Thanks to visit..(^.^)/..

Rabu, 23 Maret 2011

[KLIPING] TEST TROUBLE


TEST TROUBLE
BY SHIRLEY L STONE AND MICHELE BARONE



I’M A REGULAR KID. I’M LIKE THE REST
I’M NOT THE WORST. I’M NOT THE BEST

BUT I HAVE TROUBLE IN MY LIFE
THERE’S A PROBLEM CAUSING ME STRIFE
KIDS ARE BEING TESTED FROM EAST TO WEST
I’LL TELL YOU TRULLY NOT IN JEST
I CANNOT PASS THE STANDARD TEST
I CANNOT PASS IT WITH THE REST

MY TEACHER NAME IS MS. BEST
I’LL TELL YOU TRULLY NOT IN JEST

PASSING TESTS IS HER QUEST
SHE’LL GIVE ME THE STANDARD TEST

I CANNOT PASS THE STANDARD TEST
I CONNOT PASS IT,  MS. BEST
I CANNOT DO  IT,  I’VE CONFESSED

Minggu, 20 Maret 2011

[KLIPING] Say YES to GAMBARU!

by Rouli Esther Pasaribu on Monday, March 14, 2011 at 12:02pm
sumber : http://rouliesther.blogspot.com/2011/03/say-yes-to-gambaru.html?showComment=1300573543090#c6436769327106384241

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gam baru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya :

"doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

[KLIPING] Indonesia “Generasi Hafalan”

Oleh Slamet A Sjukur

Sumber : http://dgi-indonesia.com/indonesia-generasi-hafalan/

Dalam film ARTIFICIAL INTELLIGENCE, Spielberg menunjukkan robot-robot yang diprogram lebih manusiawi dari manusia, dan dihancurkan oleh manusia yang kodratnya lengkap (dengan plus dan minusnya). Tapi akhirnya dibela juga oleh manusia lain.
Sementara kurikulum kita selama ini memimpikan anak-anak kita menjadi ROBOT yang cerdas sempurna.
Ada orang-orang pintar berhati mulya yang menganjurkan menjadi manusia seutuhnya, suatu anjuran penuh dengan kesungguhan yang sangat mengharukan, tapi tidak tahu bagaimana menyusun strategi operasional yang diperlukan.
Perkara niat baik, kita tidak berkekurangan, begitu pula jumlah peraturan, apa saja ada, bahkan secara nyata potensi alam Indonesia sangat luar biasa jika dibandingkan dengan yang ada di negara-negara lain.
Tapi mengapa kita miskin, baik lahir maupun batin?

Menurut dr.H.Taufik Pasiak, M.Pd., konon didalam pameran “Otak-Otak se-Dunia” banyak pengunjung yang tertarik otak Indonesia yang diyakini lebih unggul dari otak Jepang, karena keadaannya masih murni, bersih dan segar, sebab jarang dipakai (1)

Di luar dugaan, ada penemuan mutakhir yang sangat penting, meyakinkan dan membesarkan hati. Meyakinkan karena merupakan hasil dari kerja keras puluhan tahun dua orang yang bermartabat ilmuwan, bukan orang partai atau DPR.

Dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Robert Dick-Read akhirnya yakin bahwa yang pertama mengarungi samudra bukan Bartholomeo Diaz (Portugis), bukan Colombus yang kesasar ke benua Amerika, bahkan bukan Cheng Ho (Tiongkok). Pada abad-5 manusia-manusia dari Nusantara sudah bisa mencapai Afrika, membuka tambang emas di sana, juga menolong India membawakan dagangannya sampai ke Roma (2).

Prof. Arysio Santos, seorang Brasilia pakar geologi dan fisika nuklir, mengusut Atlantis, sebuah benua yang tenggelam yang diceritakan Plato, filosof Junani, dan kitab-kitab suci di seluruh dunia.
Ternyata keberadaan Atlantis betul-betul suatu fakta, bisa dilacak Santos secara ilmiah, dan dikuatkan  oleh hasil penelitian NOAA (National Oceanographic and Atmospheric Agency) dan penelitian dari satelit yang di lakukan NASA. Jadi bukan hanya dongeng fantasi seperti yang dikira sebelumnya

Atlantis, sebuah benua yang  pernah ada dan tenggelam karena bencana alam yang dahsat di jaman prasejarah. Sekitar 75.000 tahun yang silam, gunung api raksasa (dan ternyata gunung Toba di Sumatra) meletus, menyebabkan tsunami yang menenggelamkan sebuah benua. Dan masih dihantam lagi sekitar 11.600 tahun yang lalu oleh ledakan gunung berapi lain (gunung Krakatau, jauh sebelum ledakannya tahun 1883), yang mengakibatkan berakhirnya zaman es, karena gletser yang sudah berabad-abad itu mencair dan mengakibatkan naiknya permukaan samudra sampai sekitar 130 meter. Benua yang tenggelam itu menyisakan dataran-datarannya yang paling tinggi serta puncak gunung-gunung berapi.

