Sabtu, 24 Desember 2011

[KLIPING] Guru Inspiratif

 Contributed by Rhenald Kasali
http://home.messiah.edu/~cd1209/
Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers" Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antar geng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Rabu, 21 Desember 2011

[KLIPING] Menyingkap Agenda Tersembunyi Dibalik Sekolah

by Yudi Arianto on Wednesday, December 21, 2011 at 7:52pm

gnosticmedia.com
Apakah sekolah anak Anda mendorong ia mampu mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan apa yang menurutnya benar ataukah mereka diajari untuk patuh dan didikte apa-apa yang boleh ia pikirkan?

Adalah John Taylor Gatto, seorang penulis, pembicara, dan pendidik terkenal, yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru terbaik di Amerika, menjadi tidak yakin dengan sistem pendidikan yang selama ini sudah kokoh diyakini oleh masyarakat. Dia dengan terbuka mengaku bahwa dia sukses sebagai guru karena mendobrak semua aturan baku.

Gatto kemudian meninggalkan dunia pendidikan tradisional dan mulai meneliti sejarah sistem persekolahan. Dia menemukan bahwa sistem wajib belajar (compulsory school system)  sebenarnya dirancang untuk mengajarkan sifat kekanak-kanakan dengan menciptakan ketergantungan terhadap otoritas di luar dirinya.

Umumnya, kita para orang tua cenderung percaya bahwa sekolah ada untuk membantu anak-anak kita meraih kemampuan intelektual tertingginya. Tetapi Gatto mengungkapkan adanya kepentingan dari industrialis (yang membiayai sekolah-sekolah) untuk “memunculkan suatu bangsa” dimana ada buruh dan konsumen yang akan bertindak sesuai dengan apa yang dimaui oleh industrialis.

Gatto percaya bahwa “genius is as common as dirt”. Sebagai seorang penganjur unschooling, dia berkata bahwa anak-anak akan belajar dalam bentuknya yang terbaik jika mereka dilibatkan secara penuh dalam masyarakat. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika mereka diberi suatu tanggung jawab. Sebagai orang tua dan orang dewasa tugas kita adalah mendukung mereka dengan cara menyingkirkan segala penghalang dan membantu mereka untuk mengantisipasi permasalahan yang muncul.

Gatto mengatakan bahwa sistem sekolah makin lama semakin tidak relevan dengan tantangan yang ada. Tidak seorangpun percaya bahwa ilmuwan dilatih dalam kelas sains atau politikus dimunculkan lewat kelas ketatanegaraan atau penulis puisi dalam kelas bahasa. Kenyataannya adalah bahwa sekolah-sekolah tidak benar-benar mengajarkan apapun kecuali bagaimana caranya untuk mematuhi peraturan.(###)

source : http://www.facebook.com/notes/yudi-arianto/menyingkap-agenda-tersembunyi-dibalik-sekolah/10150449603774620

e-book John Taylor Gatto tentang Underground History American Education dapat disimak di sini http://www.johntaylorgatto.com/chapters/

[repost] sang pemimpi...:)

by Lea Kesuma on Tuesday, December 29, 2009 at 2:00pm

baqiberbagi.wordpress.com
Anak-anakku eh murid-muridku usia mereka antara 15 – 17 tahun, usia dimana mereka masih bersemangat untuk mencari tahu apa yang terjadi pada diri mereka, mencari tahu apa yang mereka inginkan, mencari tahu apa yang seharusnya mereka lakukan.

Menyenangkan sekali melihat segala macam perilaku mereka, ada yang dengan bangganya..(persepsi saya lho).. menceritakan pada saya bahwa ketika SMP dia pernah merasakan heroin, exctacy, pernah sakau, mabuk, hingga akhirnya masuk rumah sakit dan didiagnosis …yang intinya hampir sebagian besar organ tubuhnya rusak. Akibatnya sekarang dia sering merasakan kesakitan yang tak tertahankan dan tergantung sekali dengan obat dari dokter untuk menahan rasa sakitnya itu. Hebatnya lagi kedua orang tuanya tidak mengetahui penderitaan anak tersebut.
Sepintas seperti cerita di sinetron, cerita anak orang kaya yang broken home dan kesepian. Kesepian mungkin ya, orang kaya dan broken home...bukan. Justru anak ini, anak seorang tukang becak dengan seorang ibu rumah tangga. Jauuuuuuh sekali dari kaya raya.

Ada lagi seorang anak perempuan, yang punya pacar om-om kaya, ketika ditanya ayahnya kenapa si mau sama om-om, jawabannya ”soalnya ayah gak pernah ngasih aku uang”...

Anak yang lain, yang ini dari keluarga ideal, walau bukan anak orang kaya, ayah ibunya sangat perhatian dan terus memberi dorongan untuk perkembangan anaknya. Namun anak tersebut sangat labil, kadang sms ”horeee, hari ini aku semangat sekali, ntahlah tiba-tiba aku jadi bersemangat untuk belajar, terimakasih ya bu..”, tapi kira-kira dua jam kemudian ”bu, aku berfikir kalo begini terus kapan aku sukses, aku masih takut dengan tantangan bu??”...lalu beberapa menit kemudian ”apakah aku sudah terlambat?”...”menurut ibu diantara anak kelas 3 yang frustasi, males dan merasa terpojokkan apakah hanya aku doang??”

Dan masih banyak yang lain, dan menurut saya, walau mungkin mesti ada penelitian perilaku remaja secara khusus, namun yang terjadi pada anak-anak saya adalah fenomena kebanyakan remaja di Indonesia. Soalnya yang miskin masih lebih banyak dari yang kaya. Yang pingin kayak remaja sinetron di TV juga banyak. Yang bingung mesti gimana dengan perubahan yang terjadi pada diri dan lingkungan mereka juga banyak.

[repost] Hidup Tidak Linier

by Lea Kesuma on Sunday, June 7, 2009 at 10:23pm

http://inibukucahya.blogspot.com/
Kebetulan sekali, kota kecil saya belum lama ini kedatangan dua orang yang sangat menginspirasi saya Bob Sadino-dengan kecuekannya berbicara tentang enterpreneurship dan Rhenald Kasali dengan bisnis in crisis-nya

Saya akan mengulas semua tentang om Bob yang saya terima sekitar 3 jam pagi itu.

Sebelum om Bob ini mulai bicara, kami semua diperintah untuk memindahkan seluruh isi otak kami ke dengkul, sehingga yang ada di dalam otak masih orisinal
Karena menurut dia, buku yang dipelajari para peserta yang 75% mahasiswa itu, berdasar hal yang sudah basi, yang seharusnya sudah masuk tong sampah, jika mereka masih saja memakai isi buku-buku itu berarti otak mereka penuh dengan sampah, apa lagi otak dosen-dosen ini..begitu kata om Bob yang disertai gerrr tawa para peserta.

Maksud Bob sebenarnya adalah, supaya mahasiswa2 itu selalu mengkritisi teori-teori yang mereka peroleh di bangku kuliah, nggak tinggal telan saja dan hipotesa yang diajukan juga nggak mesti harus selalu dibuat "terbukti" (baca -Karya tulis, Penelitian, Skripsi, Thesis, or Whatever..hanya untuk Ijasah, Gelar dan Kenaikan Pangkat?, http://leakesuma.multiply.com/journal/item/11/), karena apapun bisa terjadi.
Apa yang terjadi di lapangan kebanyakan menyimpang jauh dari apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah, apa lagi tentang teori-teori ekonomi yang wajib dipelajari di bangku kuliah, kalo kita nggak update terus perkembangan perekonomian mikro dan makro setiap saat, kita semua bakal ketinggalan.

Ketika di tanya, gimana om Bob bisa sukses sampai sekarang, om Bob malah bertanya kepada mahasiswi itu apa arti sukses, karena om Bob sendiri nggak tau apa artinya sukses.

Persepsi saya dari kata-kata om Bob itu, definisi sukses setiap orang itu berbeda-beda, saya merasa sukses jika, bisa melakukan hal yang berguna bagi orang banyak, pasti definisi sukses menurut anda juga berbeda kan?

[repost} Keresahan ini....

by Lea Kesuma on Thursday, July 2, 2009 at 8:34am

Dari seberang jalan, saya melihat anak-anak bergembira ria di sebuah taman, baju putih mereka penuh warna, merah, orange, hijau, biru, dan ketika mereka melihat saya melintas. "Ibuuu...sambil melambaikan tangan mereka dari jauh", dan mereka pun berlari dari taman, menyeberang jalan menghampiri saya, dan kamipun berpelukan. "Ibu terimakasih kami lulus", berebut mereka mencium tangan saya dan kami berpelukan lagi. Badan kecil saya tenggelam dalam pelukan mereka.

Di sekolah saya, ada sekitar 18 anak dari 220 murid klas 3 tidak lulus UN, saya tanyakan pada mereka, teman-teman yang tidak lulus. Tadi langsung pulang bu, kasihan bu.., padahal jawaban kami sama lho..-bukan rahasia umum lagi, ketika ujian berlangsung, hampir 99% anak-anak saling memberikan jawaban, ketika masa ujian, mereka sering sms saya dan cerita tentang pengawas yang galak, tentang teman mereka yang nangis, yang pingsan, dan tentang keberhasilan mereka menyebarkan kunci jawaban ke setiap ruangan-
Fenomena ini sering membuat saya geli, membayangkan seru nya mereka, berjibaku mencari jawaban benar vs pengawas yang galak.

Kelulusan itu, saat ini yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri mereka, kepalsuan yang tidak mereka sadari ini yang membuat mereka bahagia.

Anak-anakku..apapun yang terjadi, kalian adalah yang terbaik. Hari ini adalah titik awal. Di depan kalian masih ada jalan panjang yang mesti di lalui dengan sabar dan tawakkal, pandai-pandailah memaknai setiap kejadian atas langkah dan tindakan yang kalian ambil. Banyak-banyaklah belajar dari universitas besar kehidupan ini, sehingga lulus dengan khusnul khotimah.

http://leakesuma.multiply.com/journal/item/31/Keresahan_ini...

[repost] Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif..

by Lea Kesuma on Wednesday, March 10, 2010 at 3:08pm

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti seminar nasional mengenai sistem pendidikan yang membelenggu anak kreatif, saya juga mendapatkan pin yang menarik, dalam pin tersebut digambarkan dua buah tangan seorang anak yang memegang jeruji ruang penjara. *pin tersebut langsung saya sematkan di tas ransel yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi*..

Pembicara dari seminar ini adalah para pelaku pendidikan yang berbeda kalau boleh dibilang ”nyleneh’ dan ”gila”

Pembicara pertama ibu Diana, beliau pembina di SKB sebuah institusi informal milik pemerintah, yang mendidik anak-anak dari 0 tahun sampai para orang tua buta aksara.
Disini beliau banyak berbicara mengenai pendidikan anak usia dini, intinya pelajaran yang disampaikan semestinya student center bukan teacher center, sistem pendidikan kita terbukti kurang memberikan peluang anak-anak didik menjadi forever learner, prestasi bukan angka, namun bagaimana anak mendapatkan suatu makna dari pembelajarannya tanpa tekanan dari orang dewasa di sekitarnya, tidak possesif dan lebih memberi kebebasan kepada anak.

Pembicara kedua adalah seorang kepala sekolah yang inspiratif, bapak Hengky Kusworo, beliau memiliki sekolah dari pre-school hingga SMA dengan jumlah peserta didik kurang lebih 3000 anak. Sekolah ini memiliki lapangan bola standar internasional dan fasilitas-fasilitas yang lengkap. Yang menarik adalah, sekolah Terang Bangsa ini menerima murid-murid dari segala latar belakang, sepertinya sekolah ini ingin mematahkan pendapat ”orang miskin dilarang sekolah”, karena biasanya sekolah ”bagus” pasti mahal. Beliau memberikan beasiswa bahkan bebas SPP dan pungutan apapun bagi anak-anak jalanan, pemulung, pengemis dan lain sebagainya.
Yang membuat saya amaze adalah, bagaimana beliau dapat mencampur dengan indah murid kaya yang kalau sekolah naik Harrier dan murid miskin yang ibunya sehabis mengantar anaknya sekolah, memulung sampah di sekolah itu.
Mereka bermain bersama, belajar bersama dengan indah tanpa rasa iri dan minder, semua sejajar, semua memiliki hak yang sama dan saling menyayangi.
Sekolah ini juga menerima anak cacat, down sindrom dan autis. Prinsipnya semua manusia sungguh-sungguh memiliki hak yang sama untuk belajar.
Statement beliau terakhir, lakukan semua dengan sepenuh hati dan tulus, maka segala kemudahan akan mengikuti kita.

Nah pembicara ketiga ini, Bapak Bahruddin, pendiri komunitas belajar Qaryah Thayyibah.
Ada yang menarik, yang baru menurut saya, bahwa guru hanya memfasilitasi dan mendukung potensi yang ada dalam diri anak. Guru DILARANG mengarah-arahkan dan memberi bimbingan, sebaiknya guru hanya menyampaikan gagasan atas suatu masalah, dan keputusan terakhir diserahkan pada anak, dan jika anak tersebut menolak gagasan guru, justru hal tersebut yang diharapkan.

Beliau mengambil kata-kata Romo Mangun – semua anak cerdas, semua anak memiliki keingintahuan, dalam diri anak sudah ada MAHAGURU, maka jangan bunuh MAHAGURU itu, wahai guru.

Anak tidak boleh dibentuk dan dicetak, jika demikian ini dilakukan berarti kita telah membunuh hak anak untuk berkembang, yang boleh dibentuk dan dicetak adalah batu bata hehe..

[repost] Liburan Panjang...

by Lea Kesuma on Friday, March 26, 2010 at 7:23am

Liburan panjang, karena nggak dapet jatah jaga UN. Membuat saya lebih leluasa untuk membuka buku-buku lama saya, Menjadi Manusia Pembelajar dan Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, keduanya karya Andrias Harefa.
Dari membaca dua buku tersebut, saya jadi terus melanjutkan untuk membaca buku yang lain, bukunya Pater Drost, Sekolah Itu Candu nya Roem dan Belajar Sejati Versus Kurikulum Nasional -Dedy Pradipto, buku terakhir adalah desertasi Dedy yang memuat analisa beliau tentang pandangan-pandangan Romo Mangun mengenai Belajar Sejati dan sekolah Mangunan.
Setelah membaca buku buku tersebut saya malah tambah stress dan prihatin. Apa lagi trus inget deschooling nya ivan illich dan pandangan Paulo freire tentang pendidikan.

Yang mereka semua katakan, nyata dan benar. Hasil dari sekolah dan sistem pendidikan konservatif juga bisa terlihat sekarang. Tawuran, korupsi, pelajar dan mahasiswa yang bunuh diri, pengangguran terselubung dimana-mana, bahkan terakhir saya baca jumlah lulusan sarjana menganggur meningkat 50%.

Mungkin perlu diperhatikan, Pidato Larry Ellison orang terkaya no 2 di dunia, yang saya ambil dari buku Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup-Andrias Harefa-,
“In fact, as I look out before me today, I don’t see a thousand future leaders in a thousand industries. I see a thousand losers.
Instead, I want to give hope to any underclassmen here today. I say to you, and I can’t stress this enough : LEAVE. Pack your things and your ideas and don’t comeback. Drop out. Start up. For I can tell you that a cap and gown will keep you down just as surely as these security guards dragging me off this stage are keeping me down…”

Pidato ini disampaikan pada upacara wisuda lulusan Universitas Yale sekitar bulan September tahun 2000, dan kata-kata tersebut ditujukan untuk mahasiswa-mahasiswa yang masih kuliah disana. Untuk para wisudawan Larry mengatakan bahwa mereka semua losers, pecundang. Apa yang mereka harapkan dari kesarjanaan mereka, gaji $200.000 setahun?. Larry Elison dan beberapa orang terkaya di dunia seperti Bill Gates, Paul Allen dan Michael Dell tidak pernah selesai kuliah. Mereka mencuri start, menekuni usaha mereka sejak dini, sehingga ketika teman-teman mereka menenteng ijasah melamar kemana-mana, mereka bahkan sudah dapat menggaji lulusan-lulusan sarjana tersebut.

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...