Kamis, 04 Agustus 2011

Freedom Learner....


Dua hari yang lalu, kami saya dan beberapa teman, berkunjung ke Qaryah Thayyibah, Kalibening dan sekali lagi saya bertemu sosok bersahaja dan baik hati Bahruddin.

Pembicaraan yang selalu menarik, walau berulang kali saya berdiskusi, sharing dengan beliau. Kali ini pembicaraan kami mulai dari latar belakang Bahruddin membuat komunitas belajar QT. Awalnya Bahruddin sudah mulai resah, melihat kenyataan buruknya sistem pendidikan Indonesia. Pak Din, panggilan akrab Bahruddin, terinspirasi dari diskusi-diskusi beliau dengan George Yunus Aditjondro, buku-buku Paulo Freire dan Deschooling- Ivan Illich. Dengan latar belakang keresahan tersebut, dipicu dengan mahalnya biaya pendidikan saat putranya masuk SMP, pak Din mengumpulkan warga desanya sekitar 30 orang untuk membuat komunitas belajar dan 12 orang dari 30 tersebut menyetujui membuat komunitas belajar di desa Kalibening.

Yang menarik disini adalah cara pandang penduduk desa yang berani berbeda, berani “gila”untuk lepas dari pendidikan formal dan ijazah, untuk mengejar kemerdekaan belajar.

Anak-anak yang keluar dari belenggu sekolah, akhirnya menemukan kemerdekaannya. Mereka bisa belajar apa saja sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang mereka miliki tanpa batas. Peristiwa 6 tahun yang lalu itu kini telah menghasilkan beberapa penulis, komikus, pelukis, pemusik, pembuat film, dan yang terpenting dari itu semua, mereka semua tidak berhenti untuk terus belajar memberdayakan apa yang ada pada diri mereka dan lingkungan terdekat mereka. Kini anak-anak tersebut mendirikan Universitas Kehidupan yang sering mereka sebut UK, mereka ada yang bekerja di pabrik, jadi karyawan atau melanjutkan kuliah di Bandung, Yogya, Jakarta—namun mereka semua masih bisa berkumpul dan belajar bersama di UK baik bertemu tatap muka maupun lewat dunia virtual.

Ada seorang anak yang kini tetap bekerja di Pabrik sekaligus kuliah di UK, tujuannya bekerja untuk membeli peralatan film, sehingga dapat membuat film yang ia impikan, ada juga yang ingin membeli laptop supaya dapat lebih efisien menuliskan semua ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan.
Jadi tetap saja, tujuan belajar mereka adalah memberdayakan semua yang ada pada diri dan lingkungan sekitar mereka untuk dapat mewujudkan kesejahteraan diri dan orang-orang disekitarnya.

Sebenarnya itulah tujuan belajar yang hakiki, anak-anak ini memegang teguh idealism yang ada pada diri mereka, di tengah carut marut kondisi perekonomian, politik dan pendidikan di negaranya, mereka berani berkata inilah yang bisa mereka lakukan untuk Negara tercintanya, tidak perlu ijazah dan transkrip nilai tapi mereka tetap bersemangat untuk terus berkarya dan belajar dari kehidupan ini, sehingga mereka dapat mensejahterakan orang-orang di sekitar mereka

Kamis, 21 Juli 2011

[KLIPING] Deep Understanding - Rhenald Kasali

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/414362/34/__

Salah satu teka-teki yang masih saya ingin tahu jawabannya sepanjang
lebih dari 25 tahun menjadi pendidik adalah: mengapa anakanak kita
kesulitan mengungkapkan isi pikirannya?


Maksud saya,kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepatcepat selesai. Selain tidak argumentatif, terasa miskin dalam konsep.Di Harvard Michael Porter, guru besar ilmu manajemen terkemuka yang menularkan metode pengajaran partisipatif pernah memberi tahu resepnya.

 ”Ajukan cold call, tunjuk seseorang secara mendadak, lalu gali perlahan-lahan. Mereka mungkin kurang siap, tetapi buatlah sebersahabat mungkin agar mereka nyaman berbicara.” Saya pun menerapkannya, dan ternyata hanya berhasil di tingkat pendidikan S-2 dan S- 3. Di tingkat S-1, saya butuh waktu banyak sekali untuk menggali dan mengeluarkan isi pikiran mahasiswa saya.

Dan kalau dikejar lebih jauh, mereka menjawab seragam: ”Ya gitu deh!” Dan kalau sudah mentok, keluarkanlah jargon asyiknya: ”Au ah, gelaap…” Tetapi,saya tidak menyerah. Sampai di pertengahan semester, satu persatu mulai berani memberi jawaban yang agak panjang, lebih panjang, lebih menyatu, dan sistematis.

Dan tahukah Anda, di situlah letak kebahagiaan seorang pendidik, yaitu saat anak-anaknya mendapatkan apa yang disebut ”deep understanding”.

Kamis, 14 Juli 2011

[KLIPING] Sindo 14 Juli 2011 - Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?

by Rhenald Kasali on Thursday, July 14, 2011 at 6:26am
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/


Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai.  Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.

