Thanks to visit..(^.^)/..

Minggu, 22 April 2012

Di Saat Gelap..:(

Sudah baca berita ini..

79 Persen Siswa Niat Belajar karena UNKompas.com — Ujian nasional dianggap bisa memberikan motivasi kepada anak, bahkan hingga 79 persen siswa, untuk belajar. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.
   
"UN mendorong anak-anak untuk belajar, itu yang kita inginkan sebab kita tidak ingin belajar itu dipaksa," kata M Nuh di Jakarta, Jumat.
   
Hasil tersebut diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas tanggapan siswa terhadap UN.
   
Survei menunjukkan 37,2 persen siswa sangat khawatir terhadap kelulusan UN dan 37,2 persen lainnya merasa khawatir, sementara hanya 25 persen yang mengaku tidak khawatir.
   
Selain itu, survei juga mengungkapkan sebesar 56 persen siswa mengaku cemas menghadapi UN, 21,6 persen merasa biasa saja, sedangkan 22,4 persen sangat cemas.
   
"Rumusannya begini, prestasi itu diperoleh dengan usaha yang maksimal," kata M Nuh.
   
Pelaksanaan UN tingkat SMA/SMK sudah berlangsung pada 16-19 April 2012. Sementara UN SMP/MTs akan dilangsungkan pada Senin 23 April 2012 selama empat hari hingga 26 April mendatang.

http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/21/10503847/79.Persen.Siswa.Niat.Belajar.karena.UN

Saya sedih baca berita ini, sedih karena tidak tahu maksud pak Nuh..
Persepsi saya setelah baca berita ini adalah, terus apa yang terjadi setelah Ujian Nasional? mereka tidak akan belajar kah? karena tidak ada ujian, karena tidak ada nilai? karena tidak ada ijazah??

Belajar itu sepanjang hayat, bosen ya saya bilang gitu terus, semoga tidak, karena itu hadits Nabi,--tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat--أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَهْدِ اِلىَ اللحْد

Mengkudeta hasrat alami anak lewat iming-iming nilai, hadiah, rangking, pujian atau ancaman hukuman dan sikap menyalahkan membuat anak tidak pernah memperoleh makna dari apa yang dipelajarinya alih-alih memperoleh relasi yang menyenangkan dari apa yang dipelajarinya (Ellen, p.64)--Apa gunanya lembar ijasah bertabur nilai menakjubkan jika setelah lulus pun anak tidak tahu bidang apa yang ia minati? Lebih penting memastikan bahwa anak menjadi pembelajar mandiri, sesseorang yang memiliki persahabatan yang menyenangkan dan intim dengan pengetahuan. Itulah relasi yang akan memberinya kecintaan serta kegembiraan untuk terus belajar sepanjang hayat (Ellen, p.67)
___________________________________________________
Dus sekarang saya sebagai guru di sekolah meski berpikir lagi bagaimana teknisnya? di milis Ikatan Guru Indonesia barusan membahas bagaimana membuat RPP, perlukah? dan untuk siapa?

Menurut pak Agung
RPP yg rinci dan jelas akan sangat bermanfaat untuk catatan perjalanan pribadi, melihat proses perkembangan guru. memberikan acuan untuk refleksi.
RPP yg rinci diperlukan untuk pengingat diri sendiri akan tujuan dan batasan. karena proses belajar di sekolah itu terbatas.
yang dibutuhkan adalah pemahaman guru terhadap pendidikan itu sendiri. mengajar itu bagaikan menari di atas panggung terbuka, tidak semua yg direncanakan akan sempurna. kadang listrik mati atau hujan atau audiensnya bubar. pemahaman dan fleksibilitas guru sangat penting.

Terus terang saya masih terbentur dengan filosofi Herbartian berikut ini :Bahwa akalbudi itu seperti panggung kosong yang pasif menunggu informasi ditampilkan akan membebankan tanggung jawab terlalu besar pada guru untuk menyiapkan segala detil pelajaran sehingga akhirnya, karena guru sudah mengerjakan semua hingga siap saji, anak malah tidak belajar apa-apa. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (2)