Sisa itulah yang menjadi kepulauan Indonesia. Artinya benua Atlantis itu tidak lain dari bagian yang hilang dari Indonesia!

Senin, 14 Maret 2011

[KLIPING] Kriteria Sekolah Berkualitas : Sebuah Refleksi Hasil Perbincangan dengan Bapak Lody Paat

Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/13/kriteria-sekolah-berkualitas-sebuah-refleksi-hasil-perbincangan-dengan-bapak-lody-paat/

Malam itu (8/3/2011), perbincangan saya dengan Lody Paat, salah seorang dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memberikan saya pencerahan. Di sebuah area di UNJ, saya, Pak Lody, dan dua orang teman saya melakukan perbincangan mengenai berbagai isu pendidikan. Yang mencerahkan adalah saat Pak Lody menceritakan definisi mengenai sekolah berkualitas yang dikutipnya dari pernyataan Prof Soedjatmoko yang disampaikan di IKIP Jakarta pada tahun 80-an.
“Tapi saya modifikasi sedikit,” kata Pak Lody.
Pak Lody pun memaparkan bahwa menurut Soedjatmoko,  jantung hati untuk sekolah yang berkualitas ada tiga. Jantung hati di sini maksudnya adalah kriteria-kriteria yang esensial untuk sekolah yang berkualitas. Yang pertama adalah perpustakaan, laboratorium, dan interaksi. Yang dimaksud dengan adanya interaksi di sini adalah adanya relasi antara murid dan guru, relasi antara guru dan orang tua, relasi antara murid dan orang tua , dan yang tak kalah pentingnya adalah relasi antara semua pihak sekolah (baik guru maupun murid) dengan pengetahuan.
Menurut Wikipedia, sebuah perpustakaan (library) didefinisikan sebagai berikut :
A library is a collection of sources, resources, and services, and the structure in which it is housed; it is organized for use and maintained by a public body, an institution, or a private individual. In the more traditional sense, a library is a collection of books. It can mean the collection itself, the building or room that houses such a collection, or both. The term “library” has itself acquired a secondary meaning: “a collection of useful material for common use.
Sebuah perpustakaan adalah koleksi sumber-sumber (sources dan resources – ada yang tahu perbedaannya?), dan layanan, dan struktur yang berada dalam suatu ‘bangunan’ [tertentu]; [perpustakaan] diorganisasikan untuk digunakan dan dijaga oleh suatu badan public, sebuah institusi, atau oleh individu. Menurut sense yang lebih tradisional, sebuah pepustakaan merupakan koleksi sejumlah buku. Artinya bisa koleksi itu sendiri, gedung atau ruangan dimana sebuah rumah menyimpak koleksi tersebut, atau keduanya. Istilah ‘perpustakaan’ sendiri memiliki arti lainnya : “sebuah koleksi material yang bermanfaat untuk common use (kegunaan umum — apakah tepat istilah ini?).

[KLIPING] Urgennya Menghadirkan Pengalaman Membaca yang Menyenangkan kepada Anak-Anak Kita

by Hernowo Hasim on Monday, March 14, 2011 at 7:00am
 
sumber : http://www.facebook.com/home.php#!/notes/hernowo-hasim/urgennya-menghadirkan-pengalaman-membaca-yang-menyenangkan-kepada-anak-anak-kita/10150114482914333

[Catatan: Ini adalah tulisan saya di sebuah milis yang saya tujukan kepada Kang Muroni. Saya ingin menjelaskan kepadanya tentang postingan-pendek saya yang saya beri tajuk, “Pentingnya Menghadirkan Pengalaman Membaca yang Menyenangkan”. Nama asli Kang Muroni adalah Mas Moko. Saya lupa nama lengkap aslinya. Semoga memberikan manfaat juga bagi Anda yang sempat membaca. HERNOWO]


Salam,
Mas Moko apa kabar?
Semoga Anda masih ingat saya. Kita pernah bertemu di Yogya sekitar setengah tahun lalu. Lewat seminar di UNY, Bu Pangesti mempertemukan kita. Anda memberi kartu nama berukuran tak biasa (kecil, portrait, berwarna agak kemerahan kalau tak keliru) kepada saya. Ketika saya presentasi, saya masih ingat betul Anda membagi kepada audiens tentang pentingnya “story telling”. Saya kemudian menambahkan dengan mengutip penelitian Jim Trelease tentang pentingnya menjadi “story teller” dalam bukunya Read-Aloud Handbook: Mencerdaskan Anak dengan Membacakan Cerita Sejak Dini (Hikmah, 2008).

