Thanks to visit..(^.^)/..

Senin, 29 November 2010

Pendidikan karakter? Mungkinkah?


Di konferensi guru Indonesia yang diselenggarakan oleh FKIP UKSW dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional,  mengangkat tema Pendidikan Karakter Berwawasan Kebangsaan.
Core karakter yang ada pada masyarakat Indonesia sudah digagas oleh pendiri bangsa sesepuh bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Menurut Prof. Dr. John Titaley sebelum 17 agustus 1945 tidak ada Indonesia, yang ada masyarakat dibedakan berdasarkan etnisnya atau masih menggunakan identitas primordial. Untuk memecahkan masalah ini maka Soekarno mencetuskan ide tentang Pancasila dalam piagam Jakarta yang sempat mengalami sedikit perubahan sehingga dapat diterima oleh seluruh etnik yang ada di Indonesia. Pada awal berdirinya Indonesia sudah dapat menerima keberadaan warga negaranya dengan beragam agama mereka masing-masing (inklusif) dan dalam hubungan kebersamaan mereka sebagai warga negara sangat terbuka untuk mengalami transformasi akibat perjumpaan itu (transformative).
Pendidikan nasional yang mewajibkan pelajaran agama menurut agama anak masing-masing berarti tidak mendidik anak Indonesia menjadi orang Indonesia, pendidikan yang demikian membuat anak Indonesia terasing dari religiositas Indonesia dan sesama bangsanya.

Minggu, 21 November 2010

Ulasan Festival Ekonomi Kreatif 2010 se Indonesia


Festival Ekonomi Kreatif ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas mengenai14 subsektor yang diangkat oleh kementerian perdagangan republik Indonesia. Bagaimana program ekonomi kreatif ini dapat meningkatkan pendapatan nasional, menumbuhkan rasa cinta produk dalam negeri dan mendorong kemandirian masyarakat Indonesia dengan kemudahan akses pada para pengusahanya. Untuk mengetahui seluk beluk ekonomi kreatif semua ada disini dan tentang indonesia kreatif ada disini

Festival ini diwujudkan dalam bentuk Lomba debat dan artikel bagi siswa SMA dan sederajat di sepuluh kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Pekanbaru, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, Jogja, Denpasar, Palembang, dan Banjarmasin.

Kebetulan kami ikut berpartisipasi mewakili sekolah 2 tim untuk lomba debat dan 2 murid untuk lomba menulis artikel. Lomba debat sangat fair, karena semuanya serba spontan, pertanyaan juri dijawab dengan spontan, demikian juga dengan artikel. Murid yang artikelnya masuk 10 besar se Jawa Tengah harus dapat mempertanggungjawabkan artikelnya secara spontan di depan juri.
 

PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN: SEBUAH KENISCAYAAN

Saat bersih-bersih kemarin, saya menemukan artikel ini, saya tulis kembali di sini, untuk bahan refleksi saya..

PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN: SEBUAH KENISCAYAAN
Oleh : Oen Toeng Wie
Lebih dari 2400 tahun silam, konfusius menyatakan:
Yang saya dengar, saya lupa
Yang saya lihat, saya ingat
Yang saya kerjakan,, saya pahami
Sungguh adalah satu kenyataan yang tidak isa dipungkiri bahwa keberhasilan pendidikan, diawali dari keberhasilan guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan pembelajaran hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peerta didik dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi. Pengalaman belajar dimaksud dapat terwujud melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik sebagai subyek belajar.
BERAPA JAUH KITA TELAH MELANGKAH
To say is easy
To do is difficult
To understand is more difficult
To make one understand is most difficult
(Sun yat sen)

Kamis, 11 November 2010

Erin Gruwell, Mendidik dengan HATI

Erin Gruwell, guru Bahasa Inggris di sebuah College Wodroow Wilson HS di Long Beach AS. Sekolah ini menerima murid migrasi korban kekerasan antar geng di Long Beach yang terjadi pada tahun 1992.
Murid-murid SMA ini terdiri dari orang china, kulit hitam, latin, kamboja, dan kulit putih. Mereka mengelompok sendiri sesuai ras nya dan memiliki wilayah kekuasaan masing-masing di sekolah tersebut. Jika wilayahnya dimasuki ras lain maka akan terjadi pertengkaran.