Guru-guru Herbartian barangkali benar-benar tulus mengerahkan segenap kemampuan mereka dalam mengolah dan mencernakan ide-ide untuk menciptakan kegiatan belajar yang menarik. Anak-anak pun tampaknya terhibur. Namun, bahwa anak tertarik bukan berarti pelajaran itu pasti bermanfaat; anak juga suka permen, tapi bukan berarti permen itu bergizi. Akalbudi adalah organisme spiritual, bukan ember kosong yang pasif. Jika tidak diberi kesempatan menyerap sendiri daya hidup dari ide-ide, ia akan menjadi kerdil karena kekurangan gizi. Pelajaran-pelajaran yang “dangkal dan bertele-tele” cepat atau lambat akan membuat anak bosan. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (6)

Untuk diketahui RPP adalah Rencanan Pelaksanaan Pembelajaran atau lesson plan yang wajib dibuat oleh guru sebelum masuk kelas. Semakin terinci RPP itu maka semakin mempermudah guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

Namun menurut buku Philosophy of Education tersebut, semakin terinci RPP hingga siap saji, maka anak malah tidak belajar apa apa. Hal ini sangat masuk akal, masalahnya adalah pada materi yang serba seragam, tanpa mengetahui minat anak, juga potensi mereka. Satu kelas ada 25-35 siswa, sungguh sanagt merepotkan jika kita memaksa mereka menerima saja pembelajaran yang sudah kita susun dalam lesson plan, apa lagi lesson plan yang sesuai dengan silabus yang telah di tetapkan.

Padahal tujuan utama saya adalah membuat anak menyukai belajar, dan anak akan suka belajar jika mereka bisa menikmati belajarnya, mereka akan menikmati belajarnya jika mereka menemukan relasi-relasi pengetahuan saat mereka belajar, mereka akan menemukan relasi relasi itu jika kita memberikan banyak umpan.

Permasalahannya adalah umpan-umpan yang disediakan untuk menumbuhkan relasi-relasi pengetahuan di benak anak-anak itu, bukan buku teks pelajaran, dan bukan kurikulum yang ditetapkan sekolah KTSP atau kesepakatan MGMP atau K3S
Umpan itu adalah buku buku indah, karya-karya masterpiece, pemikiran-pemikiran ideal dan lingkungan yang terbaik.

Lesson plan saya berhasil jika saya ajak mereka terlibat dalam pembelajaran, mereka memang tidak menjadi hafal teks book, karena hafalan teks book garing makna, namun mereka akan tahu makna dibalik apa yang mereka kerjakan. Saya pernah menceritakannya disini http://untukanakbangsa.blogspot.com/2011/06/my-money-trip.html
Indikator berhasil tidak bisa dilihat serta merta pada hari itu, anak-anak itu baru saja mengikuti Ujian Nasional, mereka sekarang sudah kelas 3, sekarang beberapa anak tabungannya  sudah mencapai Rp.6.000.000,-
Tidak semua anak memang, karena yang saya berikan adalah contoh ideal, pilihan tetap ditangan mereka.

Indikator berhasil ini menurut siapa? menurut anak-anak atau menurut guru?
Saya tidak tahu, sebagian besar selalu sudah siap dengan evaluasi dan assesment, tanpa evaluasi dan assesment itu nonsense.
Saya tidak tahu, apa yang saya kerjakan dengan anak-anak, bagaimana mengevaluasinya?

Kesukaan anak-anak untuk mengatur uangnya dan menabung terlalu dangkal untuk dinilai dengan angka 10 sekalipun.

Yang membuat bingung, pertanyaan di lembar test ulangan semester adalah sebutkan fungsi uang, sebutkan fungsi bank sentral, sebutkan jenis-jenis uang, sebutkan lembaga keuangan bank dan bukan bank, dan semua yang sifatnya hafalan.

Yang membuat saya bingung lagi adalah ada satu anak protes pada saya, yang ibu ajarkan tidak pernah keluar di ujian semester!!

*sedih....gelap..:(


2 komentar:

  1. bu Amel, saya setuju banget sama pemikiran anda. Kalaupun dibilang gelap ya mungkin demikian karena kalau pengambil kebijakan tertinggi pendidikan Indonesia pemikirannya seperti itu, aduh bagaimana ya pendidikan Indonesia?

    Posting ini bagus sekali sebagai refleksi kita semua. Terima kasih inspirasinya. Bu Amel, sekalian mohon ijin melink-kan blog ini ke blognya saya. Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pak Andy, tapi saya masih bingung, sebagai guru saya harus bagaimana, mencari benang merah menyatukan itu - antara mengembalikan semangat pembelajaran sepanjang hayat dengan sistem pendidikan kita -

      Hapus