Thanks to visit..(^.^)/..

Senin, 19 Desember 2011

Oh Raport oh Rangking...:(

carlaaudina.com
Saya agak kecewa terhadap bu guru dan pak guru. .karena hasil raport yg saya terima tdak pernah kongkrit,dn tdk pernah benar ktka d trima oleh murid,hal ini membuat saya berpikir bhwa usaha murid untk blajar tdak d hargai olh guru yg mberikan nilai asal2n. .
#mohon untuk kasus ini sgra di tndak lanjuti,karna kami pihak murid merasa d rugikan. 
pernyataan ini ditulis di grup sekolah dan di amini oleh banyak anak-anak yang lain, ketika saya minta contoh spesifik beberapa anak menjawab :
*      Nilainya gak bener...kaya orang yg tertib nilainya ngedrop...
*      saya ga pernah dpet nilai ulgn bhsa.arab kurang dr 8. . .tp di rapot saya rata2 y cuma 7.4. . .kaget bget saya lhat.y buk. .
*      Masa yg cip aja ada yg gak tntas nilainya prngkt 15,mei yg bgus prgkt 29
*      ‎.pny saya jg bu
.nilai PKn saya alhmdulillah gag prnh d bwah 8
.tp msok d raport nlai.ny 7 ?
*      Ranking saya juga buk. .lbh tgi dr pada yg rangking 12. .tp d rapot malah saya dpet rangk 20. .di marah.i hbis2an saya buk. .--____--
*      saya takut dgn masa dpan bu. .karna nilai qta skrang kan penentu lulus UAN. .walopun qta bsa lulus UAN,tp hasil yg qta dpat juga ga memuaskan karna rapot yg salah. .
wedi bget pokok.e aku buk. .   

jawaban saya saat itu..
hidup itu bergantungnya cuma sama Allah bukan sama angka raport picisan seperti itu---masa depanmu sebetulnya lebih ditentukan dengan attitude eh perilaku mu, sekarang ini orang cari kerja, yang dilihat pertama kali adalah perilakunya, jujur nggak, loyal nggak? sungguh2 nggak. BUKAN ANGKA RAPORT. Dokter, pengusaha, guru, bengkel, salon, pemilik rumah makan, segala profesi,  akan berhasil karena jujur dan  bersungguh-sungguh dalam bekerjanya--bukan angka raport lagi.
Masalah UN-- gak perlu kuatir n takut sama UN anak-anak baik seperti dirimu dan kalian semua asal bersungguh-sungguh pasti dikasih kemudahan JUST DO YOUR BEST LILAHITA'ALLA--UN PIECE OF CAKE..SEMANGAATT!!...(^.^)/  

ditengah keprihatinan saya seorang teman menulis :
Uraian-uraian kemarin adalah semacam sketsa tentang berbagai kemungkinan positif dan negatif dalam diri anak-anak. Prinsipnya, kita harus betul-betul mengenal hakikat anak sebagai manusia sebelum kita bisa menjalankan pendidikan yang efektif, karena jika tidak, kita akan membesarkan mereka sekedar memenuhi tuntutan pasar atau standar eksternal, padahal mungkin tuntutan dan standar itu bertentangan dengan kapasitas dan kebutuhan sejati anak-anak. Dalam proses mendidik, studi psikologis saja belum cukup – kita musti terjun lebih dalam lagi untuk berpikir sampai ke tataran filosofis. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 46-67 (16)

Menurut teman ini lagi
*      berpikir sampai tataran filosofis misalnya: tidak menerima begitu saja teori-teori dan mitos-mitos pendidikan, tapi berpikir sendiri secara kritis tentang kebenarannya. contoh: antara opsi sekolah formal atau HS, secara filosofis kita harus menjawab dulu tentang apa itu tujuan pendidikan
*      harus merumuskan standar sendiri. kalau kita tidak punya visi sendiri, seumur hidup kita hanya akan mengabdi kepada visi orang lain.

Saya kemudian browsing melihat bagaimana evaluasi di Finlandia sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, apakah mereka masih menekankan pada angka raport dan peringkat?
Ternyata tidak, siswa di Finland tidak lagi mengejar angka dan peringkat selama menjalani pendidikan wajib dasar 9 tahun, namun mengejar pemahaman dan penerapan ilmu yang diberikan sesuai dengan kurikulum pendidikan dasar nasional. Sistem peringkat (ranking), baik peringkat siswa maupun peringkat sekolah (sekolah favorit atau non-favorit), serta sistem evaluasi ujian nasional untuk kenaikan kelas di tiap jenjang pendidikan wajib dasar nasional 9 tahun dihapus. Pendidikan dasar difokuskan pada upaya pembentukan karakter dan kapasitas dari setiap murid.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan. 
http://ruangpikir.multiply.com/journal/item/92?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Pernyataan-pernyataan ini, membuat saya berpikir lagi, membuat strategi lagi, agar anak-anak (baca: murid-murid) saya tidak lagi dipusingkan dengan peringkat dan angka rapor, juga ketakutannya dengan masa depan karena angka rapor—esensi pendidikan yang sudah terberangus dan ternoda oleh angka dan peringkat ini mesti segera di perbaiki. Sudah tidak jamannya lagi menakut-nakuti mereka dengan angka rapor, anak-anak itu adalah anak-anak cerdas, pemahaman mendalam akan sesuatu sesuai kebutuhan adalah kuncinya. 
Semangaatt!!...(^.^)/..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar