Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini, semakin banyak yang dipikirkan jika ingin menuliskan sesuatu - nggak pede dan nggak seenteng dulu
Tapi terus terang membaca buku Fathul Wahid ini membuat dada saya kembali menggemuruh, api kecil yang tersimpan tenang selama ini seperti tersulut, saya nangis
Seinget saya baru buku ini yang melihat realitas masyarakat secara utuh walau lewat novel, yang jelas novel mengingatkan kembali cerita Bahruddin saat mulai membuat komunitas belajar Qaryah Thoyibbahnya, mulai dari keresahan Bahruddin dan tetangga tetangganya tentang susahnya masuk SMP Negeri, hingga akhirnya komunitas tersebut berdiri dan bertumbuh hingga sekarang, yang kemudian jadi salah satu inspirasi mimpi saya tentang sebuah sekolah
Sekolah terkhir ini menurut saya membagi beberapa segmen yang dibahas, tentang kurikulum, biaya sekolah, murid, guru dan kemudian peran orang tua, orang tua diajak diskusi kurikulum, biaya sekolah, murid dan asesmen.
Buku ini bercerita tentang Firman dan teman temannya (Maya, Siti,dan Raka) yang ingin menghidupkan kembali sebuah sekolah yang akan ditutup
Penulis banyak mengangkat pandangan Freire dan Ivan Illich - dan yang saya suka pas bilang - "menjaga idealisme bukan berarti menutup telinga terhadap kecemasan orang tua, tetapi bagaimana anak anak siap menghadapi sistem, sambil tetap menaman keberanian untuk berpikir kritis terhadap sistem itu. Lentur tanpa kehilangan arah". - panjang umur perjuangan yay -
Idealisme yang justru dipandang aneh ini bikin sedih, sesempit itu yang terjadi di dunia pendidikan kita?
Sebutan pendidikan alternatif ini juga sedih ya, bukankah pendidikan semestinya seperti itu, mendampingi setiap anak untuk bertumbuh sesuai kompetensinya masing masing, menerima anak anak apa adanya, tidak dibentuk dilekuk-lekuk sesuai keinginan orang dewasa di sekitarnya, yang ditumbuhkan adalah kesadaran diri, karena belajar untuk mempersiapkan hidup- bukan sekedar angka dan ijazah - jangan meremehkan anak anak dengan ukuran angka dan ijazah
Balik lagi ke buku ini ya, saya suka cerita perdebatan orang tua tentang sistem yang digunakan di sekolah ini, ketakutan orang tua pada cara belajar yang berbeda dari sekolah pada umumnya, takut tertinggal, takut tidak lolos masuk SMP Favorit dan pada perdebatan tersebut penulis membiarkan orang tua berpikir tentang belajar anaknya, tentang perubahan yang terjadi pada anaknya dan tentang keresahan mereka sendiri terhadap masa depan anaknya
Sebetulnya kerepotan bisa ditambah jika gurunya juga tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan, tapi ini nggak ya, gurunya udah sefrekuensi bahkan guru seniornya pun percaya apa yang dilakukan Firman dan teman temannya. Andai beneran punya temen diskusi seperti Firman, Maya, Siti dan Raka waah...
Buku ini mencerahkan, menambah keyakinan saya tentang pendidikan yang memerdekakan.
Terimakasih Prof. Fathul Wahid - panjang umur perjuangan
