Rabu, 22 April 2020

SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA MEMPRIHATINKAN

Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2006 (kalau dirujuk dari buku yang saya baca, Sekolah itu Candu nya -Roem Topatimasang, untuk website pendidikan.net mungkin) - saya udah lupa, karena saya cari websitenya sudah tidak ada. Tapi tulisan ini dicopas di berbagai website, blog - banyak banget. Ketik saja nama lengkap saya atau judul diatas, pasti keluar dimana mana.

What I want to say adalah, menulis ini jaman dulu 14 tahun yang lalu menyeramkan bagi saya, nulisnya aja pakai emosi dan deg deg ser, sampai di sidang segala guru kok gak setuju ma UN..., tapi kalau bacanya di kontek sekarang, yang malah UN udah dihapus, tulisan ini B aja (pinjem istilahnya Rora)
--------
Sistem pendidikan saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun pada kenyataannya di lapangan, sering kali saya lihat nilai raport yang dimanipulasi, jarang bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar, karena tidak boleh ada nilai 4 atau 5 di raport dan lain sebagainya. Mengapa guru bersikap demikian, mengapa nilai siswa-siswa banyak yang belum tuntas, salahkah guru?? Jawabannya bisa ya bisa tidak, bisa ya karena mungkin guru tersebut tidak memiliki kompetensi mengajar yang memadai, bisa tidak, karena sistem pendidikan Indonesia mengharuskan siswa mempelajari bidang studi yang terlalu banyak. Rata-rata bidang studi yang harus mereka pelajari selama satu tahun pelajaran adalah 16 bidang studi, dengan materi untuk tiap bidang studi juga banyak, abstrak dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Terus terang dalam hal ini saya lebih senang menyalahkan sistem pendidikan Indonesia, sistem pendidikan kita terlalu memaksa anak untuk dapat menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian abstrak, yang selanjutnya membuat anak merasa tertekan/stress yang dampaknya membuat mereka suka bolos, bosan sekolah, tawuran, mencontek, dan lain-lain. Yang pada akhirnya mereka tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, nilai mereka kurang padahal sudah dilakukan remidi, dan supaya dianggap bisa mengajar atau karena tidak boleh ada nilai kurang atau karena kasihan beban pelajaran siswa terlalu banyak, kemudian guru melakukan manipulasi nilai raport. Nilai raport inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk memperoleh beasiswa atau melanjutkan kuliah atau ikut PMDK dan lain sebagainya. Tahukah siswa akan kenyataan pahit ini? Lalu apakah UN solusi untuk melihat kemampuan siswa? Bukan, karena UN tidak adil, bahwa kemampuan siswa tidak dapat distandardisasi.

Jumat, 10 Januari 2020

Diskusi Merdeka Belajar

Beruntung sekali Salatiga memiliki temen teman di bidang pendidikan yang concern dan kritis terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak Indonesia. Selasa, 7 Januari 2019 - kami berkumpul ngobrol bareng tentang Merdeka Belajar - awalnya hanya diskusi ringan di grup whatsapp alumni MMP (Magister Manejemen Pendidikan) UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), tentang sekolah menyenangkan kemudian merembet ke Merdeka Belajar, lalu salah satu alumni yang juga Kepala Sekolah mengusulkan untuk menyelenggarakan FGD (Forum Group Discussion) tentang Merdeka Belajar, di sekolahnya.

Ketika list kehadiran dishare di dua grup - grup Komunitas Guru Belajar (KGB) Salatiga dan grup Alumni MMP UKSW - banyak yang daftar mulanya dibatasi 20 akhirnya mbludak sampai 40 peserta
Peserta diskusi ini adalah KaDinas yang keren ibu Yuni Ambarwati, karena semangat sekali mengikuti diskusi dari awal hingga akhir, ada Dr. Bambang Ismanto dari UKSW, selaku inisiator dan wakil dosen, Bahruddin - anggota BAN PT juga founder Qaryah Thayyibah sekolah alternatif yang sudah berdiri 16 tahun, juga temen saya curhat pas peristiwa 10 tahun lalu itu, berbagai komunitas juga hadir selain KGB Salatiga tentunya, ada komunitas kampung juara, ada komunitas belajar ruang bintang, beberapa kepala sekolah dan guru dari TK - SMA juga hadir
Berikut resume dari diskusi kemarin - tapi insyaAllah tidak mengurangi makna dari pembicaraan teman teman narasumber, dan peserta diskusi. Narasumber diskusi ini adalah KaDinas, Bahruddin - QT dan Andy - dari KGB Salatiga, dengan moderator bapak Bambang Ismanto.

Kamis, 05 Desember 2019

Hari Guru kali ini...

Sebagai seorang guru madrasah, dibawah Kementerian Agama RI -

Begini - guru di Indonesia dibagi dua guru sekolah umum dibawah Kemdiknas, contohnya guru TK/SD/SMP/SMA baik negeri ataupun swasta, baik yang ada ciri khusus agama - asal menyebut di depannya TK/SD/SMP/SMA maka dia dikelola Kemdiknas, dari sarpras sekolah sampai guru gurunya.
Sedangkan guru RA/MI/MTs/MA dikelola oleh Kemenag walaupun yang diajarkan sama, kurikulum yang digunakan juga sama, yang berbeda hanya ada tambahan mata pelajaran agama seperti SKI, Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadis dan kadang ditambah Ilmu Kalam dll - jadi disamping mapel umum seperti disekolah lain yang sekitar 10 - 15 itu masih ditambah lagi mapel agama Islam.
Nah kami gurunya langsung berhubungan dengan Kementerian Agama Pusat - ASN nya pun ASN pusat sebutannya, karena Kemenag tidak ada Otda

