Thanks to visit..(^.^)/..

Jumat, 01 Juni 2012

Karakter Steve Jobs

Saya belum pernah membaca buku karya Walter Isaacson yang lain, Isaac menulis biografi Steve dengan detail, ada beberapa saya tidak paham terutama mengenai microprocessor, semiconductor, bahasa BASIC dan lain lain istilah komputer dan elektronika, sulit membayangkan membuat permainan game untuk Atari dengan 45 chip, walau saya tidak mengerti istilah istilah itu namun saya bisa dapet feel nya bagaimana mereka Jobs dan Wozniak berjibaku yang akhirnya membuat saya terkagum kagum memabaca tahapan tahapan kelahiran Apple. Bravo dan angkat topi buat Isaacson ..:)

Jobs termasuk penganur Budha Zen, hippies, jarang mandi, tidak suka pakai alas kaki, vegetarian buah-ada keyakinan jika dia diet vegetarian buah maka akan mencegah produksi lendir di tubuhnya, menangkal bau badan, walau tidak pakai deodoran dan tidak mandi-padahal sebenarnya teori ini salah-(p.55)

evolusi produk apple..:)
Sifat keras Jobs, perfeksionis dan seenaknya sendiri diulas blak blakan oleh Isaacson. Karakter Jobs ini tentu saja terbawa pada saat dia memimpin Apple.
Jobs memiliki keyakinan bahwa aturan tidak berlaku pada dirinya, bahkan ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginannya maka Jobs akan mengabaikannya (p.153). Sifat Istimewa dari Uberman (manusia adikuasa) secara alami ada pada dirinya "jika sekarang jiwa itu menuruti keinginannya sendiri maka dia yang pernah kalah di dunia sekarang akan menaklukkan dunia" The Spoke Zarathustra-Nietzsche

Steve Jobs di mataku (*.*)

Membaca buku tebal ini di halaman-halaman awal sudah bikin saya geli, bagaimana tidak ulah duo Steve, Jobs dan Woz mengingatkan ulah murid murid saya di kelas dan di sekolah. Yang paling membuat saya terpingkal dan keinget sampai sekarang adalah saat Woz membuat semacam remote untuk mengacaukan frekuensi TV. Saat nonton TV bareng di asrama tempat Woz tinggal, dia akan menekan tombol remote buatannya itu, saat frekuensi TV tiba tiba kacau maka salah satu penonton akan berdiri dan memukul mukul TV tersebut, dan Woz tinggal melepas tombol remotenya maka layar akan bening kembali, hal ini dilakukan berulang ulang, hingga ada satu penonton yang rela memegang antena TV agar gambar yang ditampilkan tetap bening....hahahaha Usil yaa

Jobs dan Woz duo anak anak cerdas, kreatif dan inovatif, perbedaannya hanya pada Jobs yang nekat dan sinting, karena karya karya dan ulah mereka itulah membuat mereka menjadi kesulitan di sekolah. Tapi hal hal itu menurut saya yang membuat Jobs jadi orang inspiratif sepanjang masa.

Saya jadi ingat jika ulah anak anak maksudnya murid murid saya yang terkadang agak gila dan aneh aneh, gak mematuhi aturan yang tidak jelas, dan kritis. Anak anak ini sebenarnya adalah anak anak cerdas, namun terkadang kita tidak bisa menerima bentuk kecerdasan mereka. Membaca buku Isaacson ini membuat saya menyadari bahwa jika anak anak tersebut kuat mental, tahan banting dan tahu betul apa yang dilakukannya maka suatu saat mereka akan menjadi orang besar.

Sabtu, 26 Mei 2012

INDAHNYA BERBAGI \^.^/


Hari ini tiba juga, semua deg degan kecuali saya..*halah
Seperti sering saya bilang kelulusan Ujian Nasional ini adalah kepalsuan yang bisa membuat mereka bahagia dan kepalsuan yang bisa membuat mereka bersedih
Kepalsuan?? karena indikator bodoh pintar tidak dapat diukur dengan Ujian Nasional...hmm saya bosan membahas ini, sudah sering saya bahas di postingan sebelumnya..:)

Hari ini, saya mau cerita tentang sensitifitas syukur, anak anak saya sebagian besar bukan dari keluarga kaya dan berlebih. Di dalam kesempitannya, mereka hari ini melakukan aksi perwujudan syukur mereka, dengan bagi bagi nasi bungkus kepada orang orang yang membutuhkan, seperti; tukang becak, pengemis, orang jualan, tukang parkir siapa saja yang menurut mereka pantas menerima nasi bungkus mereka.

Senin, 14 Mei 2012

aaah what a lovely students...\(^.^)/..

ini sebagian dari mereka--what a lovely students...:)
Seperti biasa, saya tidak pernah memaksa anak anak untuk belajar dengan saya. Ketika saya masuk kelas, anak anak yang mau belajar akan berkumpul di bagian depan kelas, kita susun 9 meja jadi satu terus mereka akan duduk mengelilingi meja, saya menjelaskan sambil duduk bersama mereka.
Sedang anak yang lain, ada yang pingin tidur, ngobrol, sms an, facebookan, dengerin musik, main catur saya persilakan menyebar sendiri di dalam kelas.

Hal ini sudah berjalan selama saya mengajar mereka, satu tahun ini, walau naik turun, maksudnya saya sendiri juga yang kadang goyah--tapi semakin kesini sekarang saya semakin mantap.

Hari ini saya minta kumpul semua --biasa anak anak begitu bel nggak segera masuk kelas, tapi masih ngobrol diluar, makan di kantin, jalan jalan, adaaa ajalah, jadi saya tunggu sampai mereka kumpul semua walau 20 menit berlalu karena itu--dan minta dengan sangat mendengarkan saya 10 menit saja. mereka ber 36 dengan ruang kelas yang cukup besar, jadi susaaaah sekali disuruh diem mendengarkan...*ya iyalah mulut mulut siapa..hehe

Saya ulangi lagi kata kata saya, saya mau mereka belajar bukan karena angka raport, bukan karena mau ujian, bukan karena kenaikan kelas. Saya mau mereka belajar karena butuh untuk tahu...
Mereka boleh bebas memilih untuk belajar dengan saya atau tidak, dengan bertanggungjawab pada konsekuensi terhadap pilihan tersebut.

Nha selesai ngomong terus saya tanya lagi, hari ini berapa yang mau belajar?
belakangan ini kita baru belajar bikin buku besar, neraca saldo, jurnal penyesuaian dan kertas kerja--sebenernya gampang kalau sudah tahu prinsip dan latarbelakang kenapa mereka semua harus dibuat tapi namanya anak anak tetep harus ada penjelasan dari saya.

tidak diduga tidak dikira mereka semua ber 36 mau belajar, waduh repot ini...hihihi *gimana sih

Jumat, 04 Mei 2012

Ada yang SALAH...

Kena dikerjain anak anak saat ultah saya kemarin..:D
Terima saya sebagai pribadi yang terus berproses dan belajar, saya akan terus berubah sesuai dengan apa yang baru saya pelajari. Saya akan akui kesalahan dan keyakinan saya dimasa lampau dan siap berusaha memperbaikinya.

Saya akan terus mencoba, salah dan gagal, membuat saya  terus mencari cara lain, saya akan coba segala hal, saya sadar MUNGKIN tidak akan pernah ada formula yang tepat untuk membuat anak sekolah suka belajar, namun apa salahnya mencoba, berhasil atau tidak hanya Allah yang menentukan.

Metode pembelajaran saya di kelas selalu bervariasi dan bertujuan untuk membuat anak-anak senang belajar, namun belakangan saya menyadari bahwa metode metode belajar menyenangkan itu garing makna, oke anak anak senang, namun tetap saja ujung-ujungnya mereka harus menghafal, hal lain yang baru saya sadari juga, jika mereka senang belajar maka, mereka akan senang belajar apa saja, mereka memiliki hasrat untuk belajar, memiliki curiosity besar terhadap apa saja yang ingin mereka ketahui. Ini tidak terjadi di anak anak saya, mereka tetap belajar karena Nilai, karena Raport, karena Kenaikan kelas, karena Ujian Nasional!!


Dari berbagai metode yang pernah saya lakukan, saya jadi bisa membedakan mana metode garing makna, mana metode yang sungguh mengena dan menginspirasi anak anak.
Metode metode jigsaw, kwartet, accounting game, permainan ABCDE, ular tangga, pasir berbisik, metode metode yang ada di buku 101  metode Mel Siberman (maaf pak Siberman) --simak disini--menurut saya masih belum bisa membuat anak anak saya senang belajar, mereka senang di kelas saya, tapi mereka tidak senang belajar yang lain. Saya pernah bilang ke anak anak, oke deh kelas saya buat kelas refreshing...:)

Sabtu, 28 April 2012

60 Guru Hebat

Berangkat dari sekolah jam 8.30 WIB, karena undangan dari panitia, saya harus tiba di Semarang jam 10.00, Setibanya disana, dapat informasi bahwa peserta mencapai 60 orang, terbanyak guru-guru dari PAUD dan TK, kemudian beberapa dari SMP dan SMK.

