Thanks to visit..(^.^)/..

Senin, 24 Desember 2012

Belajar seru dan belajar bebas ... :)

As usual, saya selalu terkejut dengan dampak dari apa yang saya lakukan bersama anak anak..

Adalah satu kelas "istimewa" dengan jumlah laki laki 20 anak dan perempuan 15 anak. 20 anak laki laki ini tidak memiliki motivasi atau keinginan untuk belajar, mereka juga tidak memiliki rasa emphati, tidak sopan, kasar, yang dilakukan nggelosor sepanjang hari di meja mendengarkan headset, main gadgetnya. Sebagian besar dari mereka memiliki latar belakang miskin dan broken home


Kebijakan sekolah, memang ini adalah satu kelas khusus berisi anak anak pelanggar peraturan sekolah, "nakal" dan nilai akademik rendah.
Saya merasa anak anak ini terintimidasi oleh judgement sekolah dan lingkungan teman temannya, dan mereka hanya sekedar mengamini itu

Saya kesulitan belajar bersama di kelas mereka, karena anak anak ini, tidak mau melakukan apapun, ataupun kalau mau ogah ogahan tidak dengan hati. 
Pernah saya coba putarkan video yang inspiratif, komentar mereka, apa itu saya nggak ngerti, kenapa pake pada nangis semua, saat saya jelaskan pun mereka cuek

Ada lagi sampai saya menggunakan "cara sekolah", karena sudah hopeless, namun keadaannya semakin parah. Kami bikin kesepakatan, jika terlambat masuk kelas maka konsekuensinya anak anak tersebut ke ruang BP untuk ambil surat ijin masuk kelas saya, dari ruang BP ternyata mereka membawa surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan itu di ttd oleh mereka guru BP dan kemudian mereka minta ttd saya. Namun karena mereka tidak terlihat menyesali perbuatannya, saya robek kertas pernyataan itu, alasan saya, saya nggak suka maaf bo'ong2an, supaya BP senang, supaya saya senang buat apa?

Semua guru yang mengajar di kelas ini mengeluhkan hal yang sama, kasihan 15 anak perempuan yang ada disitu, mereka niat banget ingin belajar tapi terganggu oleh tingkah laku 20 anak laki laki.
Sungguhan saya jadi inget murid muridnya Onizuka, Yankumi, Erin Gruwel-freedom writer, Louanne Johnson-Dangerous Mind, dan Ron Clark
 
Saat saya sharingkan permasalahan ini di sebuah grup pendidik tiba tiba pop up dapat ide, rencananya jam ke 3 -4 jatahnya ulangan harian tapi gak jadi, anak anak saya kasih satu lembar kertas putih kemudian saya minta mereka membuat jadwal apa yang ingin mereka lakukan saat pelajaran saya selama tiga minggu ini sebelum UAS. Satu minggu ada 3 kali pertemuan masing masing dua jam pelajaran.

Saya berikan pilihan belajar, seperti belajar dengan saya sesuai rincian silabus pembelajaran yang sudah saya berikan ke mereka diawal semester, membaca artikel inspiratif, membaca buku apa aja, mendengar headset, dan berkegiatan bebas sesuai yang mereka inginkan saat itu, menggambar, mempelajari pelajaran lain, tidur, maen gadget, sekedar ngelamun apa saja. Untuk yang tidak belajar dengan saya mereka nanti mempunyai kewajiban untuk menuliskan kisah saat mereka belajar bebas itu, apa yang mereka jumpai bagaimana perasaan mereka apa saja.

Saya akan rekap data jadwal mereka dan menempelkan di kelas, jadi saya dan mereka tahu apa yang mereka inginkan saat belajar dengan saya.

baru itu, seterusnya kita lihat nanti, jadi intinya yang mau belajar aja yang saya urusi, saya hanya mencoba hargai keinginannya, tapi tetap terkendali ...


Sampai di rumah saya rekap jadwal yang sudah dibuat anak anak di excel sebagian dapat dilihat di gambar berikut :


Ini jadwal yang mereka mau.. :)

Ini dia anak anak yang bikin saya bengong..
Kereen... Semangaatt!!...(^.^)/..
Keesokan harinya saya bertemu anak anak itu lagi, sebelum pelajaran di mulai saya tampilkan rekapan jadwal yang sudah saya buat itu di depan kelas. Kemudian anak anak yang tidak mau belajar dengan saya hari itu, sudah saya siapkan kertas untuk menulis apa saja yang akan mereka lakukan.
perintahnya seperti ini


Tulislah apa saja yang dilakukan, jam berapa, dimana, jika ngobrol, apa yang diobrolkan, bagaimana perasaannya, missal jika senang, apa yang membuat senang dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan saat ini. Semakin terperinci semakin baik, minimal satu halaman kertas ini. Terimakasih, have fun… (^.^)/…


Anak anak yang belajar seru dengan saya, mengerjakan berbagai worksheet yang sudah saya siapkan, karena mereka belajar akuntansi, jadi mesti banyak latihan yang harus dilakukan.. :)

Sebenarnya saya deg degan menanti kisah anak anak yang tidak belajar dengan saya, saya deg degan juga apakah mereka mau menuliskan kisah mereka. Ternyata mereka mau..

Hasil tulisan mereka menyenangkan, lucu lucu sekaligus mengharukan, saya terkejut saat mereka menyatakan bahwa minta didoakan agar segera sadar dan bersemangat lagi karena mereka sudah di kelas akhir dan akan menghadapi Ujian Nasional, ada lagi yang menuliskan peperangan yang ada di batin mereka antara terus bermalas malasan seenaknya dan atau mengikuti kelas saya, tapi ada juga yang semangat sekali bercerita panjang lebar secara detail tentang apa saja yang mereka obrolkan, rata rata tentang balap, modifikasi motor dan sepak bola.

Herannya lagi di pertemuan berikutnya, anak anak yang mula mula menulis dijadwalnya hari itu tidak akan ikut belajar berubah jadi ikut belajar,-alasan biar nggak malu-, katanya mereka malas saya minta menulis, padahal saya bilang ke mereka tulisan mereka bagus sekali dan saya sangat sangat suka.... ah sayang, padahal saya masih ingin membaca pengalaman mereka saat tidak di kelas bareng saya...hehe


Perkembangan selanjutnya, tambah bikin saya kaget lagi, anak anak ini, bilang ke saya "Ibu, tolong kami, selama semester ini, tak ada satupun yang kami paham, kami mau les di rumah Ibu"
*bengong...

5 komentar:

  1. hahaa wah aapa berhasil ya kalau sy teraapkan seperti itu?? kelas sya kondisinya gtu juga buc

    BalasHapus
    Balasan
    1. dicoba saja.. pak, terus cerita gimana hasilnya yaa... :)

      Hapus
  2. Klo yg gk blajar dg ibu..mrk posisinya dimana,?berkeliaran diluar klas kah???

    BalasHapus
    Balasan
    1. mereka berkegiatan, sesuai aktivitas yang sudah disepakati bu

      Hapus
    2. mereka berkegiatan, sesuai aktivitas yang sudah disepakati bu

      Hapus