Thanks to visit..(^.^)/..

Selasa, 14 Februari 2017

Refleksi Kurikulum Merdeka Belajar

Terus terang, seminar daring guru merdeka belajar dan kurikulum merdeka belajar membuat saya ingat masa lalu.

beberapa semester belakangan ini saya suka hopeless, terus main paksa ke anak anak, saya jadi guru kebanyakan (eh...#emotnutupmulut), dan itu sangat membuat saya nggak nyaman, mau saya bawa kemana mereka dengan materi ekonomi sedabreg. Oke saya masih selalu, memberikan mereka artikel artikel aptudate masalah masalah perekonomian di Indonesa, terus ulangan saya sifatnya analisis - open book, google - apa aja deh, mereka juga presentasi hasil analisis mereka, mereka juga seru seruan jadi kelompok negara dan belajar negosiasi di materi perdagangan Internasional. Tapi saya merasa masih ada miss dari semua yang saya lakukan di kelas

Dan setelah menyimak dua seminar daring itu, saya jadi tahu apa yang hilang dan lupa, saya nggak memperhatikan gaya belajar mereka, dan walau cita cita mereka belajar sudah saya tanyakan, tapi saya abai, tidak berusaha mensingkronkan apa yang harus mereka pelajari untuk itu. Semua ketutup kewajiban UTS UAS UN SBMPTN hihihi #emottutupmuka


ini kelas yang lain berdandan ala India
dan Indonesia lagi negosiasi
perdagangan Internasional
Nah kemarin saya di satu kelas "istimewa" anak anak walian saya, yang kalo kelas lain sampai bawa baju ciri negara untuk materi perdagangan internasional, mereka nggak, kalau yang lain sudah ulangan analisis, mereka belum, mereka sukanya nonton film sound of music, dan sukanya saya mendongeng hal hal inspiratif. Padahal mereka harus belajar pasar modal, sebelumya saya tanya mereka, -walau pertanyaannya telat banget- sebenernya apa tujuan mereka belajar ekonomi, jawaban
Fikri Fuad, biar bisa jual beli
Laeli : Biar bisa ngatur uang
Disna : Biar bisa liat bu Amel (aah lebay ini mah)
Daus : biar bisa belajar ekonomi....*halah
Saya : Oke oke sekarang saya mau cerita, mau nggak?
mereka : Cerita apa dulu?
Saya : Cerita orang terkaya di dunia
Mereka: mau mau

Okelah, saya buka deh biografinya Warren Buffet yang umur 32 sudah punya uang $1200 dari hasil tabungan kerjanya, kemudian beli sebidang tanah untuk disewakan, bagaimana Warren berinvestasi saham, juga trik dan tip nya
Saya juga bercerita berbagai macam investasi plus dan minusnya

Terus mereka tanya kalau di Indonesia bagaimana caranya beli saham...hahahah gotcha, masuk deh materi pasar modal kesitu semua, walau saya paraphrase dalam bentuk cerita sederhana alurnya
Mereka juga tertarik investasi emas, dan berniat tabungan mereka dikonversi emas, pindah ke tabungan emas Pegadaian. Wow... mana saya ngira reaksinya bisa begini kan ya

Saya mau balik ke masa lalu deh, kemarin nggak ada temennya, sekarang temennya banyak, walau masih beduaan terus disini biarlah..., saya selalu bersama 200 anak anak itu semester ini
Semangaattt !! (^.^)/..

--------

Berikut rangkuman walau nggak komplit, kalau mau komplit link disini 

Temu Pendidik Daring temanya Kurikulum Merdeka  Belajar  Jumat, 20 Januari 2017 pukul 14.00 - 16.00 WIB. di moderatori oleh Guru Bukik, dengan Narasumber Guru Najelaa dan Guru Nun, semuanya dari Kampus Guru Cikal
(eh bentar jadi inget ngimpi pingin bikin sekolah guru, yang beneran membentuk jadi guru berintegritas, tulus, guru yang mau terus belajar, tahan banting, suka tantangan. Aamiin)

Guru Bukik, Guru Najelaa, Guru Nun

Guru Najelaa, 

Miskonsepsi kurikulum 
1. Kurikulum ganti mentri ganti kurik, kepemilikan kurik belum dimiliki komunitas sekolah, karena masih dilihat sebagai dokumen yang harus diikuti oleh semua pihak yang ada di sekolah,
2. Kurikulum sama dengan ujian, ikut ujiannya apa, maka kurikulumnya mengikuti, padahal kurikulum bukan hanya tentang ujian
3. Kurikulum tergantung bukunya apa, padahal kurikulum jauh lebih luas dari sekedar dokumen ujian dan buku

Kurikulum seharusnya merupakan Dokumen Hidup
Krikulum yang utuh harus jelas cita cita, bagaimana caranya dan pilihan tahapan materi nya :
1. CITA CITA sangat menentukan kurikulum, kira kira 20 tahun lagi yang akan menjadi buah proses pendidikan apa. Jadi semua pihak yang terlibat di sekolah termasuk murid dan orang tua dilibatkan dalam proses ini. Cita cita ini haruslah cukup luas sehingga melingkupi cita cita kecil disekitarnya, misal, salah satu cita cita adalah pelajar cakap dan berwawasan luas, cita cita kecil nya menjadikan anak anak kritis
2. Kurikulum yang utuh menggambarkan CARA menuju cita cita, cara kbm, standar dan praktek seperti apa, semuanya harus disepakati bersama bagaimana caranya. Menyepakati cara dengan prinsip pedagogi, dengan komunikasi dan diskusi dengan guru lain.
3. APA SAJA YANG DIAJARKAN, kurikulum bukan sekedar memenuhi indikator saja, tetapi sesuatu yang lebih besar yaitu cita cita. Bukan diajarkan tapi kapan kita ajarkan, tahapannya, apa yang penting dan esensial untuk diajarkan untuk 20 tahun lagi, saat mereka menghadapi kehidupan mereka. Kurikulum itu dokumen hidup yang kita bisa lihat setiap saat, kurikulum dari pemerintah harus dikomunikasikan untuk disampaikan bagaimana caranya dan tahapan tahapan apa yang harus diajarkan

Guru Nun
Guru Nun lebih menjelaskan teknis nya di kelas
1. Saat cita cita sudah ditetapkan, cara dan cakupan materi sudah disepakati. Materi materi konstekstual sehingga anak anak memiliki ketrampilan untuk menghubungkan dalam kehidupan nyatanya.
2. Perencanaan dalam dokumen Kurikulum yang hidup cakupanna harus luas, kesepakatan bagaimana KBM disampaikan hingga tahap refleski dan evaluasi kegiatan belajar mengajar. Evaluasi ini termasuk bagaimana anak tertarik untuk mendalami dan memperluas topik yang barusan mereka ketahui di dalam kelas

Hal hal dari Guru Najelaa dan Guru Nun yang sekelumit dari saya dari paparan 2 jam beliau, simak bagaimana selanjutnya dari link diatas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar