Thanks to visit..(^.^)/..

Minggu, 29 April 2012

60 Guru Hebat

Berangkat dari sekolah jam 8.30 WIB, karena undangan dari panitia, saya harus tiba di Semarang jam 10.00, Setibanya disana, dapat informasi bahwa peserta mencapai 60 orang, terbanyak guru-guru dari PAUD dan TK, kemudian beberapa dari SMP dan SMK.

Sebenarnya ada rasa, deg deg an, was was, takut salah, tapi saat ingat bahwa saya punya misi untuk merubah paradigma para guru tentang pendidikan dan belajar, rasa itu hilang dengan sendirinya, mudah-mudahan gak jadi kepedean ya...*inget pernah ada profesor kritik saya setelah presentasi di kelasnya..:(

Presentasi saya mulai dengan memberikan gambaran kondisi murid murid saya di kelas, ada yang tidur, ada yang melamun, ada yang nggak mau ngapa ngapain, saya ingin menunjukkan bahwa kita semua memang menghadapi hal yang sama, anak malas-malasan sekolah dan malas belajar, ketika saya tanya kepada peserta mengapa demikian, jawaban mereka beragam, ada yang karena belajarnya membosankan, terus gurunya membosankan, capek dan masih banyak lagi, yang pada intinya membuat saya berkesimpulan bahwa peserta disini ternyata memang menyadari ini.....Alhamdulillah

Selanjutnya saya cerita bahwa sebelum tahun 2005 saya guru paling kejam sedunia, suka nyakitin murid, maunya diperhatikan dan yang terpenting apa yang saya lakukan tidak ada dasar teori yang jelas, asal aja ngikut cara guru-guru saya, dulu waktu sekolah. Titik baliknya saat saya menyadari bahwa nilai anak anak tidak meningkat, perilaku mereka sama saja, dan mereka tetep saja tidak mau belajar. Kemudian seorang teman mengatakan bahwa apa yang saya lakukan salah, dan dia menyarankan saya untuk membaca berbagai buku, dari situ cara pandang saya tentang pendidikan dan belajar mulai berubah.

Saya mulai dari tujuan pendidikan yang harus jelas, karena kita guru yang berada di sistem maka saya memakai acuan tujuan pendidikan nasional UU No. 20 tahun 2003 pasal 1. yang menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Saya katakan saya merasa ada yang kurang dari tujuan pendidikan ini, mestinya ditambah memelihara hasrat alami belajar setiap murid.

Kemudian tentang konsep belajar, belajar itu apa saja, sesuai hasrat belajar anak-anak, kebutuhan mereka, keingintahuan mereka tentang suatu pengetahuan, tidak perlu dibatasi penuhi saja. Belajar itu dimana saja, di rumah, di sawah, di apotik, pemberhentian bis, di sekolah, ketika duduk-duduk diteras, dimana saja, belajar bukan hanya duduk manis di bangku, tapi bisa dimana saja. Belajar itu dengan siapa saja, pernah baca Toto Chan?, di buku itu ada sesi ketika toto bersama teman-temannya diajak jalan-jalan ke kebun kemudian belajar berkebun menanam tanaman dari pak Tani, belajar bisa dengan siapa saja, tidak hanya dengan guru. Belajar itu kapan saja, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Belajar harus bisa mengubah diri seseorang menjadi lebih baik, dan yang terpenting ketika hasrat belajar sudah terpenuhi maka dia akan menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena belajar itu dari buaian hingga liang lahat.

Apa itu Guru Hebat, guru hebat adalah guru yang mau belajar, memiliki pikiran terbuka atau open mind, mau berubah, guru yang mampu meyakinkan muridnya bahwa dia murid hebat, guru yang mampu melejitkan potensi yang sudah ada di dalam diri murid-muridnya, guru yang mampu memenuhi hasrat belajar murid-muridnya dan guru yang dapat menginspirasi.

