Thanks to visit..(^.^)/..

Rabu, 10 November 2010

Monalisa Smile dan Dead Poet Society

Diceritakan di sebuah sekolah wanita Weselley college di salah satu negara bagian Amerika serikat pada tahun 1953. Memiliki tradisi bahwa wanita atau gadis-gadis di sekolah itu hanya memiliki satu mimpi, menikah, memiliki rumah, memiliki segala peralatan rumah tangga, menjadi ibu rumah tangga, melayani suami dan membesarkan anak-anak mereka.
Walau mereka masih di sekolah, mereka wajib menikah jika sudah dirasa siap oleh orang tua mereka, dan karena tradisi yang sudah melekat ini sekolah memberikan dispensasi satu bulan untuk tidak mengikuti pelajaran, bagi muridnya yang baru menikah.


Adalah seorang guru baru Katherine Watson (Julia Roberts), guru seni, yang ingin melakukan perubahan di sekolah konservatif tersebut. Setiap ada perubahan atau hal baru pasti banyak terjadi pertentangan di dalamnya.


Watson mendapati bahwa semua muridnya cerdas, disayangkan jika mereka tidak melanjutkan kuliah pada jurusan yang mereka inginkan. Joan salah seorang muridnya ingin melanjutkan belajar Hukum di Yale University, dan atas dorongan Watson, Joan mendaftarkan diri ke Yale dan diterima. Pertentangan terjadi baik dari diri Joan sendiri maupun buat Watson yang dianggap mempengaruhi Joan.
Pada akhirnya Joan memilih menikah dan meneruskan tradisi, sedangkan Watson dia merasa tertipu karena sekolah ini hanya didirikan untuk mencetak ibu-ibu rumah tangga yang konservatif, dan tidak memiliki misi kedepan

Watson terus memberi pemahaman pada muridnya, bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk melanjutkan kuliah dan belajar apa saja yang mereka mau.
Dan apa yang dilakukan Watson membuat komite sekolah gerah, hingga mereka membuat semacam amandemen bagi Watson untuk mengajar sesuai silabus yang sudah ditetapkan dan membuat lesson plan yang terlebih dahulu disetujui oleh pihak sekolah sebelum diajarkan di kelasnya.

Watson menolak melakukannya, akhirnya dia mengundurkan diri. Murid-murid tentu saja merasa kehilangan, selama satu tahun bersama Watson, mereka menyadari bahwa mereka punya keinginan sendiri yang bisa mereka raih. Mereka punya hidup mereka sendiri, ini hidup mereka bukan sekolah mereka, bukan orang tua mereka.
Monalisa Smile, apakah senyum itu menunjukkan kebahagaiaan?

Melihat film ini membuat saya teringat film Dead Poet Society, dimana John Keating (Robin Williams), guru bahasa Inggris sekolah khusus laki-laki Wellton College, meyakinkan muridnya bahwa mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan dalam hidup. “Carpe diem, seize the day boys , make your life extraordinary.”

Garis merah yang saya tangkap dari kedua film diatas, adalah metode mengajar guru yang berbeda, you make your own word, bukan dari text book, mendorong murid-murid untuk beropini—mereka bukan robot, mereka memiliki otak dan cara berpikir sendiri mengenai sesuatu hal—ingatkah ketika Watson menampilkan lukisan Carcass-Soutine 1925, murid protes karena tidak ada di silabus dan textbook yang sudah mereka hapal di luar kepala. Watson meminta mereka untuk berpendapat apa itu seni, siapa yang berhak mengatakan bahwa lukisan atau apapun itu adalah sebuah karya seni, bagaimana pendapat mereka mengenai lukisan Carcass ini, with your own word.

Atau pada saat John Keating, meminta muridnya merobek satu chapter pembuka mengenai definisi puisi dan cara memahami sebuah puisi. Atau ketika ia meminta muridnya untuk berdiri di atas meja, untuk mengajak mereka melihat suatu hal dengan cara pandang yang berbeda. Ia mendorong muridnya untuk menjadi free thinker, berani mengungkapkan apa yang dipikirkannya, berani mengungkapkan apa yang diinginkannya.

Dua orang guru di sekolah yang berbeda tersebut sama-sama ditentang habis-habisan oleh pihak sekolah, namun walau akhirnya mereka mengundurkan diri dan dikeluarkan dari sekolah itu. Apa yang mereka tanamkan kepada murid-muridnya banyak menginspirasi dan membuka pikiran mereka mengenai hidup dan jati diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar