Saya sering dibilang gila dan dimarahi anak-anak (baca: murid-murid)
saya, kalau saya bilang Ijazah gak penting, angka gak penting dan gak lulus UN?..so what
gitu loh...
Simak paparan Rhenald Kasali tentang Growth Mindset ini... ____________________________________________________
Hari Sabtu kemarin, sekitar seribu orang mengikuti yudisium di FEUI.
Mereka terdiri dari lulusan S1, S2, dan S3. Diantaranya ada 40 anak
didik saya di MMUI yang lulus dengan prestasi cum-laude, dan dua
diantaranya lulus dengan IPK sempurna (4.0). Bahkan salah satu yang
lulus dengan IPK sempurna itu (keduanya perempuan), berusia paling muda
(21,5 tahun).
Tetapi sepulang dari acara yudisium saya menerima
sebuah release terbaru yang dikeluarkan oleh FBI tentang latar belakang
dan perilaku orang-orang terkenal. Salah satunya siapa lagi kalau bukan
almarhum Steve Jobs. Laporan mengenai Steve Jobs terbaca jelas, ditulis
oleh analis yang terkesan tidak senang terhadap almarhum (wajar karena
menurut orang dalam Apple, petugas FBI yang ditugaskan melakukan
wawancara, dibuat Jobs harus menunggu selama 3 jam sebelum diterima).
Namun demikian, penulisnya mencoba memberikan data-data objektif
sehingga terkesan Jobs bukan seorang yang cerdas.
“Meski
terkenal, ia ternyata hanya punya indeks prestasi kumulatif 2,65 pada
saat duduk di tingkat SLTA”, ujar laporan itu. Angka ini jelas objektif
dan bukan diambil dari pikiran penulis. Kalau Anda membaca report ini
jauh sebelum Jobs dikenal, mungkin Anda termasuk orang yang menilai
orang ini tidak cerdas. Tetapi karena kita membacanya sekarang, paling
Anda mengatakan apa urusannya IPK dengan karya yang telah dibangun
seseorang. Bukankah impak jauh lebih penting daripada paper dan IPK?
Seperti yang pernah saya tulis pada kolom di Jawa Pos setahun yang
lalu, manusia memiliki dua jenis mindset, yaitu growth mindset dan fixed
mindset. Orang-orang yang memiliki settingan pikiran tetap (fixed
mindset) cenderung sangat mementingkan ijazah dan gelar sekolah,
sedangkan mereka yang tumbuh (growth mindset) tetap menganggap dirinya
"bodoh". Baginya ijazah dan IPK hanya merupakan langkah kemarin,
sedangkan masa depan adalah soal impak: apa yang bisa Anda diberikan
atau dilahirkan. Maka kepada mereka yang pernah belajar dengan saya
selalu saya tegaskan, pintar itu bagus, tetapi impak jauh lebih penting.
Celakanya universitas banyak dikuasai orang-orang yang bermental
ijazah dan asal sekolah sehingga mereka terkurung dalam penjara yang
mereka set sendiri, yaitu fixed mindset. Bagi mereka impak itu sama
dengan paper, atau kertas karya, terlepas dari apakah bisa dijalankan
atau tidak.
Kualitas Intake
Jadi, di akhir pekan
kemarin pikiran saya terbagi dua. Di satu pihak saya senang memiliki
anak-anak yang cerdas, namun di lain pihak saya gelisah kalau mereka
yang ber IPK tinggi itu produk settingan tetap. IPK tinggi tetapi
terlalu membanggakan jejak sejarah: ijazah.
Karakter
orang-orang dengan settingan tetap itu, menurut Carol Dweck, antara lain
adalah menolak tantangan-tantangan baru, menganggap kerja keras
sia-sia, tidak senang menerima kritik (umpan balik negatif) dan bila ada
orang lain yang lebih hebat darinya maka ia sangat sinis dan menganggap
mereka sebagai ancaman. Orang-orang seperti ini biasanya menjadi arogan
dan sering membanggakan “apa yang sudah ia capai”. Prestasi akademik di
masa lalu bisa menjadi pemicunya.
Padahal kita semua butuh
orang pintar. Bahkan, di sebuah sekolah perempuan saya membaca kalimat
ini : Beauty is nothing without brain. Benar, cantik saja tidak berarti
apa-apa, bila tidak cerdas. Tetapi studi yang dilakukan Dweck memberi
jawaban yang melengkapi : pintar yang kita butuhkan adalah bukanlah
pintar yang sudah selesai, melainkan yang di setting untuk tumbuh
(growth mindset).
Apa ciri-ciri mereka? Mereka itu merasa
kualitas kecerdasannya belum apa-apa. Mereka masih mau belajar, siap
menerima tantangan-tantangan baru, menganggap kerja keras penting,
menerima feedback negatif untuk melakukan koreksi dan bila ada pihak
yang lebih hebat darinya maka ia akan menjadikan orang itu sebagai
tempat belajar.
Orang-orang seperti itulah yang menjadi sasaran
untuk direkrut. Maka di MMUI seperti juga di Harvard, kami tidak
terlalu mengandalkan test-test tertulis sebagai segala-galanya. Nilai
akademik masa lalu mereka boleh tinggi, tetapi kami dalami dalam
wawancara yang dilakukan orang-orang berpengalaman. Dari situ kami
sering mendapatkan insight, bahkan tidak jarang orang yang memiliki
hasil tes yang tinggi terpaksa digugurkan karena mereka terlanjur
terkunci dalam ruang gelap yang disetting tetap.
Tetapi
apalah artinya semua itu kalau kita tidak berani mengubah mereka? Itulah
tugas kami sebagai pendidik merombak cara berpikir agar anak didik
tumbuh, bukan sekedar mendapat ijazah. Jadi, ke 40 anak-anak muda yang
lulus cum laude itu tentu masih ingat, bahwa musuh besar mereka adalah
kebanggan yang berlebihan terhadap prestasi yang telah dicapai kemarin.
Kedepan, Indonesia butuh lebih banyak manusia yang adaptif, bukan orang-orang kaku yang merasa pintar sendiri.
Untuk melahirkan manusia-manusia unggul diperlukan kualitas intake yang
baik, disamping proses yang mampu menempa mereka menjadi insan yang
tumbuh. Maka proses seleksi menjadi sangat penting, di awal, di tengah
dan di akhir. Bila dulu saya gelisah memandang lulusan yang meraih
gelar cum laude yang hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri, sekarang
saya bisa bernafas lega karena Dweck telah membukakan jalan bahwa hal
ini bisa diatasi dengan settingan pikiran yang tepat.
Terima kasih.........
BalasHapus