Minggu, 31 Mei 2026

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini, semakin banyak yang dipikirkan jika ingin menuliskan sesuatu - nggak pede dan nggak seenteng dulu

Tapi terus terang membaca buku Fathul Wahid ini membuat dada saya kembali menggemuruh, api kecil yang tersimpan tenang selama ini seperti tersulut, saya nangis 

Seinget saya baru buku ini yang melihat realitas masyarakat secara utuh walau lewat novel, yang jelas novel mengingatkan kembali cerita Bahruddin saat mulai membuat komunitas belajar Qaryah Thoyibbahnya, mulai dari keresahan Bahruddin dan tetangga tetangganya tentang susahnya masuk SMP Negeri, hingga akhirnya komunitas tersebut berdiri dan bertumbuh hingga sekarang, yang kemudian jadi salah satu inspirasi mimpi saya tentang sebuah sekolah  

Sekolah terkhir ini menurut saya membagi beberapa segmen yang dibahas, tentang kurikulum, biaya sekolah, murid, guru dan kemudian peran orang tua, orang tua diajak diskusi kurikulum, biaya sekolah, murid dan asesmen.

Buku ini bercerita tentang Firman dan teman temannya (Maya, Siti,dan Raka) yang ingin menghidupkan kembali sebuah sekolah yang akan ditutup

Penulis banyak mengangkat  pandangan Freire dan Ivan Illich, walau begitu pilihan kata yang dipilih dan bahasan diskusi yang relate dengan kenyataan membuat pandangan Freire dan Illich jadi lebih mudah dipahami.

Tulisan yang saya suka pada bagian - "menjaga idealisme bukan berarti menutup telinga terhadap kecemasan orang tua, tetapi bagaimana anak anak siap menghadapi sistem, sambil tetap menaman keberanian untuk berpikir kritis terhadap sistem itu. Lentur tanpa kehilangan arah". - panjang umur perjuangan yay -

Idealisme yang justru dipandang aneh ini bikin sedih, sesempit itu yang terjadi di dunia pendidikan kita?

Sebutan pendidikan alternatif ini juga sedih ya, bukankah pendidikan semestinya seperti itu, mendampingi setiap anak untuk bertumbuh sesuai kompetensinya masing masing, menerima anak anak apa adanya, tidak dibentuk dilekuk-lekuk sesuai keinginan orang dewasa di sekitarnya, yang ditumbuhkan adalah kesadaran diri, karena belajar untuk mempersiapkan hidup- bukan sekedar angka dan ijazah - jangan meremehkan anak anak dengan ukuran angka dan ijazah

Balik lagi ke buku ini ya, saya suka cerita perdebatan orang tua tentang sistem yang digunakan di sekolah ini, ketakutan orang tua pada cara belajar yang berbeda dari sekolah pada umumnya, takut tertinggal, takut tidak lolos masuk SMP Favorit dan pada perdebatan tersebut penulis membiarkan orang tua berpikir tentang belajar anaknya, tentang perubahan yang terjadi pada anaknya dan tentang keresahan mereka sendiri terhadap masa depan anaknya 

Sebetulnya kerepotan bisa ditambah jika gurunya juga tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan, tapi ini nggak ya, gurunya udah sefrekuensi bahkan guru seniornya pun percaya apa yang dilakukan Firman dan teman temannya. Andai beneran punya temen diskusi seperti Firman, Maya, Siti dan Raka waah...

Buku ini mencerahkan, menambah keyakinan saya tentang pendidikan yang memerdekakan. 

Terimakasih Prof. Fathul Wahid - panjang umur perjuangan

Minggu, 30 Mei 2021

Menjadi Instruktur

Pengalaman berikutnya sejak pandemi tepatnya mulai 13 Oktober 2020, saya diajak mas Aye - menjadi instruktur pengajar praktik guru penggerak untuk dua modul yang dia susun, modul 1 mengenai peran guru penggerak dan masa depan Indonesia dan modul 3 tentang kepemimpinan dalam transformasi pendidikan Indonesia. 