Sebenarnya ada rasa, deg deg an, was was, takut salah, tapi saat ingat bahwa saya punya misi untuk merubah paradigma para guru tentang pendidikan dan belajar, rasa itu hilang dengan sendirinya, mudah-mudahan gak jadi kepedean ya...*inget pernah ada profesor kritik saya setelah presentasi di kelasnya..:(

Presentasi saya mulai dengan memberikan gambaran kondisi murid murid saya di kelas, ada yang tidur, ada yang melamun, ada yang nggak mau ngapa ngapain, saya ingin menunjukkan bahwa kita semua memang menghadapi hal yang sama, anak malas-malasan sekolah dan malas belajar, ketika saya tanya kepada peserta mengapa demikian, jawaban mereka beragam, ada yang karena belajarnya membosankan, terus gurunya membosankan, capek dan masih banyak lagi, yang pada intinya membuat saya berkesimpulan bahwa peserta disini ternyata memang menyadari ini.....Alhamdulillah

Selanjutnya saya cerita bahwa sebelum tahun 2005 saya guru paling kejam sedunia, suka nyakitin murid, maunya diperhatikan dan yang terpenting apa yang saya lakukan tidak ada dasar teori yang jelas, asal aja ngikut cara guru-guru saya, dulu waktu sekolah. Titik baliknya saat saya menyadari bahwa nilai anak anak tidak meningkat, perilaku mereka sama saja, dan mereka tetep saja tidak mau belajar. Kemudian seorang teman mengatakan bahwa apa yang saya lakukan salah, dan dia menyarankan saya untuk membaca berbagai buku, dari situ cara pandang saya tentang pendidikan dan belajar mulai berubah.

Saya mulai dari tujuan pendidikan yang harus jelas, karena kita guru yang berada di sistem maka saya memakai acuan tujuan pendidikan nasional UU No. 20 tahun 2003 pasal 1. yang menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Saya katakan saya merasa ada yang kurang dari tujuan pendidikan ini, mestinya ditambah memelihara hasrat alami belajar setiap murid.

Kemudian tentang konsep belajar, belajar itu apa saja, sesuai hasrat belajar anak-anak, kebutuhan mereka, keingintahuan mereka tentang suatu pengetahuan, tidak perlu dibatasi penuhi saja. Belajar itu dimana saja, di rumah, di sawah, di apotik, pemberhentian bis, di sekolah, ketika duduk-duduk diteras, dimana saja, belajar bukan hanya duduk manis di bangku, tapi bisa dimana saja. Belajar itu dengan siapa saja, pernah baca Toto Chan?, di buku itu ada sesi ketika toto bersama teman-temannya diajak jalan-jalan ke kebun kemudian belajar berkebun menanam tanaman dari pak Tani, belajar bisa dengan siapa saja, tidak hanya dengan guru. Belajar itu kapan saja, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Belajar harus bisa mengubah diri seseorang menjadi lebih baik, dan yang terpenting ketika hasrat belajar sudah terpenuhi maka dia akan menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena belajar itu dari buaian hingga liang lahat.

Apa itu Guru Hebat, guru hebat adalah guru yang mau belajar, memiliki pikiran terbuka atau open mind, mau berubah, guru yang mampu meyakinkan muridnya bahwa dia murid hebat, guru yang mampu melejitkan potensi yang sudah ada di dalam diri murid-muridnya, guru yang mampu memenuhi hasrat belajar murid-muridnya dan guru yang dapat menginspirasi.

Apa itu Murid Dahsyat, murid dahsyat, apakah hanya prestasi saja? nilai spektakuler di raport? juara olimipade dimana-mana? lulus terbaik ujian nasional? NO murid dahsyat adalah murid yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, yang tahu siapa dirinya dan tahu betul apa yang diinginkannya, tahu betul minatnya. Mengenai karakter yang kuat saya ceritakan kisah murid saya Suci Nurani yang berani berkata tidak saat diminta memberikan contekan kepada teman-temannya di ujian nasional, bahkan beberapa minggu sebelum ujian nasional dia menghimbau teman-temannya dengan menulis note di FaceBook, bahwa Solidaritas itu Jujur Tidak Curang, yang membuat saya haru adalah saat ujian nasional Suci dan beberapa teman yang memegang prinsip ini menjadi bulan-bulanan teman-temannya, dicibir, dijauhi dan diintimidasi, walau demikian mereka tetap teguh untuk tidak curang saat ujian nasional. Saya tahu betul bagaimana rasanya, sangat berat.
Jika anak-anak ini terus bertambah mantap memegang prinsip ini kelak saat mereka dewasa, mereka akan menjadi pribadi yang berani berkata tidak untuk hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani.

Senin, 23 April 2012

Ceritaku tentang 12 Guru Hebat...^.^

Walau terlambat, memperoleh dan membaca buku ini, namun kisah-kisah 12 guru hebat yang disajikan dalam buku ini sungguh membuat saya semakin mantap melangkah.

Buku dengan judul Apa yang berbeda dari Guru Hebat karya Eko Prasetyo (editor Jawa Pos) dan Muhammad Ihsan (sekjen Ikatan Guru Indonesia), mengisahkan secara ringan dan lugas 12 guru hebat yang seringnya justru dibilang guru aneh dan kurang kerjaan (pengalaman pribadi...*halah)

Adalah Setyo Purnomo atau pak Pur (temen nih), yang kuliah saja tidak lulus, hanya gara-gara pak Pur memegang teguh idealisme kejujurannya saat penyusunan skripsi. Pak Pur sempat kuliah di Fak Perta UGM, saat penelitian, tanaman yang ditelitinya dipanen oleh petani pemilik tanah, padahal sebelumnya ada perjanjian antara keduanya bahwa tanaman tersebut tidak dipanen sebelum penelitian pak Pur selesai, namun sepertnya si petani lupa. Sebenarnya kalau mau, Pak Pur bisa saja memalsukan data penelitiannya untuk selanjutnya lulus sarjana pertanian UGM waaa keren ya, tapi sayangnya eh hebatnya beliau tidak mau, mendingan gak lulus sekalian ajah, daripada dapet ijasah dengan cara gak jujur.

Selain kuliah di Faperta, pak Pur memiliki kesukaan tingkat tinggi pada IT, yang kemudian membuahkan prestasi dengan memudahkan kota Kendal untuk berkomputer dengan Open Source, dengan programnya KendaL Goes Open Source.

But most of all dari pak Pur yang saya suka adalah keegaliterannya bersama murid-muridnya di kelas, dia dengan legawa mau dikritik muridnya. Egaliter dan keakrabannya dengan murid tersebut yang akhirnya malah menyingkirkan pak Pur dari sekolah itu....kenapa?? baca sendiri yaaa hehe...:)

Berikutnya adalah Imron Wijaya, membaca kisahnya saya dapat memperoleh gambaran bahwa beliau adalah sosok guru yang pogress (bahasa sini, yang artinya kira-kira berpikiran kedepan dan cekatan). Cita-citanya untuk mewujudkan pendidikan bermutu dan berkualitas dapat dinikmati oleh anak-anak miskin bisa terwujud dengan sifatnya yang set set wet itu. Gimana caranya?...

Yang ketiga adik favorit saya, Dhitta Puti S, anak muda yang cerdas, pekerja keras, dan up to date. Saya waktu seumuran Puti 11 tahun lalu, masih mikir seneng-seneng dan egois, tapi Puti tidak, konsep pendidikan dan belajar yang diusungnya jelas, aplikasinya relevan, sangat bagus dan dapat diterima oleh murid-muridnya. Puti mengajar dengan bercerita, baik dari buku atau cerita karangannya sendiri. Oya Puti mengajar bahasa Inggris dan Matematika juga Fisika, dia juga dosen bahasa Inggris. hiks keren ya...
Mau tau metode mengajar Puti? simak bukunya yaaa...:)

Keempat adalah Sukari Darno, wah yang ini awesome, pak Sukari ini kalau menurut saya bener-bener manusia pembelajar. Karir pertamanya adalah pak bon sekolah, karena bekerja dengan hati dan jujur, beliau kemudian dipercaya untuk mengerjakan pekerjaan kantor- ngetik pakai komputer--, dari situ pak Sukari mulai belajar WS dan Lotus secara otodidak...cool. Sampai akhirnya beliau memperoleh jalan untuk melanjutkan kuliah dan sekarang mengajar menjadi guru TIK di SMA Muhammadiyah Gresik. Eits tapi bukan sembarang guru komputer yaa, beliau sudah bikin buku dan jadi fasilitator juga Master Teacher Partner in Learning Microsoft Indonesia. Keren kan...:)

