Thanks to visit..(^.^)/..

Minggu, 13 Januari 2013

Sekolah yang saya impikan


Permasalahan yang dihadapi oleh sekolah adalah mengintegrasi sistem pendidikan yang ada dengan persepsi masyarakat tentang apa dan bagaimana sekolah yang baik. Persepsi masyarakat sekolah yang baik dilihat dari sisi akademis, prestasi belajar siswanya dan sarana prasarana yang lengkap. Sehingga kepentingan sekolah cenderung pada pemenuhan harapan masyarakat.
Pemenuhan harapan masyarakat ini yang kemudian membuat tujuan pendidikan menjadi kabur, karena kepentingan anak banyak yang terabaikan, kepentingan untuk beropini, kepentingan untuk berkreasi sesuai dengan bakat, minat dan potensinya, kepentingan untuk dihargai, kepentingan untuk dihormati haknya, kepentingan untuk diakui proses pembelajaran hidupnya. Sebagian besar sekolah tidak dapat mengakomodasi kepentingan anak anak tersebut. 

 Hingga kini, persepsi saya tentang sekolah tidak berubah, “penjara” dan “pembunuh”.
Penjara dengan dalih pembentukan moral dan akhlak, harus seragam, ikat pinggang tidak boleh lebih 3cm, kaos kaki putih tidak lebih 10 cm, sepatu hitam, duduk rapi, tangan di depan, dengarkan guru, guru tidak pernah salah, sekolah pasti benar, pasti membuat sukses.
Pembunuh kreatifitas dan potensi murid-yang dipelajari sama, cara berpikir dibatasi, tidak boleh memiliki persepsi sendiri, tidak boleh berbeda, semua sesuai buku dan kunci jawaban
Berapa prosen dari seluruh murid kita yang menjadi orang yang sungguh tulus, baik hati, sehat jasmani dan rohani, manusia percaya diri dan bisa menemukan lentera jiwanya? Atau jika ukurannya keberhasilan olimpiade tingkat internasional berapa persen dari mereka yang seperti itu?  Tidak sampai 20%?- pendidikan untuk siapa? Pemerintah? Guru? Partai politik? Orang Tua? Berapa prosen orang yang merasa “sukses” karena sekolah?
Nyatanya pengangguran terus meningkat, ada yang bilang karena manusianya saja yang nggak kreatif nah siapa yang membunuh kreatifitas mereka? Sekolah juga kan,..
Apa buktinya? Sekolah tidak pernah menghargai PROSES pembelajaran, maunya instant, langsung baik, langsung bisa, langsung top,
Sekolah tidak pernah memahami keunikan setiap muridnya
Sekolah tidak pernah menghargai perkembangan cara berpikir setiap muridnya
Sekolah masih menggunakan teorinya John Locke "tabularasa" bahwa setiap murid adalah botol kosong atau ember kosong yang harus diisi oleh guru….
 Sekolah semestinya berani berbeda, sungguh-sungguh memahami PROSES pendidikan dan pembelajaran hakiki, pendidikan tidak bertujuan ANGKA atau IJASAH, pendidikan merupakan proses pematangan diri murid untuk menghadapi kehidupan nyata, pendidikan merupakan proses menuju jiwa sehat jasmani dan rohani. 
Sekolah yang dapat menumbuhkan motivasi belajar sepanjang hayat, bukan untuk ANGKA dan IJASAH namun sungguh ingin memperoleh ilmu bagi diri dan lingkungannya.
Saya bermimpi semua sekolah umum di Indonesia menjadi sekolah yang dapat mengakomodasi kebutuhan belajar setiap anak Indonesia tanpa terkecuali, sekolah yang membuat anak anak bersemangat untuk datang karena selalu ada hal baru dan menyenangkan mereka setiap hari. Sekolah yang selalu dirindukan anak anak.
Jika sekolah umum di Indonesia seperti ini, saya jamin tidak ada anak yang terlambat masuk, tidak ada anak yang bolos, tidak ada anak yang ogah ogahan belajar.
Sekolah yang saya impikan ini adalah sekolah umum, sekolah pemerintah bukan sekolah eksklusif, bukan sekolah alternative, bukan sekolah khusus.