Oya sebelumnya bulan April 2020, saya diminta untuk menjadi reviewer modul mereka, khususnya modul 2 mengenai Pendidikan yang Memerdekakan, mengapa diminta jadi reviewer karena disertasi saya mengenai merdeka belajar 

Benar saja, saya beruntung sekali terlibat dalam program guru penggerak Kemendikbud, (walau saya guru Madrasah dari Kementerian Agama), banyak hal baru yang saya pelajari, ilmu baru, budaya kerja baru, namun tidak sulit mengikutinya karena mas Aye dan kami tim instruktur sudah se frekuensi se pandangan mengenai pendidikan yang memerdekakan, kami sama sama sering diskusi di komunitas guru belajar, sejak 2017 pertama saya gabung (disini ceritanya http://untukanakbangsa.blogspot.com/2017/02/guru-merdeka-belajar-vs-guru-nggak-mau.html)

Modul modul guru pengajar praktik dan guru penggerak berbeda pengembangnya, namun di desain terintegrasi satu sama lain, alur yang digunakan menggunakan alur MERRDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Refleksi Terbimbing, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata) dan disetiap tahapan alur isinya aktivitas seru yang diharapkan dapat merubah paradigma para pengajar praktik dan guru penggerak.
Sedikit bocoran ya..
Modul 1 mengenai Peran Guru Penggerak dan Masa Depan Indonesia, di modul ini peserta akan diajak untuk merubah mindset menggunakan konsep piramida terbalik - hari kedua

Modul 2 mengenai Pendidikan yang Memerdekakan, di modul ini peserta akan diajak berefleksi dan kemudian mengkaji filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara - hari ketiga dan keempat

Modul 3 mengenai Kepemimpinan dalam Transformasi pendidikan Indonesia, peserta akan merancang lebih detail lagi transformasi pendidikan yang dilakukannya dengan model 5D Inkuiri apresiatif yang dikembangkan di Indonesia menjadi BAGJA - hari kelima

Modul 4 mengenai teknik Fasilitasi, ini keren juga, peserta dilatih menjadi fasilitator yang baik dan benar hehe - di Angkatan 2 saya menjadi instruktur modul ini, fase tahapan fasilitasi dijelaskan gamblang dan dipraktikan, sehingga peserta paham betul bagaimana seharusnya menjadi fasilitator - hari keenam

Modul 5 mengenai Coaching, yang ini bikin saya iri ke peserta, karena mereka diajarin teknik coaching oleh certified coach lhoo, you know untuk dapet certified coach ini gak gampang dan gak murah - hari ketujuh dan kedelapan

Modul 6 membungkus mengintegrasikan ke 5 modul yang ada, peserta setiap hari harus melakukan refleksi dengan berbagai metode refleksi yang ditawarkan, modul ini disampaikan di hari pertama dan ke sembilan

Itu baru modul pengajar praktik yang akan mendampingi guru penggerak, satu pengajar praktik akan mendampingi 5 guru penggerak. Modul pengajar praktik ini akan disampaikan selama 9 hari di tambah sesi bersama fasilitator selama 5 hari.

Kira kira begitu urutan peran instruktur, PP dan GP

Modul Guru penggerak ada 10 modul juga dari modul 1.1 - modul 3.3 bisa liat di medsos, mungkin pernah denger hebohnya bu Adriana, itu sebetulnya contoh kasus di salah satu modul yang membahas mengenai Social Emotional Learning. Oke baiklah saya akan bocorin yang dipelajari peserta GP ya, yang pertama, Filosofi KHD, Peran dan Nilai guru Penggerak, Visi guru penggerak, Disiplin Positif, Dieferensiasi, Social Emotional Learning, Coaching, Keputusan berbasis Etika, Kepemimpinan berbasis aset dan yang terakhir Mengembangkan Sekolah yang Berpihak pada Anak. 10 modul ini akan dipelajari peserta Guru Penggerak selama 9 bulan, secara blended learning. 