Kelima ibu Lisda fauziah Harahap, hiks ini temen saya juga lhooo
Bu Lisda ini punya sekolah, TK dan SMPIT eeeeh stop jangan berpikir sekolah mentereng dan muahal ya, justru yang dibuat bu Lisda ini adalah sekolah untuk murid kurang mampu, guru-gurunya pun bukan lulusan sarjana pendidikan. Guru-guru yang direkrut bu Lisda dididik sendiri oleh beliau sebelum terjun di kelas bersama murid-muridnya.
Mendirikan TK dan SMPIT untuk murid kurang mampu penuh perjuangan dan benturan, ditolak DIKNAS, difitnah masyarakat sekitar, tidak ada dana, ah pokoknya penuh tantangan deh. Tapi indahnya dimana mana niat tulus dan ikhlas akan selalu diberi kemudahan oleh Allah, dan itu yang terjadi pada bu Lisda.
Kalau mau cerita lengkap perjuangan bu Lisda...baca bukunya..:)

Keenam, A. Muzi Marpaung ini mah bapak favorite saya, pak Muzi ini founder http://rumahsainsilma.wordpress.com/. Sebenarnya saya tahu pak Muzi, saat Tiga Serangkai minta saya nulis buku pengayaan buat mereka. Buku pak Muzi yang dijadikan contoh, hiks sekeren ini bisa gak yaaa...dan ternyata saya belum beruntung pak Muzi hehe...
Pak Muzi ini keren sekali, beliau bisa membuat sains menjadi sangat mudah dan menyenangkan, tidak seperti saat saya sekolah dulu, fisika dan kimia adalah pelajaran yang paling bisa membuat kepala saya panas, nggak ngerti ngerti ...*btw sayanya kali ya yang error hehe..:)

Oya pak Muzi sekarang dosen Teknologi Pangan di Swiss German University...cool..:)

Minggu, 22 April 2012

Di Saat Gelap..:(

Sudah baca berita ini..

79 Persen Siswa Niat Belajar karena UNKompas.com — Ujian nasional dianggap bisa memberikan motivasi kepada anak, bahkan hingga 79 persen siswa, untuk belajar. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.
   
"UN mendorong anak-anak untuk belajar, itu yang kita inginkan sebab kita tidak ingin belajar itu dipaksa," kata M Nuh di Jakarta, Jumat.
   
Hasil tersebut diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas tanggapan siswa terhadap UN.
   
Survei menunjukkan 37,2 persen siswa sangat khawatir terhadap kelulusan UN dan 37,2 persen lainnya merasa khawatir, sementara hanya 25 persen yang mengaku tidak khawatir.
   
Selain itu, survei juga mengungkapkan sebesar 56 persen siswa mengaku cemas menghadapi UN, 21,6 persen merasa biasa saja, sedangkan 22,4 persen sangat cemas.
   
"Rumusannya begini, prestasi itu diperoleh dengan usaha yang maksimal," kata M Nuh.
   
Pelaksanaan UN tingkat SMA/SMK sudah berlangsung pada 16-19 April 2012. Sementara UN SMP/MTs akan dilangsungkan pada Senin 23 April 2012 selama empat hari hingga 26 April mendatang.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/21/10503847/79.Persen.Siswa.Niat.Belajar.karena.UN

Saya sedih baca berita ini, sedih karena tidak tahu maksud pak Nuh..
Persepsi saya setelah baca berita ini adalah, terus apa yang terjadi setelah Ujian Nasional? mereka tidak akan belajar kah? karena tidak ada ujian, karena tidak ada nilai? karena tidak ada ijazah??

Belajar itu sepanjang hayat, bosen ya saya bilang gitu terus, semoga tidak, karena itu hadits Nabi,--tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat--أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَهْدِ اِلىَ اللحْد

Sabtu, 21 April 2012

Itulah mengapa sekolah harus tetap ada, dan guru harus terus belajar...

Saya ingin jiwa pembelajar alami yang sudah ada di dalam diri mereka bisa terus ada sepanjang hayat. Sejak anak dilahirkan mereka adalah pembelajar, mereka akan belajar bagaimana menyusu, belajar mengenal orang-orang di sekitar mereka, belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara, dan seterusnya.

Orang-orang yang ada di sekitarnya sebenarnya hanya pendamping, memfasilitasi dan dilarang campur tangan terlalu jauh untuk terlibat dalam hasrat belajar mereka. Orang-orang yang ada disekitar mereka wajib memberikan contoh, gambaran, hal-hal yang terbaik dan ideal, tapi proses selanjutnya-- pilihan, ide, gagasan-- tetap di tangan anak-anak pembelajar itu.

Bagaimana hal itu bisa dicapai di sekolah?, ...ah pertanyaan ini salah....Sekolah sebagai "satu-satunya" tempat belajar yang harus menyediakan itu semua. Mengapa satu-satunya? ya karena itu yang diketahui oleh sebagian besar umat manusia di pelosok dunia eh Indonesia . *kejauhan..

Di sekolah saya, 80% orang tua wali adalah petani yang hidup sangat sederhana, buruh pabrik, pedagang pasar, TKI, juga pengangguran. Mereka pasrahkan 90% eh bahkan 100% pendidikan anaknya kepada kami guru-gurunya di sekolah. Latar belakang dan kesibukan mereka membuat mereka tidak memiliki kesempatan untuk belajar bagaimana mendidik anak-anak mereka dengan baik.

Jumat, 13 April 2012

Ceritaku tentang--Cinta Yang Berpikir--

Tahun 1998 - 2005 saya adalah guru paling kejam di dunia, saya sering menyakiti anak-anak saya sebagai dalih untuk melecut semangat mereka, menyakiti mereka tanpa tahu latar belakang mengapa mereka melakukan kesalahan, menyakiti mereka tanpa tahu beban belajar mereka yang banyak, menyakiti mereka tanpa tahu liku-liku kehidupan mereka.

Titik balik saya, saat saya berkeluh kesah dengan seorang teman, pak Mahfudz (beliau ini orang tua Muhammad Izza Ahsin pengarang buku Dunia Tanpa Sekolah), karena nilai anak-anak jauh dibawah KKM bahkan setelah remidi. Apa jawab beliau "Caramu salah"--teman yang selalu mendukung apa yang saya lakukan, mendukung model pembelajaran yang saya gunakan, tega bilang saya salah?....*lebay ah
Kemudian beliau menyarankan saya untuk membaca buku-bukunya, adalah Summerhill School AS Neill, Menjadi Manusia Pembelajar - Andrias Harefa, Sekolah saja tidak pernah cukup- Andrias Harefa, Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah-Ivan Illich, Sekolah itu Candu-Roem Topatimasang, Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional Y Pradipta (penelitiannya tentang sekolah Mangunan) dan seabrek buku lainnya yang pada akhirnya merubah cara pandang saya tentang belajar dan mendidik. Bahwa belajar itu sepanjang hayat dan guru di sekolah seperti saya harus tahu bagaimana menumbuhkan kesukaan belajar yang lama padam di hati anak-anak saya, bahwa mendidik tidak memaksa, mendidik itu belajar bersama anak-anak, saya hanya fasilitator, mendidik itu memunculkan kemudian menguatkan potensi yang sudah ada dalam diri anak-anak.

Sejak saat itu saya berubah, tidak ada lagi PR dan tugas, tidak ada lagi beban belajar yang sok sulit dan sok canggih, tidak ada lagi paksaan harus menguasai bidang studi saya secara sempurna, hingga sekarang banyak eksperimen model pembelajaran yang saya terapkan di kelas, dicoba, dikaji, ditulis, jadi penelitian dan kadang dapet juara (eh yang ini mah bonus aja, bukan tujuan akhir)

Di perjalanan saya mencari metode yang bisa menumbuhkan minat belajar sepanjang hayat ke anak-anak saya, yang umumnya berusia antara 15-18 tahun, saya bertemu dan sharing dengan banyak teman, baik guru maupun orang tua juga praktisi homeschooler. Saya bertemu dengan banyak buku, dan yang masih anget baru 11 hari saya baca adalah buku Cinta Yang Berpikir --sebuah manual pendidikan karakter Charlotte Mason--by. Ellen Kristi--yang banyak menambah wawasan berpikir saya, tepatnya menginspirasi..:)

Membaca sesuatu yang seiman memang enak, mudah dan tidak membuat kepala panas. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama terdiri 10 Bab berkisah tentang filosofi Charlotte Mason, bagian kedua lebih teknis mengenai kurikulum CM dan bagian ketiga sekilas komparasi perbandingan CM dengan metode metode lain seperti Uniet Studies, Unschooling, Classical Education, Montessori dan Waldorf.