Minggu, 13 Maret 2011

Budaya Baca Kita


Memperoleh link ini dari Dhitta Puti, -anak muda hebat, pejuang pendidikan Indonesia- http://www.thejakartapost.com/news/2006/12/09/reading-enhances-nation.html  

Artikel tentang membaca, minat baca kita yang sangat rendah. Apa yang mesti dilakukan untuk meningkatkannya. Dengan meningkatkan budaya membaca pada masyarakat kita, maka Negara kita akan menjadi lebih baik.

Di  Jepang misalnya, pemerintah lewat dinas pendidikan membuat program nasional untuk membudayakan membaca. Sekarang akan mudah dijumpai orang Jepang membaca dimana saja.

Mengapa membaca penting? Dengan membaca pengetahuan kita bertambah. Jawaban klise, sebenarnya bukan itu saja, bagi saya membaca membuat saya bisa berpikir luas, pada saat menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan saya, apapun permasalahan itu, sepertinya jawabannya akan muncul begitu saja dari otak bawah sadar saya.

Dalam artikel itu juga diungkapkan bagaimana Amerika, Singapura bisa maju dan berkembang pesat karena budaya baca yang tinggi. Tidak heran jika di hari libur banyak keluarga yang mengantri di depan perpustakaan daerah setempat.

Bagaimana dengan kita, dengan anak-anak kita?
Salah satu komentar yang menarik pada link Puti ini adalah, usaha untuk meningkatkan budaya baca guru-guru Indonesia, dengan asumsi peningkatan ini akan membawa pengaruh pada anak didiknya. Sekarang permasalahannya adalah bagaimana meningkatkan minat baca para guru?

Rabu, 09 Maret 2011

[KLIPING] In reply to "Als ik een Leraar was oleh Ines Puspita"


by Ekawati Indriani P on Monday, March 7, 2011 at 11:52pm

Tulisan di bawah berikut, adalah tulisan Ibu Ines Puspita, seorang pendidik yang saya hormati.
http://inesogura.weebly.com/5/post/2011/03/als-ik-een-leraar-was.html?

Als ik eens Nederlander was oleh Ki Hajar Dewantara
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".


Als ik een Leraar was oleh Ines Puspita
 “Sekiranya aku seorang guru, aku tidak akan merayakan kemenangan kelulusan UN dari murid-murid yang telah kita rampas sendiri kemerdekaan belajarnya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk meyuruh murid-murid ini untuk melakukan segala cara untuk lulus demi sebuah keberhasilan semu. Ide menilai hasil pendidikan hanya dari nilai UN saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk juga hak belajar hakiki mereka dengan mengkerdilkan hakikat pendidikan menjadi soal pilihan ganda. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin ini! Kalau aku seorang guru, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan seprofesiku ialah kenyataan bahwa murid-murid diharuskan ikut menyokong suatu kegiatan yang minim hubungannya dengan pendidikan yang sebenarnya dan tidak ada kepentingan sedikitpun bagi mereka.”

Ditulis sebagai bentuk keprihatinan pribadi atas dijadikannya UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan oleh sebagian besar kita."

Setelah membaca tulisan Bu Ines di atas, hati saya seperti tersayat.
Terinspirasi tulisan beliau, saya menuliskan isi hati saya di sini:

"Sekiranya aku seorang pendidik, aku TIDAK HANYA akan merayakan keberhasilan anak didik yang memperoleh nilai tinggi atau memenangkan kejuaraan tertentu.
Aku akan merayakan apapun yang terjadi dalam proses belajar.
Kekalahan.
Kegagalan.
Kepedihan.
Semuanya tidak ada yang terlalu kecil untuk dirayakan, karena semuanya berharga.
Mungkin, aku akan menyiapkan piala atau sertifikat kegagalan, sebagai penanda, bahwa suatu kegagalan adalah juga suatu pembelajaran.