Keseruan menjadi instruktur pengajar praktik dan guru penggerak ini justru lebih pada keberuntungan saya bisa belajar buanyak hal, apalagi di angkatan 2 saya diminta bantu bantu untuk sedikit edit modul mas Aye, yang waktu itu lagi ada komitmen lain yang tidak bisa ditinggalkan. Gara gara ini jadi kerasa betul deh ritme kerja mereka. Jadi dalam satu program guru penggerak ini ada tim yang terdiri dari pengembang modul, tim LMS, tim SimPKB, tim GTK Kemendikbud dan tim Konsultan 

Sebelum masuk ke angkatan berikut nya, sekarang angkatan 3 PP, kami melakukan refleksi dulu, terhadap program yang sudah berjalan di angkatan sebelumnya yaitu angkatan 2, refleksi ini difasilitasi oleh para konsultan, timnya bu Wei Han (saya ketemu baru pertama kali, tapi dapat banyak ilmu dan inspirasi dari beliau love love pokoknya). Pada tahapan refleksi kami dibagi menjadi kelompok dengan bahasan yang berbeda, dari modul, lms, dan penilaian. Kami diminta diskusi, apa yang sudah baik, apa tantangannya, bagaimana solusinya dan siapa aktor yang berperan, dari hasil refleksi tiap kelompok ini menjadi masukan untuk ditindaklanjuti di angkatan 3.

Itulah mengapa selama bulan puasa kemarin saya pergi pulang berkali kali, refleksi, tindak lanjut 1, tindak lanjut 2, persiapan penyamaan persepsi instruktur angkatan 3. Seminggu kemarin tgl 23 - 29 adalah minggu yang luar biasa karena marathon kegiatan.



                                                               Selesai kegiatan refleksi

 

                 Tindak lanjut tahap 1 hasil refleksi, kami dibagi tim, saya wakil instruktur ini sama tim LMS


ini Finalisasi beberapa panduan hasil refleksi (tindak lanjut tahap 2)

ini penyamaan persepsi instruktur Pengajar Praktik untuk semua modul 1- 6

Nah yang seru lagi, beberapa kegiatan bersamaan pada saat menjadi instruktur guru penggerak, seperti kemarin waktu saya berangkat, 27 Mei, bebarengan ngajar modul 1.2 untuk angkatan 2 calon guru penggerak (CGP) - jadi begitu sampai hotel, langsung cus ngajar, terus pulangnya tanggal 29 Mei, bebarengan ngajar modul 3.3 untuk angkatan 1 CGP, uwoo deh pokoknya

ini sampai hotel langsung cus ngajar dari jam 13.00 - 17.00
yang ini begitu sampai rumah langsung cus ngajar dari jam 10.00 - 15.00

Do'akan sehat sehat yaaa... Aamiin, semua juga, semangat dan sehat selalu yaa...











Rabu, 22 April 2020

SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA MEMPRIHATINKAN

Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2006 (kalau dirujuk dari buku yang saya baca, Sekolah itu Candu nya -Roem Topatimasang, untuk website pendidikan.net mungkin) - saya udah lupa, karena saya cari websitenya sudah tidak ada. Tapi tulisan ini dicopas di berbagai website, blog - banyak banget. Ketik saja nama lengkap saya atau judul diatas, pasti keluar dimana mana.

What I want to say adalah, menulis ini jaman dulu 14 tahun yang lalu menyeramkan bagi saya, nulisnya aja pakai emosi dan deg deg ser, sampai di sidang segala guru kok gak setuju ma UN..., tapi kalau bacanya di kontek sekarang, yang malah UN udah dihapus, tulisan ini B aja (pinjem istilahnya Rora)
--------
Sistem pendidikan saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun pada kenyataannya di lapangan, sering kali saya lihat nilai raport yang dimanipulasi, jarang bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar, karena tidak boleh ada nilai 4 atau 5 di raport dan lain sebagainya. Mengapa guru bersikap demikian, mengapa nilai siswa-siswa banyak yang belum tuntas, salahkah guru?? Jawabannya bisa ya bisa tidak, bisa ya karena mungkin guru tersebut tidak memiliki kompetensi mengajar yang memadai, bisa tidak, karena sistem pendidikan Indonesia mengharuskan siswa mempelajari bidang studi yang terlalu banyak. Rata-rata bidang studi yang harus mereka pelajari selama satu tahun pelajaran adalah 16 bidang studi, dengan materi untuk tiap bidang studi juga banyak, abstrak dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Terus terang dalam hal ini saya lebih senang menyalahkan sistem pendidikan Indonesia, sistem pendidikan kita terlalu memaksa anak untuk dapat menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian abstrak, yang selanjutnya membuat anak merasa tertekan/stress yang dampaknya membuat mereka suka bolos, bosan sekolah, tawuran, mencontek, dan lain-lain. Yang pada akhirnya mereka tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, nilai mereka kurang padahal sudah dilakukan remidi, dan supaya dianggap bisa mengajar atau karena tidak boleh ada nilai kurang atau karena kasihan beban pelajaran siswa terlalu banyak, kemudian guru melakukan manipulasi nilai raport. Nilai raport inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk memperoleh beasiswa atau melanjutkan kuliah atau ikut PMDK dan lain sebagainya. Tahukah siswa akan kenyataan pahit ini? Lalu apakah UN solusi untuk melihat kemampuan siswa? Bukan, karena UN tidak adil, bahwa kemampuan siswa tidak dapat distandardisasi.

Jumat, 10 Januari 2020

Diskusi Merdeka Belajar

Beruntung sekali Salatiga memiliki temen teman di bidang pendidikan yang concern dan kritis terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak Indonesia. Selasa, 7 Januari 2019 - kami berkumpul ngobrol bareng tentang Merdeka Belajar - awalnya hanya diskusi ringan di grup whatsapp alumni MMP (Magister Manejemen Pendidikan) UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), tentang sekolah menyenangkan kemudian merembet ke Merdeka Belajar, lalu salah satu alumni yang juga Kepala Sekolah mengusulkan untuk menyelenggarakan FGD (Forum Group Discussion) tentang Merdeka Belajar, di sekolahnya.

Ketika list kehadiran dishare di dua grup - grup Komunitas Guru Belajar (KGB) Salatiga dan grup Alumni MMP UKSW - banyak yang daftar mulanya dibatasi 20 akhirnya mbludak sampai 40 peserta
Peserta diskusi ini adalah KaDinas yang keren ibu Yuni Ambarwati, karena semangat sekali mengikuti diskusi dari awal hingga akhir, ada Dr. Bambang Ismanto dari UKSW, selaku inisiator dan wakil dosen, Bahruddin - anggota BAN PT juga founder Qaryah Thayyibah sekolah alternatif yang sudah berdiri 16 tahun, juga temen saya curhat pas peristiwa 10 tahun lalu itu, berbagai komunitas juga hadir selain KGB Salatiga tentunya, ada komunitas kampung juara, ada komunitas belajar ruang bintang, beberapa kepala sekolah dan guru dari TK - SMA juga hadir
Berikut resume dari diskusi kemarin - tapi insyaAllah tidak mengurangi makna dari pembicaraan teman teman narasumber, dan peserta diskusi. Narasumber diskusi ini adalah KaDinas, Bahruddin - QT dan Andy - dari KGB Salatiga, dengan moderator bapak Bambang Ismanto.

Kamis, 05 Desember 2019

Hari Guru kali ini...

