Thanks to visit..(^.^)/..

Selasa, 03 Desember 2013

Tidak Sekolah? No Way?



Membaca buku William hampir sama dengan membaca buku Izza, kalau Izza saat menulis buku itu usianya 15 tahun, dan kisahnya ditulis setelah dia memutuskan untuk mundur dari pendidikan formalnya, tepat 3 bulan sebelum Ujian Nasional SMP. Sedangkan William, justru menuliskannya saat dia masih duduk di bangku SMA kelas 2 berarti kurang lebih usianya 16-17 th

Izza, keluar karena dia merasa tidak cocok dengan berbagai ilmu yang dia peroleh di pendidikan formal. Dia merasa semua yang dia peroleh tidak sesuai dengan kebutuhannya saat itu. Izza secara akademis termasuk anak yang unggul, nilai nilainya selalu jauh diatas rata rata temen sekelasnya. Sekolahnya pun bukan sekolah sembarangan, Sekolah terfavorit rintisan RSBI di Kotanya. Namun keresahannya atas ketidaksingkronan ilmu yang dibutuhkan dan ilmu yang wajib dipelajarinya membuat Izza mengundurkan diri dari sekolahnya.
Keputusan mundur inipun tidak dia terima dengan mudah, ayah ibunya guru PNS dan berpredikat guru  berprestasi tingkat nasional, awalnya ayahnya sangat menentang keputusan Izza, perseteruan Ayah dan anak ini berlangsung hampir 3 bulan.  

Sampai akhirnya si Ayah bisa menerima keputusan Izza, setelah membaca puluhan buku yang dibaca Izza. Si Ayah dalam tekanan dan kekalutannya, berusaha memahami Izza, melihat Izza dengan perspektif Izza, bukan perspektif dirinya. Ini terkadang yang jarang sekali dilakukan oleh Orang tua pada umumnya.

Kembali ke buku William, beda dengan Izza, William bertahan, dia berusaha memberikan berbagai solusi yang dihadapi saat menerima banyak tekanan dari guru dan sekolah
Sempat terbersit di pikiran saya, jika ke 950 murid saya memiliki pemikiran seperti William, tentu sekolah dan guru guru di sekolah saya akan bertambah cerdas. Saya bersyukur teman teman di sekolah saya sebagian besar sudah tidak seperti apa yang diceritakan William di bukunya. Mereka sudah lebih terbuka dan rasional menghadapi dinamika para siswa, sehingga perlakuan ke siswa lebih baik.

Di Bukunya tentang Pesan dari Murid untuk Guru Siapapun Bisa melakukan Kesalahan—sebenarnya lebih ke pesan seorang murid bernama William kepada murid yang lainnya di seluruh Indonesia. Saya sebagai guru yang membaca buku ini, merasa seperti mendapat hunjaman di dada berulang kali, saat guru berkata kasar ke murid, dan saat murid tersebut menjawab perkataan kasar gurunya.
Masih ada ya guru seperti itu saat ini---guru jaim, tidak mau mengakui kekeliruan, merasa selalu benar dan paling benar, tidak melihat murid dengan perspektif murid, suka berkata kasar dan menghina muridnya—mudah mudahan semakin kesini persentasenya semakin berkurang

Buku William ini bener bener menelanjangi guru dan sistem persekolahan sampai detil. Di dalam buku ini William tidak hanya mengungkap segala kekurangan lembaga sekolah dan gurunya, namun William menawarkan berbagai solusi yang bisa ditempuh. Tapi ya Will, kalau guru itu saya, dikritik semacam itu, saya pasti akan tertawa geli dan senang, karena kalian berani mengungkapkan opini kalian, karena saya termasuk guru yang nggak pernah mempermasalahkan apapun yang kalian bawa dari rumah (seragam, buku, tas, catatan, masalah dll). Saya juga bukan guru yang suka memberi PR atau tugas di rumah yang rumit, tugas saya di luar jam pelajaran hanya dikarenakan, tidak dimungkinkan di kerjakan di sekolah, karena faktor tempat dan waktu, dan yang pasti tugas tersebut bermanfaat (bukan nilai lho) …. Eits kok jadi pencitraan sih.

Saya juga akan komentar di buku ke 2 William Tiga Tahun dari Sekarang, hampir mirip dengan buku pertama William mengajak murid Indonesia untuk lebih kritis di Sekolah atas segala ketidakadilan yang sering mereka hadapi. William juga berkeras bahwa setiap anak Indonesia harus mengenyam pendidikan di Sekolah- yang bisa mengubah pendidikan Indonesia adalah murid murid itu sendiri

Saya beberapa kali terhenyak dengan pernyataan pernyataan William, namun saat saya membaca artikelnya tentang Tiga Pilar Pendidikan Indonesia, tentang Pikiran Kritis, Proses Dialogis dan Budaya Belajar Sepanjang Hayat, saya terus adem lagi—

Begini pertama membaca tulisan William saya kira atau beneran ya dia penentang unschooling, tetapi di artikelnya tiga pilar bagian terakhir William menulis
“jika proses belajar diselenggarakn secara berkelanjutan lewat pendidikan nonformal ataupun informal seperti melalui dialog terbuka, diskusi, sosialisasi, tentang hal tertentu, dan kursus keterampilan, maka disana telah terbentang esensi pendidikan. Dengan demikian, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia secara keseluruhan, terlepas dari apakah pemerataan pendidikan formal di seluruh daerah sudah dilaksanakan secara seimbang, budaya belajar sepanjang hayat menjadi solusi utama yang paling mungkin dilaksanakan, bahkan oleh setiap dari kita, karena didalamnya telah terkandung pikiran kritis dan proses dialogis yang dapat dimulai dari, oleh dan untuk kita demi menjaga kelangsungan kehidupan dan kepentingan bersama di tengah masyarakat”

Karena menurut saya sekolah tidak wajib, tetapi belajar wajib.
Belajar bisa dengan siapa saja, apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Pembentukan karakter tidak mudah dilaksanakan di sekolah, jika sekolah masih saja sama dengan yang digambarkan oleh William—tidak dapat saling menghargai, tidak dapat bertindak adil, dan tidak demokrastis, orientasi hanya angka dan ijazah. Tujuan belajar yang hanya nilai dan ijazah juga salah, seharusnya tujuan belajar supaya murid murid tersebut bisa berdaya sesuai kompetensinya, bermanfaat bagi diri dan lingkungannya, sehingga mereka menjadi manusia manusia sehat jasmani dan rohani

Sepanjang paradigma guru dan masyarakat belum berubah, sampai kapanpun peristiwa peristiwa ketidak adilan di sekolah akan terus berlangsung, demikian pula dengan tujuan belajar sepanjang hayat—merubah persepsi siswa bahwa tujuan belajar supaya mereka lebih berdaya, dapat memanfaatkan ilmu tersebut untuk diri mereka dan lingkungannya, bukan nilai dan ijazah semata juga tidak mudah, karena sistem pendidikan Indonesia masih menggunakan dua hal tersebut sebagai ukuran.

Non scholae, sed vitae discimus is a Latin phrase meaning We do not learn for the school, but for life, meaning that one should not gain knowledge and skill to please a teacher or master, but because of the benefits they will gain in their life.

Semangaattt!!...(^.^)/

2 komentar:

  1. Bu saya ingin share dn meminta pndapat ibu sy msh bersekolah di slh satu SMAN kelas 11, saya sudah tidak bersekolah smenjak smester 2 ini dan sering tidak sklh smnjak kls 11 krn sy tdk ingin dan tidak nyaman brsklh dsitu lagi. Tidak ada satupun yg bisa mengerti saya, apa yg harus sy lakukan ? trmakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting adalah tidak berhenti belajar, dimanapun itu, karena belajar memang tidak hanya di sekolah.
      Yang harus dilakukan adalah buktikan kepada dunia, bahwa Ananda tetap dapat berarti bagi keluarga dan masyarakat, atas keputusan untuk tidak belajar di sekolah.

      untuk ijazah, kalau mau bisa diperoleh dengan mengikuti kegiatan di PKBM, ijazah yang dikeluarkan setelah mengikuti ujian paket C, dapat digunakan untuk mendaftar kuliah juga

      Tapi yang paling penting adalah terus belajar, belajar apa saja, dimana saja, dengan siapa saja, dan apa saja, sesuai dengan minat dan kebutuhan Ananda

      Semangaaattt!!.. (^.^)/...
      Kalau masih bingung bisa japri ke leaguie@gmail.com

      Hapus