Apa itu Murid Dahsyat, murid dahsyat, apakah hanya prestasi saja? nilai spektakuler di raport? juara olimipade dimana-mana? lulus terbaik ujian nasional? NO murid dahsyat adalah murid yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, yang tahu siapa dirinya dan tahu betul apa yang diinginkannya, tahu betul minatnya. Mengenai karakter yang kuat saya ceritakan kisah murid saya Suci Nurani yang berani berkata tidak saat diminta memberikan contekan kepada teman-temannya di ujian nasional, bahkan beberapa minggu sebelum ujian nasional dia menghimbau teman-temannya dengan menulis note di FaceBook, bahwa Solidaritas itu Jujur Tidak Curang, yang membuat saya haru adalah saat ujian nasional Suci dan beberapa teman yang memegang prinsip ini menjadi bulan-bulanan teman-temannya, dicibir, dijauhi dan diintimidasi, walau demikian mereka tetap teguh untuk tidak curang saat ujian nasional. Saya tahu betul bagaimana rasanya, sangat berat.
Jika anak-anak ini terus bertambah mantap memegang prinsip ini kelak saat mereka dewasa, mereka akan menjadi pribadi yang berani berkata tidak untuk hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani.

Senin, 23 April 2012

Ceritaku tentang 12 Guru Hebat...^.^

Walau terlambat, memperoleh dan membaca buku ini, namun kisah-kisah 12 guru hebat yang disajikan dalam buku ini sungguh membuat saya semakin mantap melangkah.

Buku dengan judul Apa yang berbeda dari Guru Hebat karya Eko Prasetyo (editor Jawa Pos) dan Muhammad Ihsan (sekjen Ikatan Guru Indonesia), mengisahkan secara ringan dan lugas 12 guru hebat yang seringnya justru dibilang guru aneh dan kurang kerjaan (pengalaman pribadi...*halah)

Adalah Setyo Purnomo atau pak Pur (temen nih), yang kuliah saja tidak lulus, hanya gara-gara pak Pur memegang teguh idealisme kejujurannya saat penyusunan skripsi. Pak Pur sempat kuliah di Fak Perta UGM, saat penelitian, tanaman yang ditelitinya dipanen oleh petani pemilik tanah, padahal sebelumnya ada perjanjian antara keduanya bahwa tanaman tersebut tidak dipanen sebelum penelitian pak Pur selesai, namun sepertnya si petani lupa. Sebenarnya kalau mau, Pak Pur bisa saja memalsukan data penelitiannya untuk selanjutnya lulus sarjana pertanian UGM waaa keren ya, tapi sayangnya eh hebatnya beliau tidak mau, mendingan gak lulus sekalian ajah, daripada dapet ijasah dengan cara gak jujur.

Selain kuliah di Faperta, pak Pur memiliki kesukaan tingkat tinggi pada IT, yang kemudian membuahkan prestasi dengan memudahkan kota Kendal untuk berkomputer dengan Open Source, dengan programnya KendaL Goes Open Source.

But most of all dari pak Pur yang saya suka adalah keegaliterannya bersama murid-muridnya di kelas, dia dengan legawa mau dikritik muridnya. Egaliter dan keakrabannya dengan murid tersebut yang akhirnya malah menyingkirkan pak Pur dari sekolah itu....kenapa?? baca sendiri yaaa hehe...:)

Berikutnya adalah Imron Wijaya, membaca kisahnya saya dapat memperoleh gambaran bahwa beliau adalah sosok guru yang pogress (bahasa sini, yang artinya kira-kira berpikiran kedepan dan cekatan). Cita-citanya untuk mewujudkan pendidikan bermutu dan berkualitas dapat dinikmati oleh anak-anak miskin bisa terwujud dengan sifatnya yang set set wet itu. Gimana caranya?...

Yang ketiga adik favorit saya, Dhitta Puti S, anak muda yang cerdas, pekerja keras, dan up to date. Saya waktu seumuran Puti 11 tahun lalu, masih mikir seneng-seneng dan egois, tapi Puti tidak, konsep pendidikan dan belajar yang diusungnya jelas, aplikasinya relevan, sangat bagus dan dapat diterima oleh murid-muridnya. Puti mengajar dengan bercerita, baik dari buku atau cerita karangannya sendiri. Oya Puti mengajar bahasa Inggris dan Matematika juga Fisika, dia juga dosen bahasa Inggris. hiks keren ya...
Mau tau metode mengajar Puti? simak bukunya yaaa...:)

Keempat adalah Sukari Darno, wah yang ini awesome, pak Sukari ini kalau menurut saya bener-bener manusia pembelajar. Karir pertamanya adalah pak bon sekolah, karena bekerja dengan hati dan jujur, beliau kemudian dipercaya untuk mengerjakan pekerjaan kantor- ngetik pakai komputer--, dari situ pak Sukari mulai belajar WS dan Lotus secara otodidak...cool. Sampai akhirnya beliau memperoleh jalan untuk melanjutkan kuliah dan sekarang mengajar menjadi guru TIK di SMA Muhammadiyah Gresik. Eits tapi bukan sembarang guru komputer yaa, beliau sudah bikin buku dan jadi fasilitator juga Master Teacher Partner in Learning Microsoft Indonesia. Keren kan...:)

