliah yang membuat kepala panas adalah Filsafat Pendidikan, tiga kali quiz selalu dapat 0.
0 atau nulisasi adalah salah satu program pak Prof. - yang bermakna supaya kami khususnya saya, tidak jadi orang yang sombong, balik ke zero, untuk terus belajar, melihat dan merasa.

Sebenar benar filsafat adalah penjelasanmu, tapi tidak sekedar penjelasanmu, tapi harus merefer dengan pemikiran para filsuf, dari Aristoteles, Socrates, Descartes, Humm, sampai Immanuel Kant dst. Prof, diawal perkuliahan menekankan dan mengingatkan sebelum belajar filsafat dan memahami pendapat para filsuf, ingat kebenaran mutlak milik Allah, dan dasar kehidupan adalah keimanan Agama. Titik !!! -

Penjelasan yang merefer dari para filsuf dasarnya pikiran - kalau tidak berpikir bukan berfilsafat - maksudnya dasar filsafat adalah bagaimana kita berpikir, karena pikiran dan hati adalah batas filsafat.
----

Sabtu, 15 September 2018

Belajar 2 Minggu Ini

Otw Jogja nih - Seru juga ternyata naik motor tuh *.*
Another narcistic story of me  

Saya kan ambil jurusan idaman - Penelitian dan Evaluasi Pendidikan - beneran idaman - tapiiii setelah mengikuti kuliah dua minggu ini - kok terus jadi deg deg an ya - bisa nggak ya selesai 3 tahun, bisa nggak ya saya memahami mata kuliah yang saya ambil. Apalagi banyak berseliweran cerita, temen temen bahwa kebanyakan selesai kuliah minimal 5 tahun ada lagi yang 9 tahun.

2 minggu ini roaming - terus tarik napas - gak bisa ini kalau seperti ini terus terusan -

Mata kuliah yang harus diambil semester ini: statistika dan sampling, metodologi penelitian, teori pengukuran, teori generalizability, teori belajar, filsafat pendidikan, statistika lanjut, penilaian kelas, semuanyaaa hitungan - kalo buku buku referensi yang sudah sepuh sepuh dan bahasa Inggris semua sih iya - oh oke deh - tapi semuanya hitungan - dan yang suka bingung bagaimana interprestasinya - apalagi based saya bukan math.

(Memang tukang nabrak nggak pernah mikir dulu kalo mau terjun... *peace, karena yakin banget, Allah pasti selalu memberi jalan keluar - dan udah terbukti kan yang dulu dulu...)

Terus saya mulai nyusun jadwal belajar - saya sesuaikan sama jadwal matkul, kalo pas nggak kuliah saya browsing dan ulang ulang lagi matkul yang tadi di dapet - u know - handout dari dosen kan cekak aos - jadi harus cari sendiri konsep konsep dasarnya, dan trus saya catet deh semuanya - jadi untuk sekitar 15 slide, catatan saya bisa 30 halaman sampe kulit jempol mulai mengeras nih hahaha

Jumat, 14 September 2018

Saat Kurikulum 2013 baru Lahir

Sebelumnya, Alhamdulillah akhirnya saya masuk di kuota 5% Beasiswa 5000 Doktor - Alhamdulillah kuliah semester ini sudah mulai sejak 3 September 2018, dan ada satu mata kuliah Filsafat Pendidikan yang membuat saya ingin menulis disini. Matkul ini diampu Prof. Marsigit, MA, sekaligus Direktur Pasca UNY.

Sebenernya kami ditugasi untuk membaca dan komen di blog beliau, trus nilai matkul berdasarkan komen terbanyak. Tulisan di blog Prof. Marsigit lebih dari 800an dengan berbagai genre, dan bahasa - tapi seru - banyak judul tulisan yang menarik, beberapa sudah saya baca, beberapa juga hal hal yang tidak pernah terpikirkan, terutama yang berhubungan dengan pendidikan Indonesia. Beberapa juga bikin saya surprise - pemikiran kritis prof. Marsigit tentang sistem pendidikan kita, setuju pake banget pokoknya - dan yang di lapangan yang mesti terbang melewati tembok tebal (karena kalo nabrak sakit hehe).

Saya ingin menulis tentang makalah yang disampaikan beliau di seminar nasional di Univ PGRI Yogyakarta 18 Juni 2013, - Tantangan dan Harapan Kurikulum 2013 - yang intinya betapa kurikulum 2013 terlalu terburu buru diterapkan, dari sudut filsafat dan psikologis, pendekatan sains untuk seluruh mata pelajaran tidak dapat dipertanggungjawabkan, belum dari sisi pedagogis, ontologis dan empiris.