Senin, 12 Maret 2012

Menggagas Finlandia

Eero Tapani Ropo dan istrinya Arja Ropo--tempointeraktif.com

Seorang teman menginformasikan, liputan tentang salah satu guru besar Universitas Tampere Finlandia Eero Ropo dan istrinya Arja Ropo di koran Tempo edisi 4 Maret 2012, (atau kalau mau menyimak selengkapnya ada disini http://koran.tempo.co/konten/2012/03/04/266747/Guru-Adalah-Cahaya-Penerang, tapi mesti register dulu kali ya), tentang Guru adalah Cahaya Penerang.

Seperti telah kita ketahui bersama, Finlandia merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia selama beberapa dekade dan konsisten dengan itu. Mereka juga "pencetak" juara-juara olimpiade dunia, dan anak-anak terbahagia di dunia.

Finlandia merombak total sistem pendidikannya sejak tahun 1970-an dan merevisinya setiap 10 tahun sekali, anggaran pendidikan mereka juga hanya 12% dari APBN, bandingkan kita yang 20%. Gaji guru juga biasa saja tidak spektakuler, tapi guru disana lebih dihargai dan dihormati sebagai profesi ketimbang pengacara.
Guru-guru di Finlandia adalah lulusan terbaik dari universitas terbaik,semua guru bergelar master. Saya pernah mencoba mencari informasi kemungkinan melanjutkan studi ke Finlandia, ternyata pendidikan disana gratis hingga S2. Hal ini saya buktikan ketika saya mencari Informasi tentang Universitas Tampere Faculty of Education, Tuition Feenya free hingga jenjang S2, bagi rakyat Finland. Mudah-mudahan saya nggak salah mengartikan ya..cek saja disini http://www.uta.fi/admissions/degreeprog/fees.html
Menurut Eero Ropo, "setiap warga Finlandia harus memiliki gelar master. Setiap guru akan terlibat dalam penelitian dan bertugas memikirkan penerapannya dalam kelas, mereka tahu apa yang terjadi di kelas, problem belajar siswa dan mencari pemecahannya"

Sabtu, 10 Maret 2012

MAN JADDA WAJADA!! ...Semangaatt!!..(^.^)/..


”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.  
kata indah ini yang diutarakan ustadz Salman ketika pertama kali masuk kelas,sembari membawa sebatang kayu dan parang yang berkarat dan tumpul. Ustadz Salman memukul-mukul kayu dengan parang tumpul, hingga akhirnya dengan berusaha bersungguh-sungguh kayu tersebut terbelah menjadi dua.

Ada juga yang menarik sebelum itu, yaitu ketika ayah alif menjual kerbaunya untuk sekolah alif, jual beli dilakukan tertutup sarung. Makna yang diungkapkan ke Alif adalah jalani dulu, apapun nanti yang terjadi pasti ada penyelesaiannya.
Hmm Alif ingin masuk SMA biasa dan kuliah di ITB Bandung, namun ibunya menginginkan Alif masuk Ponpes Madani untuk menjadi Orang besar yang menegakkan Islam dengan benar, "untuk umat"
Source : http://indonesiaproud.wordpress.com/

Kembali ke Ustadz Salman, seorang guru yang YAKIN bahwa bagaimana pun asal, karakter, kecerdasan atau apapun itu yang ada didalam diri murid-muridnya, asal mereka bersungguh-sungguh, maka mereka akan berhasil analogi kayu yang di pukul dengan parang tumpul dan akhirnya berhasil terbelah sangat pas dan mengena.

Saya sempat membaca tentang si pengarang Ahmad Fuadi disini http://indonesiaproud.wordpress.com/2010/05/17/ahmad-fuadi-penulis-negeri-5-menara-penerima-8-beasiswa/ 
Rasanya ikut tersenyum bahagia, ntahlah seperti ada aura dahsyat seorang guru yang dapat menginspirasi murid-muridnya TO DARE TO DREAM

Rabu, 29 Februari 2012

Sepenggal Proses Belajarku...\^.^/

Jika terasa sulit memahami guru "aneh" macam saya. Bisa dimulai dari tulisan Thomas Amstrong berikut ini :
source: http://kabod1.edublogs.org/
Syahdan di tengah-tengah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu; Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..
Source : http://lyakeyen.multiply.com/
Cerita sekolah hewan diatas tepat sekali dijadikan analogi sekolah-sekolah kita.
Sampai sekarang atau kapanpun saya masih terus mencari jembatan yang kokoh antara idealisme pendidikan dan belajar yang ada di kepala saya dengan sistem pendidikan Indonesia. Jadi ingat kata-kata Bahruddin "semua yang berhubungan dengan sistem pendidikan Indonesia merupakan tembok tebal dan tinggi, yang akan sulit ditembus"--tembok Berlin juga hancur, batu pun bisa terbelah, dan atau saya pun bisa terbang melewatinya

Cerita itu ditambah berbagai buku, opini yang saya baca dan sharekan membuat saya jadi guru "aneh" di sekolah.
Saya buat pembelajaran menyenangkan,  dari inovasi yang saya buat ada beberapa hingga memperoleh penghargaan,  belakangan saya menyadari apa yang saya lakukan ternyata belum pas mengusung konsep belajar, kemudian saya membuat ini. Inipun belum bisa menjadi jembatan untuk bidang studi yang saya ajarkan...dan terakhir saya buat agak ekstrem karena gak bakal keluar di Ujian Nasional dan pasti tidak akan didukung sekolah--sekarang yang lagi trend adalah drill soal UN...:(

Rabu, 22 Februari 2012

[KLIPING] Man Jadda Wajada - 23 Februari 2012

by Rhenald Kasali on Thursday, February 23, 2012 at 7:08am ·

Ustadz Salman memasuki ruang kelas. Ia membawa sebilah pedang yang sudah berkarat dan sebatang bambu. Senyum seorang guru menyeringai dari bibirnya yang terlihat bersahabat.

Di depan santri-santri baru yang datang dari berbagai pelosok Indonesia di sebuah pesantren besar di Ponorogo, ia berujar: “Man jadda wajada!” Kelak kata-kata itu identik dengan Alif,eh,Achmad Fuady, penulis buku Negeri 5 Menara yang kini menjadi inspirasi kaum muda Indonesia. Ustaz Salman menjajal pedang tumpul itu untuk memotong bambu.Berat! Sulit! Tapi ia berupaya terus kendati keringat mulai mengucur.Ruang kelas riuh oleh bunyi bambu yang dipancung paksa oleh pedang majal yang harus dibanting-banting berkali-kali ke lantai, sampai akhirnya bambu terpotong dan santri-santri polos terkesima. Ia berteriak, “Man jadda wajada! Sesuatu yang dilakukan bersungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan.”


Membebaskan Belenggu 

Adegan itu saya saksikan dalam pemutaran perdana film inspiratif Negeri 5 Menara yang diangkat dari novel Ahmad Fuadi itu pada hari Selasa (21/2) kemarin. Saya datang ke Gedung XXI-FX Plaza dengan guru-guru PAUD dan taman kanak-kanak asuhan istri saya di Rumah Perubahan. Bagi guru-guru yang biasa mengajar anak-anak kampung, film ini seperti sebuah pelepasan.

Bagi anak-anak kampung, menjelajahi menara-menara dunia adalah sebuah keniscayaan. Tak usah dari Danau Maninjau (tempat asal Alif) ke Ponorogo di Jawa Timur, dari Bekasi ke Monas saja, bagi sebagian anak-anak, adalah suatu keniscayaan. Selain saya, pemutaran perdana itu dihadiri para guru. Apa yang bisa dipelajari para guru dari film ini? Tentu saja setiap orang bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda- beda. Namun dari guru-guru yang ikut bersama saya didapatkan jawaban ini: “Bukan matematika atau sains, juga bukan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, melainkan rasa percaya dirilah yang membawa manusia menemukan menara-menara kehidupannya.

” Saya masih bingung, tetapi akhirnya mereka menjelaskan bahwa masalah terbesar yang dihadapi tunas-tunas bangsa adalah kuatnya belenggu “tidak bisa”dan belenggu “bukan hak saya” yang begitu kuat. Ini belum termasuk belenggu-belenggu karakter seperti mudah terprovokasi, pendendam, merasa benar sendiri, dan seterusnya. Anak-anak tukang ojek atau anak tukang bubur kacang hijau yang orang tuanya harus berkeliling kampung mengumpulkan seribu demi seribu rupiah dengan penuh kesulitan memiliki cara berpikir yang sama seperti burung-burung dara yang sayapnya dijahit supaya tidak bisa terbang jauh.

Dengan sayap-sayap yang terikat itu, mereka tak bisa terbang jauh mengelilingi dunia, apalagi membangun menara-menara bagi kehidupan mereka sendiri. Ustaz Salman membuka kelasnya bukan dengan dogma, teori atau rumus,melainkan dengan pedang tumpul dan berkarat serta sebatang bambu tua yang keras. Yang ia tanamkan adalah sebuah keyakinan positif, meretas belenggu-belenggu virtual yang ada di tiap kepala anak-anak.