Kelima ibu Lisda fauziah Harahap, hiks ini temen saya juga lhooo
Bu Lisda ini punya sekolah, TK dan SMPIT eeeeh stop jangan berpikir sekolah mentereng dan muahal ya, justru yang dibuat bu Lisda ini adalah sekolah untuk murid kurang mampu, guru-gurunya pun bukan lulusan sarjana pendidikan. Guru-guru yang direkrut bu Lisda dididik sendiri oleh beliau sebelum terjun di kelas bersama murid-muridnya.
Mendirikan TK dan SMPIT untuk murid kurang mampu penuh perjuangan dan benturan, ditolak DIKNAS, difitnah masyarakat sekitar, tidak ada dana, ah pokoknya penuh tantangan deh. Tapi indahnya dimana mana niat tulus dan ikhlas akan selalu diberi kemudahan oleh Allah, dan itu yang terjadi pada bu Lisda.
Kalau mau cerita lengkap perjuangan bu Lisda...baca bukunya..:)

Keenam, A. Muzi Marpaung ini mah bapak favorite saya, pak Muzi ini founder http://rumahsainsilma.wordpress.com/. Sebenarnya saya tahu pak Muzi, saat Tiga Serangkai minta saya nulis buku pengayaan buat mereka. Buku pak Muzi yang dijadikan contoh, hiks sekeren ini bisa gak yaaa...dan ternyata saya belum beruntung pak Muzi hehe...
Pak Muzi ini keren sekali, beliau bisa membuat sains menjadi sangat mudah dan menyenangkan, tidak seperti saat saya sekolah dulu, fisika dan kimia adalah pelajaran yang paling bisa membuat kepala saya panas, nggak ngerti ngerti ...*btw sayanya kali ya yang error hehe..:)

Oya pak Muzi sekarang dosen Teknologi Pangan di Swiss German University...cool..:)

Minggu, 22 April 2012

Di Saat Gelap..:(

Sudah baca berita ini..

79 Persen Siswa Niat Belajar karena UNKompas.com — Ujian nasional dianggap bisa memberikan motivasi kepada anak, bahkan hingga 79 persen siswa, untuk belajar. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.
   
"UN mendorong anak-anak untuk belajar, itu yang kita inginkan sebab kita tidak ingin belajar itu dipaksa," kata M Nuh di Jakarta, Jumat.
   
Hasil tersebut diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas tanggapan siswa terhadap UN.
   
Survei menunjukkan 37,2 persen siswa sangat khawatir terhadap kelulusan UN dan 37,2 persen lainnya merasa khawatir, sementara hanya 25 persen yang mengaku tidak khawatir.
   
Selain itu, survei juga mengungkapkan sebesar 56 persen siswa mengaku cemas menghadapi UN, 21,6 persen merasa biasa saja, sedangkan 22,4 persen sangat cemas.
   
"Rumusannya begini, prestasi itu diperoleh dengan usaha yang maksimal," kata M Nuh.
   
Pelaksanaan UN tingkat SMA/SMK sudah berlangsung pada 16-19 April 2012. Sementara UN SMP/MTs akan dilangsungkan pada Senin 23 April 2012 selama empat hari hingga 26 April mendatang.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/21/10503847/79.Persen.Siswa.Niat.Belajar.karena.UN

Saya sedih baca berita ini, sedih karena tidak tahu maksud pak Nuh..
Persepsi saya setelah baca berita ini adalah, terus apa yang terjadi setelah Ujian Nasional? mereka tidak akan belajar kah? karena tidak ada ujian, karena tidak ada nilai? karena tidak ada ijazah??

Belajar itu sepanjang hayat, bosen ya saya bilang gitu terus, semoga tidak, karena itu hadits Nabi,--tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat--أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَهْدِ اِلىَ اللحْد

Itulah mengapa sekolah harus tetap ada, dan guru harus terus belajar...

Saya ingin jiwa pembelajar alami yang sudah ada di dalam diri mereka bisa terus ada sepanjang hayat. Sejak anak dilahirkan mereka adalah pembelajar, mereka akan belajar bagaimana menyusu, belajar mengenal orang-orang di sekitar mereka, belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara, dan seterusnya.