Bagaimana anak-anak kita sekarang?  Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook, Twitter, online games, warnet, dan bimbel.  Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software.  Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?

Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak.   Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran,  seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran.  Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity", kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".

Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan.  Bagaimana di sini?  Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan.  Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus.  Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.

Kamis, 07 Juli 2011

[KLIPING] Sekolah untuk Apa?

By. Rhenald Kasali
Thursday, 07 July 2011
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Rabu, 22 Juni 2011

[KLIPING] Multiple Intelligence yang bikin pusing di Indonesia…

by Adi D Adinugroho-Horstman on Friday, June 11, 2010 at 12:44pm

Membicarakan teori MI selalu saja banyak kontroversinya. Sebenarnya kontroversi seputar teori dan filosofikal pemikiran dibaliknya merupakan suatu hal yang lumrah dalam dunia ilmu pengetahuan. Setiap orang berhak mengeluarkan beragam teori baru apapun itu. Di dunia ilmu pengetahuan empiris biasanya setiap ada teori baru yang muncul (dan menarik) maka akan banyak yang meneliti dan membahas teori tersebut terutama pada bidang keilmuan yang terkait erat areanya dengan teori baru tersebut. Penelitian, bahasan dan diskusi-diskusi disertai controversial polemic dalam bentuk tulisan ilmiah, artikel ilmiah maupun debat-debat langsung dalam forum-forum dan konferensi akadamis terhapad teori baru biasanya meliputi :

1. Filosofi pemikiran teori tersebut

2. Metoda dan kerangka berpikir dari teori yang dimaksud

3. Apakah ada latar belakang pendukung dari teori-teori sebelumnya dan peneliitan-penelitian
terdahulu.

4. Apakah Teori tersebut dapat dibuktikan dalam artian : bisa diukur dan dibedakan variable-variable
yang akan di ukur.

5. Bisa di wujudkan dalam penelitian-penelitian empiris untuk pembuktiannya

6. Bisa di cobakan metode-metode aplikasi berdasarkan teori tersebut kedalam kehidupan
masyarakat dan apakah bermanfaat untuk di cobakan.

Ke enam hal diatas hanya sebagian kecil dari area yang biasanya dilihat di dalam penemuan suatu teori baru. Dan sebelum teori tersebut di terapkan langsung dan di aplikasikan ke masyarakat luas, biasanya diperlukan pembuktian-pembuktian yang signifikan yang menunjang kebenaran teori tsb. Bila sudah ada pembuktian-pembuktian melalui riset-riset empiris dengan jumlah yang cukup banyak dan samplenya mewakili populasi yang ditargetkan, barulah metode dengan teori yang dimaksudkan dapat diterapkan secara bertanggung jawab terhadap masyarakat dan dapat di generalisasikan bagi populasi umum.

Apa sih Multiple Intelligense(MI) itu dan bagaimana koq sampai muncul teori tersebut.

Teori MI dicetuskan oleh Dr. Howard Gardner, salah satu professor di fakultas pendidikan Havard University. Dari beragam penelitiannya di area dunia pendidikan Dr. Gardner melihat adanya ketidak lengkapan pada standard tes IQ conventional yang umum digunakan dan pada konsep kecerdasan secara umum. Menurut beliau standard tes IQ yang sudah ratusan tahun teruji validitas dan reliabilitasnya itu serta teori-teori klasik yang menjelaskan konsep dasar kecerdasan manusia itu tidak lengkap dalam menggambarkan kecerdasan manusia. Alasannya kecerdasan manusia adalah suatu permasalahan yang sangat kompleks, sementara standard IQ test hanya dapat menjelaskan sebagian kecil kemampuan berpikir manusia, yaitu kemampuan-kemampuan berpikir yang berdasarkan pada kemampuan verbal dan matematikal saja. Beliau menolak pemahaman klasik seputar konsep kecerdasan bahawa kecerdasan dasar/potensi yang dimiliki setiap manusia sejak lahir adalah berbeda-beda. Dan karena potensi dasarnya berbeda-beda, maka dalam pencapaian kecerdasan aktual (prestasi) pada setiap orang pun berbeda-beda.

Menurut beliau semua manusia terlahir dengan potensi dan kecerdasan yang sama. Sementara faktor lingkunganlah yang dapat meciptakan kecerdasan-kecerdasan yang beragam-ragam. Menurut beliau IQ test yang ada sekarang ini salah dalam mengintepretasikan konsep kecerdasan manusia, Karena kecerdasan manusia itu lebih besar dari gambaran yang diberikan oleh konsep IQ (Intelligence quotient) karena di dalamnya banyak hal/fenomena dan prilau manusia yang tidak bisa dijelaskan dalam konsep IQ tersebut, dank arena konsep IQ begitu sempit maka standard IQ test pun hanya bisa mengukur sebagian kecil kemampuan berpikir manusia. Beliau mencontohkan dalam interviewnya dengan BBC di tahun 2006 bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh seorang artis (pelukis) misalnya bisa saja berbeda dengan kecerdasan yang dimiliki oleh seorang pilot, karena dua area tersebut menggunakan pola berpikir yang berbeda, beliau berpendapat bila saja kita melihat konsep kecerdasan secara berbeda, maka akan lebih banyak kecerdasan-kecerdasan yang bisa kita lihat begitu kira-kira yang beliau utarakan di dalam interview tersebut. Maka di dalam teorinya berdasarkan penelitian studi kasus yang dilakukannya beliau pun mengusulkan untuk melihat kecerdasan dalam bentuk yang berbeda, menurut teori yang di usulkannya ada 7 area kecerdasan (tadinya hanya 6 lantas berkembang jadi 7) yang bila diartikan secara harafiah sebagai berikut :

1. Kecerdasan linguistic atau kecerdasan berbahasa (linguistic intelligence)

2. Kecerdasan logika dan matematika (Logical, reasoning mathematical intelligence)

3. Spatial intelligence (spatial = kemampuan melihat bentuk/ruang/gambar…saya nggak tahu kata yang paling tepat untuk ini apa jadi biar nggak lost in translation saya sebut saja spatial ya).

4. Bodily –kinesthetic intelligence (kemampuan olah tubuh/olah raga, motor kasar, motor halus)

5. Kecerdasan bermasyarakat/bersosial/berinteraksi dengan manusia lain (Inter personal intelligence).

6. Kecerdasan di dalam diri sendiri (Intrapersonal intelligence/self smart)

7. Naturalist intelligence (nature smart) atau kecerdasan natural

Teori kecerdasan yang diusulkan beliau ini adalah berdasarkan riset dalam bentuk case study 2 individu yang memiliki kondisi khusus (cidera otak) dan Idiot Savant (contoh kasusnya Nadia, yang kemampuan matematika luar biasa, tetapi dalam test IQ masuk ke dalam kategori mental retardasi). (Gardner 1983,1999).

Selasa, 21 Juni 2011

[KLIPING] Debunking the Case for National Standards

Debunking the Case for National Standards
One-Size-Fits-All Mandates and Their Dangers
By Alfie Kohn
Source : http://www.alfiekohn.org/teaching/edweek/national.htm
[This is a slightly expanded version of the article published in
Education Week’s annual “Quality Counts” issue.]


I keep thinking it can’t get much worse, and then it does.  Throughout the 1990s, one state after another adopted prescriptive education standards enforced by frequent standardized testing, often of the high-stakes variety.  A top-down, get-tough movement to impose “accountability”– driven more by political than educational considerations – began to squeeze the life out of classrooms, doing the most damage in the poorest areas.

By the time the century ended, many of us thought we had hit bottom – until the floor gave way and we found ourselves in a basement we didn’t know existed.  I’m referring, of course, to what should have been called the Many Children Left Behind Act, which requires every state to test every student every year, judging students and schools almost exclusively by their scores on those tests, and hurting the schools that need the most help.  Ludicrously unrealistic proficiency targets suggest that the law was actually intended to sabotage rather than improve public education.

Today we survey the wreckage.  Talented teachers have abandoned the profession after having been turned into glorified test-prep technicians.  Low-income teenagers have been forced out of school by do-or-die graduation exams.  Countless inventive learning activities have been eliminated in favor of prefabricated lessons pegged to numbingly specific state standards.
And now we’re informed that what we really need . . . is to standardize this whole operation from coast to coast.
Have we lost our minds?  Because we’re certainly in the process of losing our children’s minds.
To politicians, corporate CEOs, or companies that produce standardized tests, this prescription may seem to make sense.  (Notice that this is exactly the cast of characters leading the initiative for national standards.)  But if you spend your days with real kids in real classrooms, you’re more likely to find yourself wondering how much longer those kids -- and the institution of public education -- can survive this accountability fad.

Rabu, 15 Juni 2011

Kenapa sampai sekarang kita berdua masih bertahan menjadi Guru?

Sumber : http://surabaya.detik.com/
Permasalahan yang terjadi belakangan ini di SD Gadel 2 Surabaya, sebenarnya juga terjadi di sebagian besar sekolah di seluruh Indonesia, yang menggunakan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan anak didiknya.
Seorang teman yang guru juga terusik sekali dengan keadaan ini, seolah kami tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah ataupun mengungkap segala kecurangan yang dilakukan di sekolah tempat kami mengajar.
Hingga terlepas beliau mengatakan “ingatkan saya, kenapa sampai sekarang kita berdua masih bertahan menjadi guru?”

Jawaban saya, paling tidak kita masih bisa memprovokasi anak-anak tentang moral, kejujuran, untuk berani bermimpi, berani beropini, dan terlepas dari carut marutnya UN dan sistem pendidikan kita.

Peristiwa 2 tahun yang lalu, ketika saya mengungkap bullying di sekolah antara guru dan murid, hingga terancam dimutasi dan dicopot jadi Guru, memang sempat membuat saya berpikir untuk pindah, merasa tidak pantas jadi guru lagi, pergi dari sekolah itu, bahkan sempat terpikir untuk mendirikan sekolah sendiri yang sesuai dengan idealism pendidikan hakiki yang tentu saja salah satunya tidak pakai UN sebagai standar kelulusan.

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...