Ya, itulah belenggu yang tumbuh menjadi keyakinan kolektif. Itulah masalah besar yang selama ini kita abaikan. Kita beranggapan seolaholah semua tidak ada. Atau bahkan kita berpandangan dengan rumus-rumus sains semua bisa dilupakan? Kalau kita mengabaikannya, kita hanya menciptakan benda-benda tak bergerak. Sama seperti sayap burung yang dijahit.

Selasa, 21 Februari 2012

Homeschooling dan Saya

Sebenarnya seperti pertanyaan sambil lalu, tapi saya jadi kepikiran
"Lea, tetep akan terus nih jadi guru?"
belum sempet jawab, karena saya punya cita-cita even saya nanti professor, saya tetep pingin ngajar anak-anak Madrasah Aliyah. Saya pernah menulis mengapa saya tetap bertahan walau sulit mensingkronkan antara idealisme pendidikan dan hati nurani dengan sistem pendidikan di Indonesia disini

____________________________

jengglong yg sebelah kiri ada di tengah sawah
Saya memang guru, namun 3 anak saya tidak sekolah, karena mereka tidak cocok dengan cara belajar di sekolah, si sulung minta sendiri keluar dari sekolahnya setelah 6 bulan merasakan belajar jadi anak kelas 1 SD, dan sepertinya adiknya yang 4 tahun juga sama, karena sudah terpola dengan suasana belajar di rumah.

Belajar disini, bukan duduk diam menyimak buku-buku pelajaran yang sesuai umur mereka, namun belajar apa saja, dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja sesuai dengan kebutuhan dan apa yang sedang mereka lakukan.

Misal, Raihan 10 th dan adiknya Rora 4 th mereka suka sekali main di Jenglong (mata air yang dijadikan tempat pemandian) yang letaknya di tengah sawah, mancing di kali, bikin bendungan, main di sawah, main petak umpet, dan masih banyak lagi. Lalu dimana belajarnya? disitulah mereka belajar tentang air, habitat air, ekosistem di sawah, bersosialisasi, belajar tentang Ikan, (setelah mancing, Ikan mereka bakar terus dimakan sama-sama), juga ketika menemukan banyak keong emas di sawah.

Bagaimana dengan matematika, mereka belajar langsung ketika saya minta tolong dibelikan gula pasir di warung, berapa uang dibawa, berapa harga gula berapa pula kembaliannya, ketika harga gula naik,mereka jadi belajar mengapa harga gula bisa naik, apa sebabnya?

Bagaimana dengan karakter?
karena belajar nya fleksible dan menggunakan resource apa saja yang ada di rumah termasuk kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai yang ada di keluarga saya, semuanya jadi include dalam pembelajaran anak-anak.
Character first, jadi lebih bisa tertanam karena mereka belajar di rumah
Seperti Raihan sejak usia 7 tahun dia sudah tidak perlu diingatkan lagi untuh sholat 5 waktu dan puasa ramadhan full, demikian juga rasa tanggungjawab yang terbangun, seperti membersihkan kamar tidur, menjaga adiknya, cuci piring setelah makan, buang sampah ditempatnya dan hal-hal kecil lainnya jadi lebih mudah ditanamkan


Di kuliah umum Institut Ibu Professional bertajuk 1001 cara mendidik anak di Rumah--
Ellen Kristi
Ellen Kristi (founder web Charlotte Mason Indonesia) mengungkapkan bahwa dalam mendidik anak di rumah, dibutuhkan cinta yang berpikir, maksudnya orang tua dituntut untuk merumuskan sendiri apa tujuan pendidikan bagi anak-anaknya, karena tujuan pendidikan ini penting untuk menentukan apa saja yang mesti dilakukan oleh sebuah keluarga. Yang terpenting kesadaran orang tua bahwa setiap anak itu unik dan memiliki potensi yang berbeda-beda. Disinilah intinya orang tua dan anak harus sama-sama belajar.

Bagi Mira Julia atau Lala (founder web Pelangi Nada) --keluarga adalah pusat tata surya, dan ibu adalah mataharinya sehingga seorang ibu HARUS bahagia, karena dari ibu yang bahagia inilah akan menciptakan suasana rumah yang menceriakan bagi anak anak dan keluarga.

Menurutl Lala, apa yang ada di rumah juga kesehariannya bisa dijadikan bahan belajar luar biasa, belajar dari apa saja yang ada di sekitar kita dengan semangat dan niat juga kekompakan antara suami dan istri. Salah satu contohnya bisa disimak disini

Lala
Mengendalikan emosi juga menjadi pembelajaran selanjutnya bagi orang tua, karena jika tidak, jangan-jangan saat menurut kita anak-anak "berisik", "berantakin", dan "nyebelin" itu adalah Aha moment mereka, klik mereka untuk keingintahuan yang maha dahsyat yang membawa mereka menjadi pembelajar sejati, yang akan menentukan arah hidup mereka selanjutnya.

Berikutnya masalah ibu bekerja dengan anak HS, seperti Wiwiet Mardiati, pertimbangan HS nya simpel, dia tidak mau diatur dalam pendidikan anaknya, tapi dia maunya sebagai subyek yang menentukan bagaimana anaknya dididik--menurut saya, memang fitrahnya ibu atau orang tua adalah guru yang paling baik bagi anak-anaknya--
Untuk mengatur kebersamaan dengan Atala putranya yang HS, tips yang diberikan wiwiet adalah mengajak dan melibatkan Atala (7th) dalam pekerjaan Wiwiet sebagai dosen. Selain menumbuhkan kebersamaan, juga pengalaman terlibat dengan orang yang lebih dewasa di sekitar ibunya, inilah inti sosialisasi yang tidak didapatkan di sekolah.

Kamis, 16 Februari 2012

[KLIPING] Sekolah 5 Senti - Jawapos 30 Januari 2012

Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaian ala Mao. Di China, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy  saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak celahnya dan di isi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa.

Perhatian saya tertuju pada jas hitam, baju putih, janggut panjang dan topi kulit berwarna hitam yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Menurut Dr. Stephen Carr Leon yang pernah tinggal di Yerusalem, saat istri mereka mengandung, para suami akan lebih sering berada di rumah mengajari istri rumus-rumus matematika atau bermain musik. Mereka ingin anak-anak mereka secerdas Albert Einstein, atau sehebat Violis terkenal Itzhak Perlman.  

Saya kira bukan hanya orang Yahudi yang ingin anak-anaknya menjadi orang pintar. Di Amerika Serikat, saya juga melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar bisa menyekolahkan anaknya. Di Bekasi, saya pernah bertemu dengan orang Batak yang membuka usaha tambal ban di pinggir jalan. Dan begitu saya intip rumahnya, di dalam biliknya yang terbuat dari bambu dan gedek saya melihat seorang anak usia SD sedang belajar sambil minum susu di depan lampu templok yang terterpa angin.Tapi tahukah anda, orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti?

Dari Atas atau Bawah ? Sekolah 5 senti dimulai dari kepala di bagian atas. Supaya fokus, maka saat bersekolah, tangan harus dilipat, duduk tenang dan mendengarkan. Setelah itu, apa yang di pelajari di bangku sekolah diulang dirumah, di tata satu persatu seperti melakukan filing, supaya tersimpan teratur di otak. Orang-orang yang sekolahnya 5 senti mengutamakan raport dan transkrip nilai. Itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya. Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5 sentimeter ke bawah.

Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti, hingga ke lutut. Kata Bob Sadino, ini cara goblok. Enggak usah mikir, jalan aja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas. Cuma, mulai dari atas atau dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal. Tergantung berhentinya sampai dimana.

Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bisa ngomong, menulis, apalagi memberi contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai dengkul saja, seperti menjadi pengayuh becak. Keduanya sama-sama berat menjalani hidup, kendati yang pertama dulu bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4.0. Supaya bisa menjadi manusia unggul, para imigran Arab, Yahudi, China, dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka tidak sekolah hanya 5 senti tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. Pintar itu bukan hanya untuk berpikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki dan mulut sama-sama di sekolahkan, dan sama-sama harus bekerja. Sekarang saya jadi mengerti mengapa orang-orang Yahudi Mengirim anak-anaknya ke sekolah musik, atau mengapa anak-anak orang Tionghoa di tugaskan menjaga toko, melayani pembeli selepas sekolah.

Rabu, 15 Februari 2012

[KLIPING] Growth Mindset by. Rhenald Kasali

pic.source: http://padangekspres.co.id/up/nberita/
Saya sering dibilang gila dan dimarahi anak-anak (baca: murid-murid) saya, kalau saya bilang Ijazah gak penting, angka gak penting dan gak lulus UN?..so what gitu loh...
Simak paparan Rhenald Kasali tentang Growth Mindset ini...
____________________________________________________

Hari Sabtu kemarin, sekitar seribu orang mengikuti yudisium di FEUI. Mereka terdiri dari lulusan S1, S2, dan S3. Diantaranya ada 40 anak didik saya di MMUI yang lulus dengan prestasi cum-laude, dan dua diantaranya lulus dengan IPK sempurna (4.0). Bahkan salah satu yang lulus dengan IPK sempurna itu (keduanya perempuan), berusia paling muda (21,5 tahun).

