Thanks to visit..(^.^)/..

Jumat, 30 September 2011

Kenapa dipukul guru diem aja si???


Kenapa dipukul guru diem aja si???..langsung visum dan lapor polisi--guru juga manusia gak usah takut...--kalian bukan binatang, binatang aja gak bisa diperlakukan seenaknya...
Kalian anak-anak dibawah 18 tahun dilindungi Undang-Undang kok...
UU No. 23 tahun 2002 Pasal 16 Ayat 1 tertulis: Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.
Didasari atas keprihatinan, yang terjadi di sekitar kita, tentang anggapan bahwa mendidik harus dengan disiplin yang ketat tanpa dasar yang jelas. Bahwa anak-anak harus menjalani hukuman, ketidaknyamanan, intimidasi, diskriminasi atas hal yang sangat wajar menurut kacamata mereka dan aneh serta menyimpang menurut kacamata guru.
Ki Hajar Dewantara, bagaimanapun juga guru seharusnya ngemong dan among, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti dan pikiran, menjadikan anak-anak kita menjadi manusia yang bahagia, bijaksana, berjiwa besar, berakhlak mulia, apapun profesi mereka kelak
Mendidik tidak memaksa, kita hanyalah fasilitator bagi mereka, anak adalah pembelajar sejati, serahkan mereka pada alam, mereka akan menemukan diri mereka sendiri.
Perlunya kesadaran akan konsep pendidikan, diharapkan akan merubah paradigma pendidikan kolonial yang masih banyak digunakan di sekolah-sekolah dan di anut oleh guru yaito penekanan pada perintah, hukuman dan ketertiban (regering, tucht, orde)
Didalam masyarakat kita saat ini, masih banyak anggapan  bahwa anak adalah komunitas kelas bawah. Mereka adalah pribadi lemah yang seolah sepenuhnya harus berada di bawah kendali kekuasaan orang dewasa, sehingga berakibat orang tua pun merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak, karena anak lahir bagaikan kertas putih, maka kekuasaan ada di tangan orang tua.
Pengertian sempit dan paradigma keliru ini terus berkembang sehingga banyak diajarkan baik di rumah maupun di sekolah, bahwa anak-anak harus menurut sepenuhnya kepada orangtua, guru atau orang dewasa lain. Mereka sama sekali tidak boleh membantah, mengkritik, apalagi melawan, tanpa adanya penjelasan secara terperinci dalam situasi bagaimana hal itu seharusnya dilakukan. Pandangan demikian akhirnya terus berkembang dan sering membuka peluang terhadap berbagai tindak kekerasan, penindasan dan perlakuan salah terhadap anak karena kuasa orang tua dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Seolah-olah mendidik anak memang harus dilakukan dengan kekerasan. (Seto Mulyadi, 2006)
Padahal anak-anak yang banyak mendapatkan tindak kekerasan, cenderung mengimitasi kekerasan tersebut, disamping anak-anak tersebut pun akan mengalami berbagai gangguan kejiwaan yang kelak mengganggu proses tumbuh kembang mereka secara optimal. Apabila pendidik menginginkan munculnya pribadi-pribadi unggul di masa depan, semua harus berani bertindak mulai sekarang yaitu menyerukan kepada pendidik dan orang tua untuk menghentikan berbagai kekerasan terhadap anak atas nama pendidikan. Pendidikan adalah tidak identik dengan kekerasan; bahwa pendidikan adalah tidak sekedar memberikan instruksi atau komando, tetapi memberikan hati kita yang sarat dengan cinta dan kasih sayang. (Diane Tillman, 2002)

Rabu, 14 September 2011

Taare Zameen Par-Little Stars On Earth

Every Child is special

Ada mutiara diantara kita, yang dapat mengubah dunia
Karena mereka bisa melihat dunia dengan perspektif yang berbeda
Mereka unik dan tidak setiap orang dapat memahami mereka
Mereka ditentang, tapi mereka tetap jadi pemenang dan dunia dibuat kagum karenanya

Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Leonardo da Vinci, Abhishek Bachchan, Pablo Picasso, Walt Disney, Agatha Christie, mereka adalah beberapa dari mutiara itu…

Judul diatas adalah judul film yang di produksi oleh Aamir Khan production, film bagus lagi tentang dunia pendidikan dan ketidakpahaman guru dan orang tua tentang keistimewaan seorang anak, Ihsaan Awasthi, yang diperankan sangat bagus oleh Darsheel Safary.

Diceritakan Ihsaan, adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, yang sudah menjalani tahun keduanya di kelas 3 tanpa kemajuan yang berarti. Dia tetap anak idiot, malas, bandel, gila dan pembuat masalah, demikian guru, teman-teman dan ayahnya menyebutnya. Apa pasal?
Karena Ihsaan selalu saja salah mengeja tulisan, jika disuruh membaca selalu bercanda dengan mengatakan “the letter are dancing”, selalu melamun melihat keluar jendela, tidak pernah memperhatikan guru, asyik dengan dunianya sendiri, sehingga hampir semua nilai pelajarannya 0 (nol) dan berada di tempat terakhir.
Hingga pada akhirnya sekolah Ihsaan menyerah, mereka menganggap Ihsaan tidak normal dan cacat mental, mereka tidak dapat menjamin Ihsaan bisa naik kelas tahun ini.