Thanks to visit..(^.^)/..

Rabu, 29 Februari 2012

Sepenggal Proses Belajarku...\^.^/

Jika terasa sulit memahami guru "aneh" macam saya. Bisa dimulai dari tulisan Thomas Amstrong berikut ini :
source: http://kabod1.edublogs.org/
Syahdan di tengah-tengah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu; Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..
Source : http://lyakeyen.multiply.com/
Cerita sekolah hewan diatas tepat sekali dijadikan analogi sekolah-sekolah kita.
Sampai sekarang atau kapanpun saya masih terus mencari jembatan yang kokoh antara idealisme pendidikan dan belajar yang ada di kepala saya dengan sistem pendidikan Indonesia. Jadi ingat kata-kata Bahruddin "semua yang berhubungan dengan sistem pendidikan Indonesia merupakan tembok tebal dan tinggi, yang akan sulit ditembus"--tembok Berlin juga hancur, batu pun bisa terbelah, dan atau saya pun bisa terbang melewatinya

Cerita itu ditambah berbagai buku, opini yang saya baca dan sharekan membuat saya jadi guru "aneh" di sekolah.
Saya buat pembelajaran menyenangkan,  dari inovasi yang saya buat ada beberapa hingga memperoleh penghargaan,  belakangan saya menyadari apa yang saya lakukan ternyata belum pas mengusung konsep belajar, kemudian saya membuat ini. Inipun belum bisa menjadi jembatan untuk bidang studi yang saya ajarkan...dan terakhir saya buat agak ekstrem karena gak bakal keluar di Ujian Nasional dan pasti tidak akan didukung sekolah--sekarang yang lagi trend adalah drill soal UN...:(
NAMUN--Saya merasa tergelitik ehm tepatnya tertohok dengan ulasan mengenai filosofi Herbartian yang baru beberapa hari ini saya kenal dari Komunitas Charlotte Mason yang saya ikuti di FB by Ellen Kristi:
Prinsip 10. Filosofi Herbartian bahwa akalbudi itu seperti panggung kosong yang pasif menunggu informasi ditampilkan akan membebankan tanggung jawab terlalu besar pada guru untuk menyiapkan segala detil pelajaran sehingga akhirnya, karena guru sudah mengerjakan semua hingga siap saji, anak malah tidak belajar apa-apa. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (2)
Saya terus terang memang paling males bikin lesson plan, saya membuat tentu saja, dan lesson plan saya  beda karena disana banyak warna warni dan aneh-aneh. Yang terjadi di lapangan perencanaan yang sudah saya buat macam-macam seringnya tidak bisa terealisasi di kelas karena kondisi kelas yang tidak memungkinkan, bagaimana hal itu dipaksakan harus diterapkan jika kondisi anak seperti cerita saya ini 
Herbart (1776-1841) mengembangkan filosofi bahwa benak anak itu hakikatnya kosong, sama sekali tidak membawa ide, hasrat, perasaan, atau pemahaman apa pun saat lahir. Kepribadiannya akan terbentuk dari ide-ide apa saja yang berhasil dimasukkan oleh orangtua atau guru atau orang-orang dewasa lain ke dalam benaknya. Dia tidak punya daya untuk memilih ide mana yang ingin dia terima. Ide-ide mana yang lebih dulu masuk akan menarik ide-ide serupa, sehingga akhirnya mendominasi pemikirannya. Charlotte menolak filosofi ini. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (3)
Filosofi ‘anak adalah ember kosong’ mudah memikat para guru karena itu membuat mereka merasa jadi orang penting, sosok heroik yang akan mencetak anak menjadi orang sukses atau gagal, luhur atau bejat. Mereka merasa bertanggung jawab menyeleksi ide-ide, membuatkan korelasi di antara ide-ide itu, menjahit semuanya menjadi satu pelajaran yang menarik, lalu menyuapi anak untuk menelannya. Mereka tidak tahu bahwa ide-ide itu punya daya hidup, yang bisa membangkitkan minat anak tanpa mereka harus banyak campur tangan. Mereka tidak sadar bahwa anak-anak terlahir dengan kemampuan alamiah untuk menemukan sendiri korelasi antar ide-ide. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (4)
Mungkin yang saya lakukan ini kurang pas, namun 11 tahun kehidupan sekolah mereka yang hanya menerima dan jaraaanng sekali diberi kebebasan beropini alih-alih mengungkapkan perasaan mereka, mendorong saya melakukan ini setiap kali masuk kelas 