Tetapi sepulang dari acara yudisium saya menerima sebuah release terbaru yang dikeluarkan oleh FBI tentang latar belakang dan perilaku orang-orang terkenal. Salah satunya siapa lagi kalau bukan almarhum Steve Jobs. Laporan mengenai Steve Jobs terbaca jelas, ditulis oleh analis yang terkesan tidak senang terhadap almarhum (wajar karena menurut orang dalam Apple, petugas FBI yang ditugaskan melakukan wawancara, dibuat Jobs harus menunggu selama 3 jam sebelum diterima). Namun demikian, penulisnya mencoba memberikan data-data objektif sehingga terkesan Jobs bukan seorang yang cerdas.

“Meski terkenal, ia ternyata hanya punya indeks prestasi kumulatif 2,65 pada saat duduk di tingkat SLTA”, ujar laporan itu. Angka ini jelas objektif dan bukan diambil dari pikiran penulis. Kalau Anda membaca report ini jauh sebelum Jobs dikenal, mungkin Anda termasuk orang yang menilai orang ini tidak cerdas. Tetapi karena kita membacanya sekarang, paling Anda mengatakan apa urusannya IPK dengan karya yang telah dibangun seseorang. Bukankah impak jauh lebih penting daripada paper dan IPK?

Seperti yang pernah saya tulis pada kolom di Jawa Pos setahun yang lalu, manusia memiliki dua jenis mindset, yaitu growth mindset dan fixed mindset. Orang-orang yang memiliki settingan pikiran tetap (fixed mindset) cenderung sangat mementingkan ijazah dan gelar sekolah, sedangkan mereka yang tumbuh (growth mindset) tetap menganggap dirinya "bodoh". Baginya ijazah dan IPK hanya merupakan langkah kemarin, sedangkan masa depan adalah soal impak: apa yang bisa Anda diberikan atau dilahirkan. Maka kepada mereka yang pernah belajar dengan saya selalu saya tegaskan, pintar itu bagus, tetapi impak jauh lebih penting. Celakanya universitas banyak dikuasai orang-orang yang bermental ijazah dan asal sekolah sehingga mereka terkurung dalam penjara yang mereka set sendiri, yaitu fixed mindset. Bagi mereka impak itu sama dengan paper, atau kertas karya, terlepas dari apakah bisa dijalankan atau tidak.

Sabtu, 11 Februari 2012

Saya, Manusia Biasa... ^.^

April nanti Ujian Nasional digelar, semua sekolah menengah atas seantero Indonesia melakukan banyak hal untuk kelulusan siswa di sekolahnya.
Termasuk di sekolah saya, anak-anak berangkat pagi seperti biasa belajar di sekolah dari jam 7 - 14.15, kemudian dilanjut jam 14.30 - 15.30 setiap hari Senin sampai Sabtu tanpa henti. Bahkan ketika mereka harus melaksanakan Tryout jam 6.45 - 10.30, setelahnya pelajaran seperti biasa dan sore tetap wajib ikut tambahan pelajaran.
Kondisi diatas sudah berlangsung 1,5 bulan ini. Kelelahan, pikir dan badan, belum kalau pulang sore hujan, juga jarak sekolah dan rumah yang jauh membuat mereka saat dikelas mengantuk dan bosan.

Sebelum semua ini mereka lakukan ketika awal masuk kelas XII saya sudah mengajukan pilihan kepada mereka, saya sudah menceritakan apa saja yang akan mereka hadapi di kelas XII ini--Mereka semua mengatakan mereka siap!!..

Beberapa minggu ini banyak keluhan dan protes dari mereka, pelajaran yang padat, buku-buku yang tidak memadai, badan capek semua. Belum keluhan dari guru-guru lain tentang sikap beberapa anak-anak saya yang seenaknya kalau di kelas, tidur, main hp, tidak mau mengerjakan tugas, ngobrol, bolos dan melawan mereka.

Saya sebagai wali kelas mereka, merasakan kondisi ini sangat-sangat sangat tidak nyaman.
Saya semangati mereka setiap saat, saya bangunkan tahajud di tengah malam, saya berikan film-film pembangkit motivasi, saya ceritakan bagaimana menjadi seorang yang tangguh dan tahan banting, karena hidup ini keras, saya minta mereka menarasikan beberapa buku tentang perjuangan orang-orang sebelum mereka mendulang kesuksesan.

Saya buat kelompok tutorial yang baru, sehingga mereka bisa belajar bersama dengan baik, saling mengisi, saling berbagi terutama mengenai hal-hal yang tidak dipahami.

Perkembangannya memang naik turun, baik sikap dan perilaku mereka tapi juga angka-angka mereka--tapi banyakan turunnya apa lagi seminggu terakhir ini, anak-anak, saya lihat tambah seenaknya sering tidak ada di kelas, bahkan ada satu pagi 6 anak terlambat masuk kelas, juga sering ketika pelajaran mereka nongkrong di kantin tidak mau mengikuti pelajaran.

Laporan-laporan tentang anak-anak saya berdatangan lagi, bahkan ada 3 anak dimarah di depan banyak guru--hal hal semacam ini sangat menyakitkan buat saya. (maksudnya rasanya nggak adil buat anak-anak saya untuk dimarah dan diintimidasi semacam itu)

HIDUP MEMANG SERING TERASA BERAT DAN TIDAK ADIL, BUT YOU HAVE TO FACE IT and FIGHT FOR IT!!

Kemarin tengah malam, di saat saya membangunkan mereka untuk tahajud sms saya berbunyi :
TERNYATA..Do'a yang kupanjatkan, semangat yang kugaungkan, kasih sayang yang kucurahkan, perhatian yang kuberikan--dibalas anak-anakku dengan malas-malasan, lebay dan banyak alasan!! Ya Allah inikah ujian keikhlasanku untuk membuat mereka mengenal diri mereka, menjadi manusia tangguh, pantang menyerah dan bahagia??

Kamis, 26 Januari 2012

Air Mata Rahasia - Anna Farida

Pertama saya tertarik membaca buku ini karena tidak beda jauh dengan keadaan saya saat ini....*nggak bermaksud curcol

Anna Farida mengisahkan Ibu Dewi Trenggono sebagai wanita yang tangguh dengan sangat "enak"--gaya bahasa tulisannya mengalir, mudah dipahami dan bagus. Tulisan dalam buku ini tidak menggurui tapi cukup mengena, ada juga tambahan semacam catatan yang berisi puisi, ayat Al Qur'an juga do'a-do'a. yang sesuai dengan keadaan ibu Dewi dalam cerita itu

Dikisahkan bahwa pengusaha sukses sekaliber Heppy Trenggono  pernah mengalami pailit, terlilit hutang hingga 62 miliar, yang pada akhirnya bisa kembali normal dalam empat tahun dan membukukan aset tak kurang dari 4 Triliun. Apa pasal?
Ada seseorang yang bisa menyelesaikan permasalahan keuangan perusahaan tersebut, seseorang yang belum pernah belajar formal, mengenai keuangan dan pembukuan, seseorang itu adalah Dewi Trenggono yang tak lain istrinya sendiri.

Sabtu, 21 Januari 2012

Charlotte Mason di Kelasku - 2

Charlotte Mason Method
A method of education popular with homeschoolers in which children are taught as whole persons through a wide range of interesting living books, firsthand experiences, and good habits.the Charlotte Mason method, is centered around the idea that education is three-pronged: Education is an Atmosphere, a Discipline, a Life.
http://simplycharlottemason.com/basics/what-is-the-charlotte-mason-method/
Charlotte Mason sendiri adalah seorang guru di Inggris yang hidup di tahun 1800 an hingga 1900 an
Namun metodenya banyak digunakan oleh para homeschooler karena dirasa lebih mudah diterapkan di lingkukan HSer daripada di sekolah.

Menurut saya sayang sekali jika metode ini tidak bisa dinikmati oleh anak-anak sekolah--
Tujuan utama pendidikan adalah pembangunan karakter yang luhur dalam diri anak. "Bakat, IQ, kejeniusan, banyak terkait faktor genetik; namun karakter adalah prestasi, suatu pencapaian nyata yang terbuka kemungkinannya bagi siapa saja, baik bagi kita orang dewasa maupun bagi anak-anak kita; dan kehebatan sejati dalam sebuah keluarga atau seorang individu dinilai dari karakternya. Orang-orang besar kita anggap besar semata-mata karena kekuatan karakter mereka." (Charlotte Mason, vol. 2 p. 72)
http://www.cmindonesia.com/1/post/2011/11/10-karakteristik-pendidikan-charlotte-mason.html


Belakangan ini pendidikan karakter mulai digaungkan, bahkan lesson plan atau RPP yang dibuat oleh guru harus menyertakan instrumen-instrumen karakter yang akan dicapai. Namun menurut saya itu tidak cukup, pada kenyataannya TETAP guru masih saja mengejar target kurikulum dan ANGKA raport, dan masih saja mengesampingkan perasaan anak-anak alih-alih membangun karakter mereka.

pernyataan tentang CM yang menguatkan metodenya adalah
The only means a teacher may use to educate children are the child's natural environment, the training of good habits and exposure to living ideas and concepts. This is what CM's motto "Education is an atmosphere, a discipline, a life" means.

If we can't use suggestion, affection or influence to motivate children to learn, what can we use? Three things--atmosphere, discipline and life. That may sound limiting, but those three things are more vast than we suppose!
http://www.design-your-homeschool.com/Charlotte_Mason_Your_Design.html


Saya masih belajar mengenai metode ini, banyak trial error dalam pembelajaran, namun untuk menyajikan sebuah lingkungan belajar dan menumbuhkan kebiasaan yang baik, saya mulai berpikir dan mencoba menggunakan metode Charlotte Mason ini, yang sampai sekarang masih digunakan di sekolah-sekolah Ambleside di seluruh dunia.
Berikut adalah yang saya coba lakukan di kelas beberapa waktu lalu :
Saya mencoba menggabungkan materi di kelas XII, Manajemen, Kewirausahaan dan Koperasi  (yang seharusnya diajarkan dalam waktu satu bulan ini, karena februari dan maret waktunya drill soal untuk Ujian Nasional. Beberapa guru lain bahkan sudah memulainya awal semester ini )

Selasa, 17 Januari 2012

Charlotte Mason di Kelasku - 1

charlottemasoncollege.freeservers.com
Menggabungkan apa yang sudah ada di kepala tentang pembelajaran di kelas dan pendidikan karakter anak bangsa ini dengan kurikulum sesuai Standar Isi yang telah ditetapkan Pemerintah memang bukan hal yang gampang.

Banyak keluhan yang saya baca baik di milis guru maupun di grup guru, mengenai pertentangan antara nilai akademik dengan soul atau Jiwa dari mata pelajaran yang diampu. Ada lagi kendala tentang banyaknya jumlah mata pelajaran dan materi yang harus tersampaikan, juga target Ujian Nasional yang harus dicapai.

Saya ingat beberapa postingan Ellen Kristi mengenai metode Charlote Mason. salah satu metode charlote mason adalah konsepnya tentang habit training sebagai teknik praktis pendidikan karakter. Education is a discipline, kata Charlotte. Disiplin itu berarti orangtua secara terencana dan sistematis melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik ke dalam hidup sehari-hari anak. Seorang anak yang telah terbiasa memikirkan perkara-perkara mulia dan luhur, sampai kebiasaan itu terbentuk sebagai karakternya, akan lebih sulit mengubah dirinya menjadi pribadi yang suka berpikir jahat. Charlotte mengumpamakan habit training ini seperti proses memasang rel-rel kereta api. Sudahkah orangtua secara serius memikirkan jalur mana yang musti ditempuh anak agar gerbong-gerbong kehidupannya bisa sampai ke stasiun tujuan? Maka ke sanalah sepatutnya mereka secara konsisten memasang lintasan-lintasan yang nyaman untuk dilewati agar “si pelancong kecil bisa melaju dengan kecepatan penuh”. Yang tak kalah penting adalah prinsip Education is an atmosphere, anak menyerap pengaruh lingkungan sama seperti ia menghirup udara untuk bernafas, maka orangtua dan guru musti bertindak selaras dengan perannya sebagai pemberi inspirasi bagi anak-anak. Seperti kata Naomi Aldort, raising children is raising ourselves, mendidik anak-anak pada hakikatnya adalah mendidik diri sendiri. (source : http://www.cmindonesia.com/1/post/2011/11/10-karakteristik-pendidikan-charlotte-mason.html)

Charlote Mason adalah seorang guru inspiratif buat saya, membaca ringkasan-ringkasan Ellen Kristi di Group CM membuat saya menyadari betapa pentingnya menumbuhkan kesukaan belajar pada anak-anak saya (baca: murid-murid) secara alami, berikut beberapa ringkasan itu :



Menyalahgunakan salah satu dari hasrat alami anak lebih dari porsi yang semestinya berisiko melumpuhkan hasrat akan pengetahuan, yang harus menjadi motivasi utama dari proses belajar. Sistem peringkat, nilai, dan sejenisnya membuat anak hanya mau belajar jika ada hadiah atau hukuman (reward and punishment). Para siswa cuma tergerak untuk membaca kalau diberitahu bahwa bahan bacaan itu akan keluar waktu ujian. Pikiran mereka dangkal dan pasif, menunggu guru mengunyahkan pelajaran bagi mereka. Guru terpaksa harus bekerja keras menyajikan pelajaran yang menghibur supaya mereka mau tetap memperhatikan. Nanti setelah lulus sekolah, mereka cenderung menjadi pekerja tanpa motivasi, sekedar melewati hari demi hari dalam pekerjaan yang sebetulnya tidak memuaskan batin mereka. Mereka orang-orang yang penurut dan baik hati, tapi tanpa kebesaran karakter; mereka tak punya dan tak berani mengejar cita-cita yang lebih mulia. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 80-93 (10) 

[Mempermainkan Hasrat Alamiah] Sekolah dan guru acap memupuk hasrat yang salah dalam diri anak demi mencapai target dan tujuan mereka, khususnya hasrat untuk menonjol, bersaing, dan memperoleh pujian. Hasrat alamiah ini dimanfaatkan habis-habisan supaya anak mau bekerja lebih keras. Ketika siswa-siswa itu mencetak nilai tinggi atau menjadi juara di berbagai perlombaan, nama sekolah makin harum, makin banyak orangtua yang tertarik untuk mendaftarkan anaknya ke sana, tapi semua itu harus dibayar dengan padamnya hasrat alami anak untuk belajar. Semua ini berujung pada “pemelaratan kepribadian” ketika selera intelektual anak menjadi sempit, sebab ia tidak lagi mengejar pengetahuan semata-mata karena ia cinta belajar, melainkan tujuan-tujuan pragmatis yang lebih rendah. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 80-93 (6) 

Senin, 16 Januari 2012

[KLIPING] Guru Amateur vs Guru Professional

Apa yang ada di benak kita bila mendengar kata Amateur? Pasti sesuatu yang tidak professional, kualitas rendah, dikerjakan oleh mereka yg tidak kompeten dstnya, bahkan dikesankan sebagai sesuatu yang tidak Ihsan alias dikerjakan tanpa metode dan teknik yang benar.

Dalam arena olahraga juga demikian, secara "common sense", amateur pasti sesuatu yg identik dengan pemula, "amatiran", jam terbang bertanding yang sedikit, bahkan secara komersial, adalah sesuatu yg tidak layak untuk "dijual" dan "ditonton".

Inilah kaprah yang salah. Padahal para olahragawan yang mengharumkan nama bangsa dengan kecintaan dan perjuangan yg luar biasa di pertandingan non-professional adalah para Amateur. Jadi Amateur tidak identik dengan sesuatu yg tidak berkualitas.

Bicara soal ini pada guru konservatif, tentu saja memang susah dimengerti, "Lho kalau gurunya amatir, gak profesional terus nanti siswa-siswanya gimana?"

Amatir (amateur) sederhananya dari kata “Amor” yang artinya cinta, kalau aktivitas kerja didasarkan pada Amatirisme maka ia didasarkan pada kecintaan, ketulusan dan pengabdian. Dengan demikian kerja Amateur adalah kerja yang dilandasi keikhlasan, kecintaan dan kualitas yang tinggi.

Sedangkan “Professional” adalah kata sifat dari “profesi” yang artinya secara ringkas adalah “pekerjaan” (kalau dikaji dari akar katanya, “profession” dari kata “profess” yang artinya “menunjukkan pada publik”), jadi: professional adalah bersifat pekerjaan. Pekerjaan itu apa? Pekerjaan adalah aktivitas yang tujuannya untuk menghasilkan produk atau mencapai tujuan tertentu, dan dari aktivitas itulah seseorang yang melakukannya mendapatkan bayaran. Dengan demikian, kerja professional adalah kerja untuk mendapatkan untung profit (profitable)bukan profesionalisme yang didasarkan pada spesialisasi kerja dan hasrat memperoleh profit.

Dalam perspektif ini, profesionalisme itu tidak ada kaitannya dengan kualitas guru yang baik, ini berbeda bab dan berbeda bahasan, tapi memang kita yang merunduk pada the dominant culture akhirnya sekadar merunduk pada "common sense" itu dan menganggap sama antara profesionalisme dan kualitas yang bagus. Entah darimana common sense ini muncul, bisa jadi karena kualitas dikaitkan dengan uang, jadi para professional pencari uang tanpa sadar diidentikkan dengan kualitas.

