Thanks to visit..(^.^)/..

Rabu, 23 Oktober 2013

Bagaimana Metode Pengajaran Radikal Bisa Membebaskan Generasi Anak Jenius - 1/4


Saya meminta seorang teman sariorange@gmail.com untuk menerjemahkan artikel yang berharga ini, supaya lebih banyak teman guru yang bisa terinspirasi oleh tulisan ini. Karena ada sekitar 17 halaman, maka saya bagi tulisan ini menjadi 4 seri. Mudah mudahan terinspirasi ya, untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik eh untuk belajar yang lebih seru.. Semangaatt!!..^.^/
-------------------------------------------------------------------

Judul Asli : How a Radical New Teaching Method Could Unleash a Generation of Geniuses
Sumber    : http://www.wired.com/business/2013/10/free-thinkers/

Joshua Davis / 10.15.13 / 6:30 AM
These students in Matamoros, Mexico, didn’t have reliable Internet access, steady electricity, or much hope—until a radical new teaching method unlocked their potential. photo by. Peter Yang



Sekolah Dasar José Urbina López terletak di samping sebuah tempat pembuangan sampah berseberangan dengan perbatasan Amerika Serikat di Meksiko. Sekolah ini melayani para penduduk Matamoros, sebuah kota berdebu dan terpanggang matahari dengan populasi sekitar 489.000 yang berada di titik sorotan perang narkoba. Tembak-menembak sering terjadi, dan sudah menjadi pemandangan umum ketika penduduk menemukan mayat bergelimpangan di jalanan di pagi hari. Untuk sampai ke sekolah, anak-anak harus berjalan melewati jalanan berdebu sepanjang sebuah kanal berbau busuk. Pemandangan pagi hari bisa dilihat sebuah traktor dari era 1940an, sebuah perahu reot di selokan dan kawanan kambing yang sedang merumput. Sebuah balok pembatas memisahkan sekolah ini dengan area pembuangan sampah dimana di ujung lainnya terdapat gundukan sampah yang menggunung, yang akhirnya ditutup. Seringkali bau busuk tercium melalui ruang-ruang kelas yang berdinding semen. Beberapa orang setempat menyebut sekolah ini un lugar de castigo—“sebuah tempat hukuman.”
Bagi Paloma Noyola Bueno (12 tahun), tempat ini merupakan tempat yang menggembirakan. Lebih dari 25 th yang lalu, keluarganya pindah ke daerah perbatasan ini dari Meksiko tengah guna mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, sebaliknya mereka berakhir hidup di samping tempat pembuangan sampah. Ayahnya menghabiskan setiap harinya mengais-ais sisa makanan, menggali potongan-potongan alumunium, kaca dan plastik di tumpukan kotoran. Baru-baru ini dia mengalami mimisan, tapi dia tidak ingin membuat Paloma khawatir. Paloma adalah malaikat kecilnya – anak bungsu dari delapan bersaudara.
Dari sekolah, Paloma akan pulang dan duduk bersama dengan ayahnya di ruang utama rumah mereka yang terbuat dari semen dan kayu. Ayahnya berperawakan kurus-kering dan tampak tertempa oleh cuaca, yang selalu memakai topi koboinya. Paloma akan menceritakan kepadanya dan mengulang kembali pelajaran-pelajaran hari itu dengan masih memakai seragamnya yang sudah lusuh – kaos polo berwarna abu-abu dan rok berwarna biru-putih – dan berusaha menghiburnya. Anak ini memiliki rambut panjang berwarna hitam, dahi yang tinggi dan cara berbicara yang bijaksana. Sekolah sama sekali tidak pernah membuatnya kesulitan. Dia duduk di barisan bersama dengan murid lainnya ketika para guru memberitahu mereka apa yang harus mereka ketahui/pelajari. Tidaklah sulit untuk mengulanginya kembali, dan dia mendapatkan nilai bagus tanpa harus berpikir keras. Saat dia naik ke kelas 5, dia berpendapat bahwa semuanya akan sama – mendengarkan guru, menghafal dan tugas-tugas.