Guru
Sekolah yang saya impikan bukan sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap, bukan sekolah megah dengan SPP selangit, namun sekolah dengan guru guru yang mendidik dengan hati. Guru guru yang berintegritas tinggi, bukan hanya kompetensi yang memadai namun loyalitas yang tinggi untuk mendidik anak bangsa menjadi anak anak yang sehat jasmani dan rohaninya
Guru adalah kunci, mereka adalah garda terdepan pendidikan anak bangsa ini, saya tahu peran orang tua sangat penting, lingkungan rumah mereka juga penting, namun posisi guru tetap diatas semua itu.
Karena masyarakat kita dibagi menjadi dua golongan, kaya dan sibuk, miskin juga sibuk, dan payahnya jumlah miskin yang sibuk lebih banyak, buat nafkah hidup sehari hari saja mereka pusing apalagi mesti belajar parenting. Itulah mengapa Guru memiliki posisi penting dalam kelangsungan hidup anak anak bangsa ini.
Guru mengajarkan kedisiplinan tetapi sering terlambat masuk kelas, guru melarang muridnya merokok, namun guru tersebut merokok, guru bicara kejujuran, namun ia mengatur strategi untuk bermain cantik ketika ujian nasional, guru minta dihargai tapi mereka mencemooh dan mempermalukan muridnya, guru diskriminatif, melakukan kekerasan dan lain lain. Jika ingin memperbaiki dan membuat anak anak itu menjadi anak anak yang berkepribadian dan berkarakter yang baik, guru harus memulainya, karena mereka teladan bagi muridnya. (Wahyono, 2012)
Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn dan Wilillam Sanders (1997) dalam Wahyono 2012, terhadap enampuluh ribu siswa memberi pelajaran berharga kepada semua yang terlibat dalam dunia pendidikan mengenai betapa pentingnya memperhatikan sosok guru yang mengajar anak anak. Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor paling penting yang berpengaruh secara langsung terhadap kegiatan belajar murid adalah guru. Oleh karenanya jika anak anak kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orang tua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan murid muridnya. Di samping itu ada pertanyaan lain yang harus dijawab, yaitu apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti kompetensi saja tidak cukup.
Wuih yuuuk refleksi, tidak ada anak bodoh, tidak ada anak nakal, yang ada kita yang belum bisa memahami anak anak itu. Kita guru dan orang dewasa yang berada di sekitar anak anak itu, yang semestinya memahami proses tumbuh kembang anak anak kita. Dalam memahami proses ini semestinya kita memandang mereka dengan kacamata mereka, menempatkan diri kita sebagai mereka, untuk kemudian kembali ke kedewasaan kita untuk dapat berpikir bijak mencari cara mendampingi mereka dengan tepat
Sekolah yang saya impikan memiliki guru guru yang berdedikasi, berintegritas dan loyal kepada murid muridnya. Apa yang mereka lakukan bertujuan dan berdasar, bukan hanya sekedar bertujuan menjadikan murid murid berperilaku baik, percaya diri, mampu melejitkan potensi dirinya, namun yang dilakukan oleh guru guru tersebut memiliki dasar yang jelas. Mereka guru guru pembelajar yang terbuka dan terus berdiskusi bagaimana mengatasi permasalahan murid muridnya. Mereka guru guru yang menyenangkan, ramah, dan menyayangi murid muridnya dengan tulus.
Saya bermimpi, di sela sela istirahat mengajar, para guru berkumpul, mendiskusikan berbagai masalah anak anak dan penyelesaiannya dengan referensi referensi terbaru, kami sudah klik memiliki pandangan yang sama tentang berbagai ilmu mendidik, juga masalah psikologi pendidikan, kami juga sudah klik, dengan berani mencoba metode metode baru dalam menghadapi problematika anak anak di kelas.
Saya bermimpi, setiap seminggu sekali, para guru berkumpul mendiskusikan buku buku terbaru yang sudah mereka baca, menghubungkan dengan pengetahuan yang lalu, berani mengakui kekeliruan masa lampau dan berani juga untuk merubahnya.

Bimbingan dan Konseling
Guru Bimbingan Konseling yang masuk kelas satu minggu minimal dua jam pelajaran. Guru BK memiliki semacam secret book, yang berisi curhatan anak anak setiap hari atau setiap minggunya, buku ini merupakan buku pribadi rahasia antara guru BK dengan mereka. Sehingga jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan guru BK dapat dengan cepat mengetahui latar belakang perbuatan anak tersebut, dan dapat segera memperoleh pemecahan permasalahan dengan tepat.
Tentu saja guru BK juga bergabung dengan guru guru yang lain saat diskusi mengenai permasalahan anak anak juga saat diskusi buku terbaru.

Perpustakaan
Sekolah impian saya harus memiliki perpustakaan dengan banyak buku buku menarik, bermutu dan up to date, tidak perlu biaya mahal untuk itu, cukup dengan Rp.200.000 per bulan sekolah dapat membeli buku buku terbaru secara kontinyu. Ruang perpustakaan seadanya juga oke, rak rak di tata meninggi kalau perlu, desain ruang perpustakaan dibuat nyaman dengan warna warna cerah. Perpustakaan ini memiliki computer yang tersambung internet, jadi kapan saja anak anak membutuhkan informasi mereka dapat mengaksesnya dengan mudah.
Perpustakaan merupakan aspek vital dalam sebuah institusi pendidikan, oleh karena itu di perpustakaan sekolah harus lengkap, bersih dan menarik. Perpustakaan sekolah tidak melulu berisi buku buku pelajaran namun buku buku “pengaya” pelajaran. Buku buku pelajaran hanya disusun sebagai sampel, dan lainnya di simpan dalam almari khusus, jadi jika anak anak membutuhkannya mereka tinggal mengambil dari petugas perpustakaan. Jadi rak rak di perpustakaan bersih dari tumpukan buku pelajaran. Rak rak perpustakaan berisi buku buku yang menarik minat anak anak untuk membaca, ada bagian buku sastra tersendiri, buku sastra modern, novel teenlit, novel Islami, novel novel best seller, bacaan remaja. Perpustakaan yang penuh buku-buku dari buku Pramodya Ananta Toer, HB Yassin, Mohammad Hatta, NH. Dini, Andreas Harefa, hingga Raditya Dika, Enyd Blyton, Astrid Lingren, Lousia may Alcott, JK Rowling, buku buku inspiratif seperti biografi tokoh tokoh nasional maupun internasional, buku buku motivasi, buku buku lain dengan berbagai genre, untuk memperkaya pengetahuan murid murid dan memotivasi mereka agar menyukai membaca.

Di bidang kesiswaan
Sekolah yang saya impikan hanya melaksanakan upacara bendera setiap tanggal 17, selebihnya setiap hari Senin anak anak berkumpul di Aula dipimpin oleh ketua OSIS membahas segala permasalahan yang terjadi di sekolah, dari ketidaknyamanan belajar, di kantin, masalah kamar mandi, mushola, perseteruan antar teman, apa saja, mereka bebas mengeluarkan uneg uneg yang berhubungan dengan proses belajar mereka di sekolah. Ketua OSIS kemudian memimpin Rapat Besar ini untuk mencari pemecahan permasalahan yang terjadi. Guru bahkan kepala sekolah ikut sebagai peserta rapat, dan mereka memiliki hak suara sama dengan murid yang lain, misalnya jika dibutuhkan voting dalam penyelesaian masalah. Cool…