Sebagai seorang guru madrasah, dibawah Kementerian Agama RI -

Begini - guru di Indonesia dibagi dua guru sekolah umum dibawah Kemdiknas, contohnya guru TK/SD/SMP/SMA baik negeri ataupun swasta, baik yang ada ciri khusus agama - asal menyebut di depannya TK/SD/SMP/SMA maka dia dikelola Kemdiknas, dari sarpras sekolah sampai guru gurunya.
Sedangkan guru RA/MI/MTs/MA dikelola oleh Kemenag walaupun yang diajarkan sama, kurikulum yang digunakan juga sama, yang berbeda hanya ada tambahan mata pelajaran agama seperti SKI, Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadis dan kadang ditambah Ilmu Kalam dll - jadi disamping mapel umum seperti disekolah lain yang sekitar 10 - 15 itu masih ditambah lagi mapel agama Islam.
Nah kami gurunya langsung berhubungan dengan Kementerian Agama Pusat - ASN nya pun ASN pusat sebutannya, karena Kemenag tidak ada Otda

Sejak tahun kurang lebih 2017 sejak Pendis dipecah menjadi dua KSKK (bidang kurikulum) dan GTK (bidang guru dan tenaga kependidikan) sejak kami terdaftar di Simpatika dan guru kemdiknas di Dapodik - itulah saya sebagai guru Kemenag sudah tidak bisa lagi mengikuti event event yang diselenggarakan Kemdiknas, demikian pula teman teman Kemdiknas

Senin, 04 November 2019

Tentang Ketrampilan Self-Regulated Learning

Tulisan tulisan beberapa bulan belakangan ini membosankan ya - lagi sok sokan gaya nulis beberapa untuk artikel - biar nggak ujian terbuka, saya pingin bikin 2 artikel untuk jurnal internasional Scopus Q3 (syarat dari progdi -) ini uwo banget - pengalaman pertama, 2 artikel kualitatif, dan 3 artikel kuantitatif (yang udah jadi, artikel meta analisis, dan multivariat) masih kurang 3 artikel lagi - belum plus disertasi yang galau pinginnya kualitatif, tapi masih menunggu keputusan promotor

Untuk diketahui, masukin jurnal internasional itu bisa berbulan bulan dari review sampai approve, cerita dari kakak kelas, lebih sulit bikin artikel untuk jurnal internas, daripada disertasi (aaah mereka tuh ya bisanya nakutin saya aja....) - target beasiswa hanya 6 semester, dan sekarang udah jalan separo dan belum ada kemajuan

Seruunya, jadi gak sempet ke salon buat facial n renang....., bukan bukaaan, cuma duitnya udah abis buat beli buku *hahahaha nggayya...

Penelitian saya, rencananya tentang Self-Regulated Learning atau Self-Directed Learning - biasa aja sih sebetulnya, tapi ya baru tahu lho, kalau anak anak SMA pada umumnya, gak punya ketrampilan SRL ini, ada beberapa alat ukur yang bisa dipakai sih tapi karena riset saya kualitatif, jadi data ini saya dapet dari wawancara beberapa dari mereka - sedih ya

Senin, 28 Januari 2019

Belajar Ekonomi lewat Lukisan, Gambar dan Seni Ukir

Nemu yang unik lagi - Belajar Ekonomi Using Arts dari Michael Watts dan Chineze Christoper dari Purdue University dan dimuat di The Journal of Economic Education 43(4), 408–422, 2012 kalau ingin membaca artikelnya bisa disini - untuk membuktikannya Watt dan Christoper membuat website khusus bisa dilihat disini https://intra.krannert.purdue.edu/sites/econandart/Pages/Instructions.aspx semua materi dihubungkan dengan lukisan yang menggambarkan suasana saat itu, ditampilkan dalam bentuk power point. Seperti misalnya mengenai konsep kelangkaan (scarcity) watt menjelaskan definisi kelangkaan dalam ppt nya, kemudian dijelaskan dengan lukisan Moretta de Brascia - The Young Man 1540 - 1545 - yang sedang berpikir bahwa ia terlalu menginginkan begitu banyak hal.

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...