Sergio Juárez Correa sudah terbiasa mengajar kelas seperti itu. Selama lima tahun dia telah berdiri di hadapan anak-anak muridnya dan bekerja mengajarkan kurikulum yang dimandatkan pemerintah. Kurikulum tersebut sangatlah membosankan dan menumpulkan pikiran baginya dan bagi murid-muridnya, dan dia sampai pada kesimpulan bahwa semua itu hanya membuang-buang waktu saja. Nilai tes sangat buruk dan bahkan para siswa tidak benar-benar memperhatikan pelajaran. Sesuatu harus diubah.
Dia sendiri juga tumbuh besar di sekitar tempat pembuangan sampah di Matamoros. Dia menjadi guru dengan tujuan membantu anak-anak untuk belajar lebih banyak untuk memberikan yang lebih bagi hidup mereka. Maka di tahun 2011- ketika Paloma memasuki kelasnya - Juárez Correa memutuskan untuk memulai eksperimennya. Dia mulai membaca banyak buku dan mencari ide-ide di Internet. Tak lama kemudian dia menemukan sebuah video yang menjelaskan sebuah upaya yang dilakukan oleh Sugata Mitra, seorang profesor di teknologi pendidikan di Universitas Newcastle, Inggris. Di akhir periode 90an dan selama periode tahun 2000, Mitra melakukan banyak eksperimen dimana dalam semua eksperimen tersebut dia memberikan akses komputer kepada murid-murid Indianya. Tanpa instruksi apapun, mereka mampu mengajari diri mereka sendiri berbagai macam hal yang mengejutkan, seperti replication replikasi DNA sampai bahasa Inggris.
Juárez Correa belum begitu menguasainya, namun dia tertarik pada filsafat pendidikan yang sedang berkembang, salah satu yang menerapkan logika era digital ke ruang kelas. Logika ini tak dapat ditawar: Akses mendapatkan informasi dunia telah mengubah cara kita melakukan komunikasi, memproses informasi dan cara kita berpikir. Banyak sistem terdesentralisasi telah terbukti lebih produktif dan cerdas daripada banyak sistem atas-bawah yang kaku. Inovasi, kreativitas dan cara berpikir mandiri semakin penting bagi perekonomian global.
Namun contoh dominan pendidikan negeri masih sangat berakar pada revolusi industri yang melahirkannya, ketika banyak tempat kerja lebih menilai ketepatan waktu, keteraturan, perhatian dan sikap diam. (Di tahun 1899, William T. Harris, komisaris pendidikan Amerika Serikat, mengemukakan fakta bahwa banyak sekolah di Amerika telah mengembangkan “penampilan sebuah mesin”, yang mengajarkan bahwa siswa “harus memiliki perilaku tertib, duduk manis di tempatnya dan tidak mengganggu yang lain.”). Kita tidak secara terbuka mengakui nilai-nilai tersebut sekarang ini, namun sistem pendidikan kita – yang secara rutin menguji anak-anak kita mengenai kemampuan mereka untuk mengingat informasi/pengetahaun dan memperlihatkan penguasaan mereka atas sedikit keterampilan – menggandakan pandangan bahwa murid merupakan materi yang harus diproses (diolah), diporgram dan diuji kualitas mereka. Para penyelenggara sekolah menyusun banyak standar kurikulum dan “garis pedoman melangkah” yang memberitahu para guru bagaimana cara mengajar setiap harinya.  Banyak legion manajer mengawasi semua yang terjadi di dalam kelas; di tahun 2010, hanya 50 persen anggota staff sekolah negeri di Amerika yang juga adalah pengajar/guru.