Saat kurikulum 2013 mulai diterapkan, dengan keterbatasan pengetahuan saya tentang berbagai ilmu pendidikan, psikologis, pedagogis. Saya melakukannya dengan semangat - ada aura yang berbeda di sekolah - teman teman guru mulai kuatir, berpikir, deg deg an, bingung mesti melakukan apa di kelas, dengan pendekatan sains yang saya singkat SATUS (See, Ask, Try, Use dan Say) - terus kami jadi semangat belajar dan mencari tahu, metode metode apa yang bisa diterapkan yang memenuhi syarat kurikulum 2013.

Jumat, 03 Agustus 2018

Berharap 5% Kuota Beasiswa

Yaah 44 tahun, sering gagal, cuma gagal gini aja biasa...eh belum ding masih ada harapan 5%.
Kalo inget segala effort, dll dll dll buanyak banget dari ninggalin keluarga, wira wiri, duit yang tidak sedikit dll dll dll - yang berat sih sebetulnya saya udah menikmati banget kuliahnya walo baru matrikulasi
jadwal kuliah kami

dosennya baik - enak diajak diskusi - bikin saya ingin tahu lebih dan lebih, sampai sampai saya ulang berkali kali catatan matkul Statistika Lanjutnya, biar rapi n gampang dipelajari... sampai dicopy sama temen temen sekelas

Saya memang suka research ya, dan kebetulan setahun ini diamanahi jadi ketua program MANSA Research untuk anak anak kelas XI di Madrasah saya.
Segala hal kalo cuma ngomong nggak pake data kan gak bisa dipercaya - makanya saya ngincer banget jurusan ini sejak dulu -
tapi apa daya, mungkin pemberi beasiswa menganggap, kurang bermanfaat ilmu itu buat saya, lembaga dan anak anak (murid murid saya)

Pengumuman resmi blum ada sih, tapi gak menampik juga masih berharap saya ada diantara, kuota guru yang 5% itu - Aamiin.


Rabu, 18 Juli 2018

Kuliah lagi... Bismillah (^.^)/

Ini mimpi yang hampir terwujud, kenapa hampir, karena pengumuman beasiswa masih tanggal 20 Juli 2018 besok

Begitu cintanya jadi guru, saya suka ngomong ke anak anak, even saya Doktor, saya akan tetap jadi guru - waktu itu ntah mikirnya gimana, cuma memang saya selalu cari kesempatan beasiswa, dari LPDP - yang baru mau ngisi biodata udah langsung kluar alert merah - "Usia Anda sudah Melebihi Batas Maksimal" - terus Beasiswa Unggulan juga sama walo gak kluar alert - pernah ngeyel daftar ya gak ada terusannya lah - hahaha, ngirim Aminef juga pernah dan gagal

Makanya suka ngomong sama anak anak - kalo mo lanjut kuliah sekarang sekarang aja waktu masih muda - beasiswa buanyak - ayo ayooo mau ke luar negeri kesempatannya juga banyaaakkk

Senin, 18 Juni 2018

Lebaran = Silaturahim = Mengenal Leluhur dan Tetralogi Buru

Tetralogi Buru, yang Anak Semua Bangsa saya sampul -
kebiasaan kalo lagi baca buku saya nggak suka dikepoin :D
Saat ini saya sudah memasuki buku ke 2 Anak Semua Bangsa dari 4 Tetralogi Buru milik Pram, duluu bacanya pas kuliah dan potokopian pula, dapetnya juga gerilya, pas kuliah itu kurleb 20 - 25 tahun yang lalu. Alhamdulillah saat ini buku buku Pram sudah dicetak ulang dan gampang diperoleh, eeh juga buanyak buku sastra yang lain - bikin ngiler kalo ke toko buku.

Apa hubungannya sama lebaran ya hahaha
Keluarga dari ibu, kumpul lebaran dua tahun sekali, pertimbangannya, anak cucu bisa berlebaran ke keluarga pasangan di tahun yang lain. Tahun ini giliran di keluarga ibu, seperti biasa para budhe dan pakdhe akan cerita siapa leluhur kami.

Nah kami diingatkan lagi, bahwa kakek buyut kami adalah Raden Panji Adikusumo (Asisten Wedana Bunder Jombang), bin Raden Panji Djayusman Gondokusumo (Patih Mojokerto)+ R Ay Sumarsih binti RP.Ongkowidjoyo (Colleteur Lamongan), bin bin RP Sungkono Gondokusumo, bin Raden Adipati Panji TJOKRONEGORO III / R.Panji GONDOKUSUMO, Bupati Probolinggo 1831-1839, bin Raden Adipati TJOKRONEGORO II / R Panji NOTOKUSUMO(Bupati Kasepuhan Surabaya 1785-1818), bin R Panji DJAYENGRONO / Raden Panji TJOKRONEGORO (Bupati Surabaya 1758), bin Kyai ONGGOWIDJOYO / Kyai Tumenggung DJIMAT TJONDRONEGORO (Bupati Kasepuhan Surabaya 1752-1763), bin Kyai Tumenggung HONGGODJOYO (Bupati kasepuhan Surabaya), bin PANGERAN LANANG DANGIRAN / KI AGENG BRONDONG. Ini alur yang dari mbah Putri Raden Ay Liek Koessabandinah panjang yaaa - kalau mbah Putri kelahiran tahun 1920, berarti kakek buyut saya menjabat di Jombang sekitar tahun itu kan ya..