Jadi kalau untuk menaikkan kualitas guru, maka inisiatif program Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) dengan sertifikasi adalah sesuatu yang tidak relevan dengan kualitas. Pertanyaan bahwa peningkatan mutu/kualitas guru lewat sertifikasi (lewat portofolio & PLPG) yang telah berjalan saat ini, apakah cukup efektif sebagai alat peningkatan profesionalisme guru, adalah ambigu.

Namun pertanyaan besarnya adalah: apakah cukup guru menjadi professional? Tepat atau tidakkah guru menjadi professional? Kalau Anda menjawab “iya”, maka Anda berada pada posisi yang bersebarangan dengan saya yang mengatakan “tidak”.
Mengapa? Karena bagi saya yang lebih penting dari profesionalitas dan profesionalisme adalah kualitas guru itu sendiri, kualitas tentu di sini dalam arti kualitas yang bagus berupa penguasaan pengetahuan, pemahaman dan pengamalan nilai, konstruksi kultural yang ia bawa dan sejenisnya. Kualitas tidak ada hubungannya dengan professional, itu sekali lagi sudah beda bahasan.

Senin, 09 Januari 2012

Menulis adalah bekerja untuk keabadian \(^.^)/...

Pram...
Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak terpisahkan, seperti kutipan Pram
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer--
Menulis karangan adalah hal yang paling saya benci di sekolah, karangan saya selalu dinilai jelek, tidak menuruti kaidah bahasa Indonesia yang benar, tidak berurutan SPOK nya--
Demikian juga membaca, saya sudah bisa membaca saat masuk SD, dan saya sangat bangga akan hal itu--setiap pelajaran menyimak-- saya sangat ingin diberi kesempatan untuk membaca cerita juga, sampai-sampai buku yang dibaca saya berdirikan dan covernya saya tutup dengan komik, supaya guru mengira saya tidak menyimak dan akan diberi kesempatan untuk membaca, tapi usaha saya ini Gatot, Gagal Total--saya tidak pernah diberi kesempatan untuk membacakan cerita ke teman-teman..:(

Enyd Blyton..:)
Pengalaman buruk ini tidak bisa menyurutkan kesukaan saya membaca, kebetulan orang tua saya juga mendukung, ada Bobo, ada Ananda, ada komik-komik seperti Asterix, Tintin--yang boleh saya baca kapan saja--kesukaan ini kemudian berkembang saat SMP hingga kuliah, saya suka buku-buku Enyd Blyton, Agatha Christie, Novel-novel Mira W, Shidney Sheldon, dan selanjutnya saya baca apa saja seperti Stephenie Meyer, JK Rowling, Dan Brown, Pram, Tetsuko Kuroyanagi,Tere liye kemudian buku-buku yang agak serius seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Roem Topatimasang, Andrias Harefa, Hernowo Hasim dan masih banyak lagi

dari membaca berbagai buku itu saya jadi mengenal gaya bahasa dan soul dari setiap tulisan, soalnya saya juga baca novel habiburrahman, yang terasa jomplang sekali dengan novel andrea hirata, walau sama-sama best seller, demikian juga buku-buku dengan bahasa terjemahan yang tidak bagus

Minggu, 01 Januari 2012

[KLIPING] Kuliah Gratis di Universitas Mancanegara

By. Ines Puspita
source : http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/31/kuliah-gratis-di-universitas-mancanegara

Pernahkah kita membayangkan bisa kuliah dengan gratis atau biaya sangat minim tanpa beasiswa? Banyak dari kita merasa ini hanya mimpi kosong di tengah semakin maraknya komersialisasi pendidikan dan semakin melambungnya biaya kuliah akibat pernah diberlakukannya UU Badan Hukum Pendidikan. Meskipun UU BHP ini sudah dicabut saat ini, biaya belajar di perguruan tinggi sudah terlanjur mahal dan menciptakan lebih dalam lagi jurang kesenjangan dan diskriminasi belajar. Apa yang bisa dilakukan apabila semua universitas di Indonesia menutup pintu karena kita memiliki keterbatasan dana dan hambatan birokratis untuk bisa kuliah di Indonesia?

Banyak jalan yang bisa kita lakukan untuk mengenyam pendidikan tinggi meskipun memiliki berbagai keterbatasan. Jalan tersebut bisa disesuaikan dengan tujuan kenapa kita ingin mengenyam pendidikan tinggi. Apakah tujuan kita masuk universitas untuk menuntut ilmu yang kita minati setinggi-tingginya? Untuk modal mencari kerja? Untuk bisa berhubungan dan berjejaring dengan para akademisi di kampus?
Apapun tujuan kita berpendidikan tinggi, akses untuk mendapatkan pendidikan tersebut secara terjangkau bisa didapat lewat teknologi. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat dalam 1 dekade terakhir telah memungkinkan seseorang belajar dari jarak jauh sebaik belajar di kelas tatap muka. Inovasi-inovasi teknologi tersebutlah yang kemudian mendorong banyak universitas membuat Open Course Ware (OCW), yaitu sistem yang memungkinkan dibagikannya secara gratis materi kuliah yang dibuat oleh berbagai universitas via internet. Gerakan ini dimulai tahun 1999 oleh University of Tübingen di Jerman dan kemudian diikuti oleh puluhan universitas di 46 negara (data Open Course Ware Consortium tahun 2011).

Berbagai universitas telah membuka akses perkuliahan mereka. Sebut saja Tokyo Institute of Technology di Jepang, Taipe Medical School di Taiwan, University of Notre Dame di Belanda, King Khalid University di Saudi Arabia, Yale di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Mata kuliah yang ditawarkan di setiap universitas jumlahnya beragam dari puluhan hingga ribuan mata kuliah, dari mata kuliah yang umum dipelajari di universitas-universitas di Indonesia sampai yang tidak ada di Indonesia seperti mata kuliah Satellite engineering, Computer Games and Simulations, Lego Robotics, Digital Anthropology, 20th Century Art, The Ancient City, Reading Poetry, dan lain-lain.

Jumat, 23 Desember 2011

[KLIPING] Guru Inspiratif

 Contributed by Rhenald Kasali
http://home.messiah.edu/~cd1209/
Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers" Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Rabu, 21 Desember 2011

[KLIPING] Menyingkap Agenda Tersembunyi Dibalik Sekolah

by Yudi Arianto on Wednesday, December 21, 2011 at 7:52pm

gnosticmedia.com
Apakah sekolah anak Anda mendorong ia mampu mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan apa yang menurutnya benar ataukah mereka diajari untuk patuh dan didikte apa-apa yang boleh ia pikirkan?

Adalah John Taylor Gatto, seorang penulis, pembicara, dan pendidik terkenal, yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru terbaik di Amerika, menjadi tidak yakin dengan sistem pendidikan yang selama ini sudah kokoh diyakini oleh masyarakat. Dia dengan terbuka mengaku bahwa dia sukses sebagai guru karena mendobrak semua aturan baku.

Gatto kemudian meninggalkan dunia pendidikan tradisional dan mulai meneliti sejarah sistem persekolahan. Dia menemukan bahwa sistem wajib belajar (compulsory school system)  sebenarnya dirancang untuk mengajarkan sifat kekanak-kanakan dengan menciptakan ketergantungan terhadap otoritas di luar dirinya.

Umumnya, kita para orang tua cenderung percaya bahwa sekolah ada untuk membantu anak-anak kita meraih kemampuan intelektual tertingginya. Tetapi Gatto mengungkapkan adanya kepentingan dari industrialis (yang membiayai sekolah-sekolah) untuk “memunculkan suatu bangsa” dimana ada buruh dan konsumen yang akan bertindak sesuai dengan apa yang dimaui oleh industrialis.

Gatto percaya bahwa “genius is as common as dirt”. Sebagai seorang penganjur unschooling, dia berkata bahwa anak-anak akan belajar dalam bentuknya yang terbaik jika mereka dilibatkan secara penuh dalam masyarakat. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika mereka diberi suatu tanggung jawab. Sebagai orang tua dan orang dewasa tugas kita adalah mendukung mereka dengan cara menyingkirkan segala penghalang dan membantu mereka untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul.

Gatto mengatakan bahwa sistem sekolah makin lama semakin tidak relevan dengan tantangan yang ada. Tidak seorangpun percaya bahwa ilmuwan dilatih dalam kelas sains atau politikus dimunculkan lewat kelas ketatanegaraan atau penulis puisi dalam kelas bahasa. Kenyataannya adalah bahwa sekolah-sekolah tidak benar-benar mengajarkan apapun kecuali bagaimana caranya untuk mematuhi peraturan.(###)

source : http://www.facebook.com/notes/yudi-arianto/menyingkap-agenda-tersembunyi-dibalik-sekolah/10150449603774620

e-book John Taylor Gatto tentang Underground History American Education dapat disimak di sini http://www.johntaylorgatto.com/chapters/