Orang-orang yang ada di sekitarnya sebenarnya hanya pendamping, memfasilitasi dan dilarang campur tangan terlalu jauh untuk terlibat dalam hasrat belajar mereka. Orang-orang yang ada disekitar mereka wajib memberikan contoh, gambaran, hal-hal yang terbaik dan ideal, tapi proses selanjutnya-- pilihan, ide, gagasan-- tetap di tangan anak-anak pembelajar itu.

Bagaimana hal itu bisa dicapai di sekolah?, ...ah pertanyaan ini salah....Sekolah sebagai "satu-satunya" tempat belajar yang harus menyediakan itu semua. Mengapa satu-satunya? ya karena itu yang diketahui oleh sebagian besar umat manusia di pelosok dunia eh Indonesia . *kejauhan..

Di sekolah saya, 80% orang tua wali adalah petani yang hidup sangat sederhana, buruh pabrik, pedagang pasar, TKI, juga pengangguran. Mereka pasrahkan 90% eh bahkan 100% pendidikan anaknya kepada kami guru-gurunya di sekolah. Latar belakang dan kesibukan mereka membuat mereka tidak memiliki kesempatan untuk belajar bagaimana mendidik anak-anak mereka dengan baik.

Jumat, 13 April 2012

Ceritaku tentang--Cinta Yang Berpikir--

Tahun 1998 - 2005 saya adalah guru paling kejam di dunia, saya sering menyakiti anak-anak saya sebagai dalih untuk melecut semangat mereka, menyakiti mereka tanpa tahu latar belakang mengapa mereka melakukan kesalahan, menyakiti mereka tanpa tahu beban belajar mereka yang banyak, menyakiti mereka tanpa tahu liku-liku kehidupan mereka.

Titik balik saya, saat saya berkeluh kesah dengan seorang teman, pak Mahfudz (beliau ini orang tua Muhammad Izza Ahsin pengarang buku Dunia Tanpa Sekolah), karena nilai anak-anak jauh dibawah KKM bahkan setelah remidi. Apa jawab beliau "Caramu salah"--teman yang selalu mendukung apa yang saya lakukan, mendukung model pembelajaran yang saya gunakan, tega bilang saya salah?....*lebay ah
Kemudian beliau menyarankan saya untuk membaca buku-bukunya, adalah Summerhill School AS Neill, Menjadi Manusia Pembelajar - Andrias Harefa, Sekolah saja tidak pernah cukup- Andrias Harefa, Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah-Ivan Illich, Sekolah itu Candu-Roem Topatimasang, Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional Y Pradipta (penelitiannya tentang sekolah Mangunan) dan seabrek buku lainnya yang pada akhirnya merubah cara pandang saya tentang belajar dan mendidik. Bahwa belajar itu sepanjang hayat dan guru di sekolah seperti saya harus tahu bagaimana menumbuhkan kesukaan belajar yang lama padam di hati anak-anak saya, bahwa mendidik tidak memaksa, mendidik itu belajar bersama anak-anak, saya hanya fasilitator, mendidik itu memunculkan kemudian menguatkan potensi yang sudah ada dalam diri anak-anak.

Sejak saat itu saya berubah, tidak ada lagi PR dan tugas, tidak ada lagi beban belajar yang sok sulit dan sok canggih, tidak ada lagi paksaan harus menguasai bidang studi saya secara sempurna, hingga sekarang banyak eksperimen model pembelajaran yang saya terapkan di kelas, dicoba, dikaji, ditulis, jadi penelitian dan kadang dapet juara (eh yang ini mah bonus aja, bukan tujuan akhir)

Di perjalanan saya mencari metode yang bisa menumbuhkan minat belajar sepanjang hayat ke anak-anak saya, yang umumnya berusia antara 15-18 tahun, saya bertemu dan sharing dengan banyak teman, baik guru maupun orang tua juga praktisi homeschooler. Saya bertemu dengan banyak buku, dan yang masih anget baru 11 hari saya baca adalah buku Cinta Yang Berpikir --sebuah manual pendidikan karakter Charlotte Mason--by. Ellen Kristi--yang banyak menambah wawasan berpikir saya, tepatnya menginspirasi..:)

Membaca sesuatu yang seiman memang enak, mudah dan tidak membuat kepala panas. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama terdiri 10 Bab berkisah tentang filosofi Charlotte Mason, bagian kedua lebih teknis mengenai kurikulum CM dan bagian ketiga sekilas komparasi perbandingan CM dengan metode metode lain seperti Uniet Studies, Unschooling, Classical Education, Montessori dan Waldorf.