Contoh filosofi Herbart adalah pendekatan unit studies. Charlotte memberi contoh unit studies berdasar buku Robinson Crusoe. Dari kisah Crusoe, anak-anak diajak belajar tentang laut, ikan, kapal; materi matematika digarap misalnya dengan menghitung ukuran kandang kambing Crusoe; guru juga menciptakan lagu-lagu khusus tentang Crusoe sebagai pelajaran menyanyi. Cara ini akan sangat menghibur anak-anak, namun seberapa dalam dan seberapa awet pemahaman mereka atas buku itu sendiri? Bukan anak yang berupaya aktif mencerna isi buku itu. Gurulah yang mengerjakan semuanya. Dan setelah setiap detil – yang belum tentu penting – dipelajari secara bertele-tele, apakah anak itu masih ingin mengulang lagi membaca Robinson Crusoe? Para siswa Charlotte lebih fasih bicara tentang Robinson Crusoe hanya dengan sekali membaca karena mereka melakukan narasi setelah setiap porsi bacaan. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (5)
yang ini saya buat simple dari sebelumnya (Note : Charlotte Mason di kelasku -2)--karena kompetensi dasar adalah komunikasi maka saya minta mereka melakukan narasi dari buku yang dibacanya
Guru-guru Herbartian barangkali benar-benar tulus mengerahkan segenap kemampuan mereka dalam mengolah dan mencernakan ide-ide untuk menciptakan kegiatan belajar yang menarik. Anak-anak pun tampaknya terhibur. Namun, bahwa anak tertarik bukan berarti pelajaran itu pasti bermanfaat; anak juga suka permen, tapi bukan berarti permen itu bergizi. Akalbudi adalah organisme spiritual, bukan ember kosong yang pasif. Jika tidak diberi kesempatan menyerap sendiri daya hidup dari ide-ide, ia akan menjadi kerdil karena kekurangan gizi. Pelajaran-pelajaran yang “dangkal dan bertele-tele” cepat atau lambat akan membuat anak bosan. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (6)
Filosofi Herbartian telah merasuk begitu dalam ke sistem pendidikan. Banyak sekolah yang menjalankannya, meskipun jarang yang menyadarinya. Kita bisa mengenali filosofi ini dari beberapa indikasi. Bahwa beban pendidikan ditanggungkan sepenuhnya ke bahu guru-guru. Bahwa guru-guru ditinggikan sebagai agen utama pendidikan, hanya mereka yang berhak dan punya kualifikasi untuk membagikan pengetahuan. Bahwa yang dianggap guru-guru hebat adalah mereka yang bisa menyusun lesson plan menarik, merancang kegiatan-kegiatan belajar yang membuat para siswa terhibur. Dari luar proses belajar Herbartian terlihat mempesona walaupun, jika diteliti lebih dalam, sebenarnya para siswa itu hanya berperan sebagai penonton pasif. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (7)
Pengetahuan dan karakter hanya bisa bertumbuh lewat disiplin mental dan kerja keras mengatasi berbagai materi belajar yang menantang. Bahaya filosofi Herbart adalah kegagalan para siswa untuk mencapai tingkat intelektual dan moral yang optimal. Saat lulus sekolah, mereka hanya siap menjadi pekerja, dengan sejumlah keterampilan teknis, tapi tidak punya kepribadian dan moralitas yang kuat. Terus diproduksinya lulusan-lulusan tanpa karakter, tanpa keberanian dan keuletan untuk berpikir mandiri, itu bukan hanya merugikan para siswa, tapi juga dunia kerja dan masyarakat pada umumnya. - Ringkasan Vol. 6 A Philosophy of Education, pp. 112-127 (9)
Tiga kalimat terakhir ini sangat mendalam dan menohok saya--ternyata saya pun masih belum bisa mengeluarkan mereka dari "penjara"

Semaangaatt!!...(^.^)/..
 
 
 
 


 

2 komentar:

  1. uwahhhh..subhanallah mbak...*mengevaluasi diri..aku masih gitu banget..herbartian yah? mungkin karena dulu kerasa kebatas waktu dan ngerasa hebat kalo bisa bikin lessonplan keren...astaghfirullah..itu ya efeknya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak dan ini bikin saya sempat bingung, mesti gimana... sampai sekarang juga masih meraba-raba yang pas yang mesti dilakukan semester depan..:)

      Hapus