Nah yang dari mbah kakung Raden Ismoekadinoto, memiliki ayah Raden Sadikin Adiwinoto (Asisten Wedana Polisi - Surabaya) dan ibu Raden Ay Istijati putri dari Keluarga Kyai Ageng Kasan Besari (Kyai Ageng Tegalsari I, Th.1760 s/d Kanjeng Lider Raden Mas Tjokronegoro I, Bupati Ponorogo 1811-1900. Panjang yaaa..

Silsilah ini ada di Rodovid, ditulis oleh Dr. Ismoe Soekamto Suwelo, M.Sc pakdhe kami.
sumber : http://id.rodovid.org/wk/Orang:740693 ini ibu saya..

Rabu, 23 Mei 2018

Permendikbud 20 - 24 Tahun 2016

Gara gara pertanyaan Irma Nugraha yang banyak banget tadi pagi via WA- 
KTSP itu artinya kita bisa buat kurikulum sendiri? Kenapa ada KD? Seluas apa kita boleh bergerak dan memilih dalam batasan KD yang diwajibkan? Bagaimana dengan UN? juga SBMPTN dan SIMAK? - jadi inget punya PR ngrampungin tulisan tentang permendikbud 21 - 24 tahun 2016.

Sudah lama pingin bedahnya, gara garanya saya diminta untuk berbagi di pelatihan guru yang panitiannya minta disesuaikan dengan permendikbud nomor 21 22 tahun 2016, tentang standard isi dan standard proses. Betul sekali kata Prof Muchlas Samani, kalau tidak semua guru membaca dan memahami secara utuh kurikulum 2013 - paling banter cuma pas silabusnya aja - *ngacung saya juga *tutupmuka


Gara gara itulah saya terus baca permendikbud no 20 21 22 23 sampai 24 tahun 2016 dan tambah sukak deh sama kemendikbud - mohon maaf saya suka nyalahin kurikulum - ternyata pelaksanaan saja yang gak semua sesuai permendikbud.

Di pelatihan pelatihan biasanya kita hanya belajar format lessonplan terbaru, belajar teknis cara penilaian, bukan filosofi dibalik semuanya, bukan memahami permendibud secara utuh.

Sepulang dari Finland kemarin, saya lebih concern tentang core curricullum mereka yang membahas tentang transveral competencies sebagai bekal anak bangsanya menghadapi abad 21. Pas searching ternyata transveral ini udah dibahas di level UNESCO lengkap, sampai guru yang seperti apa, yang dibutuhkan untuk membekali anak anak di dunia ini, untuk memiliki kecakapan transveral.
2015 ERI-Net Regional . Preparing and Supporting Teachers in the Asia-Pacific to Meet
the Challenges of Twenty-first Century Learning. Regional Synthesis Report.
Published in 2016 by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization and UNESCO Bangkok Office

Kompetensi transveral adalah kompetensi yang menitikberatkan pada skills seperti interpersonal skills, intrapersonal skills, media and information literacy, critical and innovative thinking, global citizenship, respect for religioan values dan apreciation of healthy lifestyle.


Jumat, 30 Maret 2018

Jelajah Candi ... yay \(^.^)/

Saya suka sejarah
Seperti kemarin menjelajah beberapa candi - rasanya pingin pinjem mesin waktu dan pintu kemana sajanya Doraemon

Aslinya sih penelitiannya anak anak - cuma karena saya pembimbingnya jadi ikutan menyelami yang ditulis mereka

Tentang satu candi Hindu, candi kecil aja, ditemukan tahun 1900an - dalam keadaan sudah hancur 50%. Candi ini dibangun sekitar abad ke IX atau saat akan berakhirnya kerajaan Mataram. Masyarakat menyebutnya Candi Brawijaya, tetapi karena ada di desa Dukuh, maka disebut Candi Dukuh - menurut Perda Propinsi Jawa Tengah No. 6 Tahun 2011, kawasan Candi ini disebut Situs Brawijaya Candi Dukuh - letaknya di Desa Rowoboni, Kabupaten Semarang

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...