Hasil berbicara dengan sendirinya: Ratusan ribu anak drop out dari sekolah negeri setiap tahunnya. Dari jumlah siswa yang lulus sekolah menengah atas, hampir sepertiga “tidak siap secara akademis untuk mengikuti mata kuliah tahun pertama” (menurut laporan tahun 2013 dari ujian ACT). World Economic Forum memberikan urutan 49 kepada Amerika Serikat dari 148 negara maju dan negara berkembang terkait mutu pengajaran matematika dan sains. “Dasar fundamental sistem ini benar-benar cacat,” kata Linda Darling-Hammond, seorang profesor pendidikan di Stanford dan seorang direktur pendiri National Commission on Teaching and America’s Future. “Di tahun 1970, tiga keterampilan teratas yang disyaratkan oleh Fortune 500 adalah: membaca, menulis dan aritmatika. Di tahun 1999, tiga kemampuan teratas yang diminta adalah kerja tim, menyelesaikan masalah (problem-solving) dan keterampilan interpersonal. Kita memerlukan sekolah-sekolah yang mengembangkan semua keterampilan ini.”
Itulah kenapa bibit baru para pendidik, yang terilhami oleh semua hal dari Internet sampai psikologi evolusioner, neurosains dan AI (artificial intelligence), mulai menemukan cara-cara baru supaya anak belajar, tumbuh dan maju. Bagi mereka, pengetahuan bukanlah sebuah komoditas yang diberikan dari guru ke murid tetapi sesuatu yang muncul dari eksplorasi murid sendiri yang didorong oleh rasa ingin tahu. Guru memberikan dorongan dan bukan jawaban, lalu mereka ‘menyingkir’ sehingga murid bisa mengajari diri mereka sendiri dan juga saling mengajari dengan murid lainnya. Para guru ini menciptakan cara-cara supaya anak menemukan ketertarikan mereka – dan membuka/menemukan sebuah generasi anak jenius selama proses ini.
Di rumahnya di Matamoros, Juárez Correa menyadari dirinya sangat asyik dan terpikat oleh ide-ide ini. Dan makin banyak yang dipelajarinya, makin senang/bersemangat dia dibuatnya. Pada tanggal 21 Agustus 2011 – awal tahun ajaran baru – dia berjalan masuk ke kelasnya dan menumpuk semua meja/bangku kayu menjadi kelompok-kelompok kecil. Saat Paloma dan murid-murid lainnya masuk, mereka terlihat kebingungan. Juárez Correa mengajak mereka duduk dan kemudian juga duduk bersama mereka.
Dia mulai menceritakan bahwa ada banyak anak di banyak belahan dunia lainnya yang bisa menghafal pi sampai ratusan poin desimal. Mereka bisa menulis simfoni dan membuat robot serta pesawat terbang. Hampir semua orang tidak akan berpikir bahwa para murid di José Urbina López akan bisa melakukan semua itu. Anak-anak yang berada di seberang perbatasan seperti di Brownsville, Texas, memiliki laptop, internet berkecepatan tinggi dan tutoring, sedangkan di Matamoros, mereka hanya memiliki sedikit komputer, sambungan internet yang terbatas, sambungan listrik yang turun-naik, dan terkadang tidak cukup makan.
“Tapi kalian memiliki satu hal yang membuat kalian sama dengan anak-anak di banyak tempat lain di bumi ini,” kata Juárez Correa said. “Potensi.”
Dia melihat anak-anak tersebut. “Dan mulai dari sekarang,” katanya, “kita akan menggunakan potensi itu untuk menjadikan kalian murid terbaik di dunia.”
Paloma terdiam, menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya. Dia tidak menyadari bahwa selama lebih dari sembilan bulan selanjutnya, pengalaman bersekolahnya akan ditulis ulang, memasukkan mereka ke dalam kesatuan inovasi pendidikan dari seluruh dunia dan melentingkan mereka dan beberapa teman sekelasnya ke puncak urutan atau rangking di bidang matematika dan bahasa di Meksiko.
“Jadi,” kata Juárez Correa, “apa yang ingin kalian pelajari?”

Bersambung...

1 komentar: