Thanks to visit..(^.^)/..

Rabu, 09 Maret 2011

[KLIPING] In reply to "Als ik een Leraar was oleh Ines Puspita"


by Ekawati Indriani P on Monday, March 7, 2011 at 11:52pm

Tulisan di bawah berikut, adalah tulisan Ibu Ines Puspita, seorang pendidik yang saya hormati.
http://inesogura.weebly.com/5/post/2011/03/als-ik-een-leraar-was.html?

Als ik eens Nederlander was oleh Ki Hajar Dewantara
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".


Als ik een Leraar was oleh Ines Puspita
 “Sekiranya aku seorang guru, aku tidak akan merayakan kemenangan kelulusan UN dari murid-murid yang telah kita rampas sendiri kemerdekaan belajarnya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk meyuruh murid-murid ini untuk melakukan segala cara untuk lulus demi sebuah keberhasilan semu. Ide menilai hasil pendidikan hanya dari nilai UN saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk juga hak belajar hakiki mereka dengan mengkerdilkan hakikat pendidikan menjadi soal pilihan ganda. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin ini! Kalau aku seorang guru, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan seprofesiku ialah kenyataan bahwa murid-murid diharuskan ikut menyokong suatu kegiatan yang minim hubungannya dengan pendidikan yang sebenarnya dan tidak ada kepentingan sedikitpun bagi mereka.”

Ditulis sebagai bentuk keprihatinan pribadi atas dijadikannya UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan oleh sebagian besar kita."

Setelah membaca tulisan Bu Ines di atas, hati saya seperti tersayat.
Terinspirasi tulisan beliau, saya menuliskan isi hati saya di sini:

"Sekiranya aku seorang pendidik, aku TIDAK HANYA akan merayakan keberhasilan anak didik yang memperoleh nilai tinggi atau memenangkan kejuaraan tertentu.
Aku akan merayakan apapun yang terjadi dalam proses belajar.
Kekalahan.
Kegagalan.
Kepedihan.
Semuanya tidak ada yang terlalu kecil untuk dirayakan, karena semuanya berharga.
Mungkin, aku akan menyiapkan piala atau sertifikat kegagalan, sebagai penanda, bahwa suatu kegagalan adalah juga suatu pembelajaran.


Aku ingin lebih banyak memberi, bukan merampas.
Aku tidak mau merampas kemerdekaan yang seharusnya mereka pantas untuk mereka terima.

Kemerdekaan untuk dihargai, bukan dicemooh.
Kemerdekaan untuk mereka bebas, menjadi mereka sendiri, tanpa dibandingkan dengan orang lain.
Kemerdekaan untuk tidak dituntut memperoleh nilai yang bagus, tanpa diancam tidak memperoleh hadiah.
Kemerdekaan untuk memaksimalkan talenta mereka masing2, bukan menyamaratakan kemampuan setiap anak. Kemerdekaan untuk gagal, bukan memaksakan untuk harus selalu  berhasil.
Kemerdekaan untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan,bukan di bawah ancaman ataupun pelototan mata yang menyeramkan.
Kemerdekaan untuk belajar dengan gaya mereka masing-masing yang unik, bukan menerapkan pembelajaran massal.
Kemerdekaan untuk bebas berekpresi dalam menjawab berbagai pertanyaan, bukan menyalahkan jawaban karena berbeda dengan kunci jawaban."

Tulisan ini dibuat, supaya semakin banyak orang yang dimerdekakan dari pola pikir "ikut arus".
Semakin banyak yang berani mengambil sikap untuk berjuang bagi pendidikan yang lebih baik.
Demi masa depan anak2 yang lebih baik.
Demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Sumber : http://www.facebook.com/home.php#!/notes/ekawati-indriani-p/in-reply-to-als-ik-een-leraar-was-oleh-ines-puspita/193979220633253

Tidak ada komentar:

Posting Komentar