Rabu, 10 November 2010

Monalisa Smile dan Dead Poet Society

Diceritakan di sebuah sekolah wanita Weselley college di salah satu negara bagian Amerika serikat pada tahun 1953. Memiliki tradisi bahwa wanita atau gadis-gadis di sekolah itu hanya memiliki satu mimpi, menikah, memiliki rumah, memiliki segala peralatan rumah tangga, menjadi ibu rumah tangga, melayani suami dan membesarkan anak-anak mereka.
Walau mereka masih di sekolah, mereka wajib menikah jika sudah dirasa siap oleh orang tua mereka, dan karena tradisi yang sudah melekat ini sekolah memberikan dispensasi satu bulan untuk tidak mengikuti pelajaran, bagi muridnya yang baru menikah.

Senin, 08 November 2010

Totto-Chan si Cerdas yang menginspirasi


Membaca pertama kali buku Totto Chan-Tetsuko Kuroyanagi, di tahun 1998, memang belum berpengaruh banyak terhadap cara mengajar saya. Tapi saya sangat menyukai cerita Totto ini, saya sangat menyukai bagaimana orang tua Totto memperlakukan Totto, mereka tidak seperti orang tua disini, yang begitu ketemu orang lain atau ketemu saya, guru anaknya, pertama kali yang dibicarakan pasti kejelekan  atau hal negative yang ada pada anaknya. Sampai berbusa saya meyakinkan ibu itu bahwa anaknya hebat, baik, dan apresiatif jika di kelas. Sebaliknya si ibu itu selalu membantah dengan “tapi anak saya kan….” , ”namun kan… “. Jikalau maksudnya basa-basi..waduh, basa-basi yang harus mulai dihilangkan.
Hal yang saya sukai lainnya adalah kepala sekolah Pak Kobayashi—dimanakah ada seorang kepala sekolah yang mau mendengar cerita calon muridnya dari pagi hingga siang dengan SEPENUH HATI? Dan cerita itu cerita khas anak-anak yang terkadang tidak berujung pangkal..adakah kepala sekolah seperti itu sekarang?



Sabtu, 06 November 2010

Belajar itu menyenangkan...\(^.^)/…


Belajar itu dari buaian sampai liang lahat--yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan passion belajar sepanjang hayat. Sehingga diharapkan terlahir manusia-manusia yang sehat jasmani dan rohani.
Semangaatt!!..(^.^)/..
Berikut adalah proses belajar saya untuk mewujudkan itu semua...:)

Pertama :
Murid-murid di kelompok baru,
saling memberikan informasi tentang
materi yang diperoleh dari kelompok lama
Kelas saya bagi menjadi 7 kelompok, tiap kelompok membahas 7 hal yang berbeda, 7 materi di semester pertama kelas X. Saya mengajar kelas XII, jadi saya merasa perlu mengulang materi semester 1 kelas X sesuai SKL—buku pelajaran yang sudah ringkas dan abstrak itu masih saya rangkum lagi sesuai Standard Kelulusan untuk menghadapi UN…don’t expect  too much deh hehe—

Tujuannya sih biar mereka baca lagi dan strategi pembelajaran ini paling tidak menyenangkan dan cukup membuat mereka tertawa dan gemas.
7 kelompok tersebut saya minta untuk mempelajari materi yang saya berikan, setelah selesai saya membuat kelompok baru menjadi 5 kelompok yang anggotanya adalah wakil dari tiap anggota kelompok 7. Sehingga kelompok baru tersebut memiliki anggota yang sudah menguasai ke-7 materi yang saya berikan.

Senin, 01 November 2010

Digital Learners



Have you been paying attention?
How do your students learn? Are they interpersonal, logical, spatial, intrapersonal, linguistic, musical, naturalist or body-kinesthetic
Yes!! (Gardner, Frames Of Mind (2003))
But Mostly, They’re Digital Learners
Here’s Why
Todays, average graduates college have spent :
Over 10000 hours playing video game – interactive videogames, mediascopes, june 1996
Over 10000 hours talking in cellphones – Prensky M (2001), Digital Natives, Digital Immigrants
and roughly 20000 hours watching TV
Today’s Children and Teens spend 2,75 hours a week using home computers- Institute for social research,2004
70% of our nation’s 4- 6 years old have used a computer – Kaiser Family Fondation 2003