Di bidang kurikulum
Jam belajar di sekolah ini tidak banyak, satu hari anak anak hanya belajar wajib dari jam 7 – 11.30, selebihnya setelah sholat luhur anak anak boleh belajar bebas sesuai dengan minat dan bakatnya, mereka juga bebas memilih guru pembimbing untuk mendampingi mereka belajar. Mereka boleh menjahit, boleh membaca buku, main bola, main musik (gamelan, keroncong, angklung, band, symphony), di bengkel belajar mesin motor, membuat perabot, melakukan percobaan sains, mereka boleh menulis, menonton film, bahkan mereka boleh sekedar duduk, atau pulang ke rumah.
Dengan demikian sekolah dapat mengetahui bakat siswa siswinya untuk selanjutnya terus memberi fasilitas dan dukungan
Sekolah ini juga tidak ada jadwal penerimaan rapor hasil belajar, hasil belajar hanya dimiliki oleh guru dan sifatnya rahasia, anak anak boleh mengetahuinya setelah mereka lulus dari sekolah ini. Pekerjaan anak anak hanya melakukan semuanya dengan sebaik baiknya. Hal ini dilakukan dalam usaha untuk mengalihkan tujuan belajar anak anak dari nilai rapor ke kebutuhan mereka untuk tahu, kebutuhan mereka untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Tentu saja ada ujian akhir, namun semua ujian di sekolah ini berwujud proyek dan portofolio
Sekolah yang saya impikan ini memiliki jumlah mata pelajaran maksimal 12 mata pelajaran, meliputi agama, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni budaya, ketrampilan dan olah raga

Sekolah yang saya impikan merupakan, tempat dimana siapapun dapat terlibat didalamnya tanpa ada seleksi kaya miskin pintar bodoh.
Tempat untuk anak-anak bermain sepuas mereka, bermain bersama ulat, kupu-kupu, ayam, bebek, semut, mengamati bunga, daun, buah-buahan, menanam tanaman, memanjat pohon, berenang di mata air, hujan-hujanan, mencari ikan dan menikmati ikan hasil perburuannya, tanpa khawatir kotor, tanpa kuatir sakit dan menikmati semuanya sampai puas, tertawa lepas bahagia tanpa tekanan.
Tempat untuk remaja mengekspresikan semua potensi yang ada di dalam dirinya hingga mereka menemukan konsep diri mereka dan melakukan semuanya dengan sepenuh hati, jujur dan tepat. Bermusik, melukis, berkuda, sepak bola, volley, balap motor, mobil, modifikasi motor atau mobil, menulis, menjahit, membaca, bersenda gurau, atau merenung– bebas mencurahkan segala idenya tanpa campur tangan orang dewasa disekitar mereka—sehingga kita akan mendengar dan melihat ide-ide brillian mereka terwujud dengan sempurna dan menakjubkan.Tempat pararemaja itu melalui step kehidupannya sebagai diri mereka sendiri—Anak-anak itu, para remaja itu tumbuh alami, indah, dan menyenangkan…
Kita orang dewasa di sekitarnya ADA hanya jika dibutuhkan, kita hanya wajib memberi saran tanpa mempengaruhi, keputusan akhir tetap ada pada mereka.

Alangkah hebatnya sekolah apabila tidak memberikan penilaian kepada anak didik di depan anak didik atau diketahui oleh anak didik.
Sekolah akan lebih hebat lagi apabila mampu menghindar dari kegiatan mengarah-arahkan dan mencap anak didik sebagai ini atau itu.
Sekolah akan lebih hebat lagi jika mau “membebaskan” anak didik untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri-meskipun pendapat tersebut sangat subyektif- tentulah sekolah tersebut menjadi salah satu tempat yang sangat menyenangkan bagi mereka.
Mengubah Sekolah – Hernowo Hasyim

*Asal kata sekolah adalah scholae–tempat untuk bersenang-senang–
*Asal kata murid, murid itu merupakan ism faail dari kata أراد – يريد – إرادة , maknanya memiliki keinginan, berkeinginan, berkehendak, memiliki minat, jika menjadi ism faail berarti seseorang yang memiliki keinginan dan minat yang tinggi untuk mengetahui sesuatu.
(http://dadanggani.blogspot.com/2009/04/quo-vadis-koalisi-sby.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar