Sebenarnya seperti pertanyaan sambil lalu, tapi saya jadi kepikiran
"Lea, tetep akan terus nih jadi guru?"
belum sempet jawab, karena saya punya cita-cita even saya nanti professor, saya tetep pingin ngajar anak-anak Madrasah Aliyah. Saya pernah menulis mengapa saya tetap bertahan walau sulit mensingkronkan antara idealisme pendidikan dan hati nurani dengan sistem pendidikan di Indonesia
disini
____________________________
 |
| jengglong yg sebelah kiri ada di tengah sawah |
Saya memang guru, namun 3 anak saya tidak sekolah, karena mereka tidak cocok dengan cara belajar di sekolah, si sulung minta sendiri keluar dari sekolahnya setelah 6 bulan merasakan belajar jadi anak kelas 1 SD, dan sepertinya adiknya yang 4 tahun juga sama, karena sudah terpola dengan suasana belajar di rumah.
Belajar disini, bukan duduk diam menyimak buku-buku pelajaran yang sesuai umur mereka, namun belajar apa saja, dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja sesuai dengan kebutuhan dan apa yang sedang mereka lakukan.
Misal, Raihan 10 th dan adiknya Rora 4 th mereka suka sekali main di Jenglong (mata air yang dijadikan tempat pemandian) yang letaknya di tengah sawah, mancing di kali, bikin bendungan, main di sawah, main petak umpet, dan masih banyak lagi. Lalu dimana belajarnya? disitulah mereka belajar tentang air, habitat air, ekosistem di sawah, bersosialisasi, belajar tentang Ikan, (setelah mancing, Ikan mereka bakar terus dimakan sama-sama), juga ketika menemukan banyak keong emas di sawah.
Bagaimana dengan matematika, mereka belajar langsung ketika saya minta tolong dibelikan gula pasir di warung, berapa uang dibawa, berapa harga gula berapa pula kembaliannya, ketika harga gula naik,mereka jadi belajar mengapa harga gula bisa naik, apa sebabnya?
Bagaimana dengan karakter?
karena belajar nya fleksible
dan menggunakan resource apa saja yang ada di rumah termasuk
kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai yang ada di keluarga saya, semuanya
jadi include dalam pembelajaran anak-anak.
Character first, jadi lebih bisa tertanam karena mereka belajar di rumah
Seperti Raihan sejak usia 7 tahun dia sudah tidak perlu diingatkan lagi
untuh sholat 5 waktu dan puasa ramadhan full, demikian juga rasa
tanggungjawab yang terbangun, seperti membersihkan kamar tidur, menjaga
adiknya, cuci piring setelah makan, buang sampah ditempatnya dan hal-hal
kecil lainnya jadi lebih mudah ditanamkan
Di kuliah umum Institut Ibu Professional bertajuk 1001 cara mendidik anak di Rumah--
 |
| Ellen Kristi |
Ellen Kristi (founder web
Charlotte Mason Indonesia) mengungkapkan bahwa dalam mendidik anak di rumah, dibutuhkan cinta yang berpikir, maksudnya orang tua dituntut untuk merumuskan sendiri apa tujuan pendidikan bagi anak-anaknya, karena tujuan pendidikan ini penting untuk menentukan apa saja yang mesti dilakukan oleh sebuah keluarga. Yang terpenting kesadaran orang tua bahwa setiap anak itu unik dan memiliki potensi yang berbeda-beda. Disinilah intinya orang tua dan anak harus sama-sama belajar.
Bagi Mira Julia atau Lala (founder web
Pelangi Nada) --keluarga adalah pusat tata surya, dan ibu adalah mataharinya sehingga seorang ibu HARUS bahagia, karena dari ibu yang bahagia inilah akan menciptakan suasana rumah yang menceriakan bagi anak anak dan keluarga.
Menurutl Lala, apa yang ada di rumah juga kesehariannya bisa dijadikan bahan belajar luar biasa, belajar dari apa saja yang ada di sekitar kita dengan semangat dan niat juga kekompakan antara suami dan istri. Salah satu contohnya bisa disimak
disini
 |
| Lala |
Mengendalikan emosi juga menjadi pembelajaran selanjutnya bagi orang tua, karena jika tidak, jangan-jangan saat menurut kita anak-anak "berisik", "berantakin", dan "nyebelin" itu adalah Aha moment mereka, klik mereka untuk keingintahuan yang maha dahsyat yang membawa mereka menjadi pembelajar sejati, yang akan menentukan arah hidup mereka selanjutnya.
Berikutnya masalah ibu bekerja dengan anak HS, seperti Wiwiet Mardiati, pertimbangan HS nya simpel, dia tidak mau diatur dalam pendidikan anaknya, tapi dia maunya sebagai subyek yang menentukan bagaimana anaknya dididik--menurut saya, memang fitrahnya ibu atau orang tua adalah guru yang paling baik bagi anak-anaknya--
Untuk mengatur kebersamaan dengan Atala putranya yang HS, tips yang diberikan wiwiet adalah mengajak dan melibatkan Atala (7th) dalam pekerjaan Wiwiet sebagai dosen. Selain menumbuhkan kebersamaan, juga pengalaman terlibat dengan orang yang lebih dewasa di sekitar ibunya, inilah inti sosialisasi yang tidak didapatkan di sekolah.