Sejak tahun kurang lebih 2017 sejak Pendis dipecah menjadi dua KSKK (bidang kurikulum) dan GTK (bidang guru dan tenaga kependidikan) sejak kami terdaftar di Simpatika dan guru kemdiknas di Dapodik - itulah saya sebagai guru Kemenag sudah tidak bisa lagi mengikuti event event yang diselenggarakan Kemdiknas, demikian pula teman teman Kemdiknas

Senin, 04 November 2019

Tentang Ketrampilan Self-Regulated Learning

Tulisan tulisan beberapa bulan belakangan ini membosankan ya - lagi sok sokan gaya nulis beberapa untuk artikel - biar nggak ujian terbuka, saya pingin bikin 2 artikel untuk jurnal internasional Scopus Q3 (syarat dari progdi -) ini uwo banget - pengalaman pertama, 2 artikel kualitatif, dan 3 artikel kuantitatif (yang udah jadi, artikel meta analisis, dan multivariat) masih kurang 3 artikel lagi - belum plus disertasi yang galau pinginnya kualitatif, tapi masih menunggu keputusan promotor

Untuk diketahui, masukin jurnal internasional itu bisa berbulan bulan dari review sampai approve, cerita dari kakak kelas, lebih sulit bikin artikel untuk jurnal internas, daripada disertasi (aaah mereka tuh ya bisanya nakutin saya aja....) - target beasiswa hanya 6 semester, dan sekarang udah jalan separo dan belum ada kemajuan

Seruunya, jadi gak sempet ke salon buat facial n renang....., bukan bukaaan, cuma duitnya udah abis buat beli buku *hahahaha nggayya...

Penelitian saya, rencananya tentang Self-Regulated Learning atau Self-Directed Learning - biasa aja sih sebetulnya, tapi ya baru tahu lho, kalau anak anak SMA pada umumnya, gak punya ketrampilan SRL ini, ada beberapa alat ukur yang bisa dipakai sih tapi karena riset saya kualitatif, jadi data ini saya dapet dari wawancara beberapa dari mereka - sedih ya

Senin, 28 Januari 2019

Belajar Ekonomi lewat Lukisan, Gambar dan Seni Ukir

Nemu yang unik lagi - Belajar Ekonomi Using Arts dari Michael Watts dan Chineze Christoper dari Purdue University dan dimuat di The Journal of Economic Education 43(4), 408–422, 2012 kalau ingin membaca artikelnya bisa disini - untuk membuktikannya Watt dan Christoper membuat website khusus bisa dilihat disini https://intra.krannert.purdue.edu/sites/econandart/Pages/Instructions.aspx semua materi dihubungkan dengan lukisan yang menggambarkan suasana saat itu, ditampilkan dalam bentuk power point. Seperti misalnya mengenai konsep kelangkaan (scarcity) watt menjelaskan definisi kelangkaan dalam ppt nya, kemudian dijelaskan dengan lukisan Moretta de Brascia - The Young Man 1540 - 1545 - yang sedang berpikir bahwa ia terlalu menginginkan begitu banyak hal.

Belajar Ekonomi lewat Novel Sejarah - The Lost Painting Jonathan Harr's

Tuntutan menulis artikel jurnal terindex Scopus memang seru (walo banyak pro kontra di luar sana) saya mencoba melihat positifnya. Jadi banyak baca dan nemu artikel unik - kalau biasanya anak anak belajar sejarah dari novel sejarah, seperti Tan misalnya, atau Amba, atau Maryam. Ternyata ada novel sejarah yang dapat digunakan untuk belajar ekonomi, sayangnya novel ini tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia - dan mungkin karena referensi saya kurang, saya juga belum ketemu novel sejarah yang bisa saya gunakan untuk mengajar ekonomi.

Sabtu, 29 Desember 2018

Penilaian Formatif Merdeka Belajar

https://www.slideshare.net/CasperWendy/selfregulated-learning-zimmerman
ehem, saya mencoba menulis agak serius ini, dengan berbagai literatur yang ada, saya tahu masih kurang dalam, tapi biarkan ini tersimpan disini, jadi proses belajar nulis, dan memperdalam apa itu merdeka belajar..
Semangat ya...
--------------------------
Pendahuluan 
Tantangan belajar abad 21 antara lain adalah bagaimana siswa generasi Z dan Alpha dengan kompetensinya dapat menghadapi berbagai situasi di kehidupannya kelak. Untuk mengatasi hal tersebut UNESCO juga Finlandia (termaktub pada core curriculum-nya), mengembangkan yang disebut dengan Transveral Competencies, yaitu kompetensi yang menyangkut berbagai aspek keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa abad ini, yaitu ketrampilan berpikir kritis dan inovatif, ketrampilan interpersonal, intrapersonal, ketrampilang menguasai media, teknologi informasi, kepedulian, keterbukaan, tanggungjawab terhadap isu global dan yang terakhir adalah bagaimana mereka menghormati religious value dan healthy life. (Care & Rebeccah Luo, 2015). Model merdeka belajar menjadi topik penting dalam pendidikan, karena memiliki komponen penting yang mendukung siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat di abad 21 ini. Model Merdeka belajar ini membuat siswa terlatih untuk aktif, mandiri, problem solver, berpikir kritis, inovatif, menjadi siswa yang memiliki pandangan social budaya. (Zimmerman & Schunk, 2001) dan masih banyak manfaat yang diperoleh dari model ini, yang akan banyak membantu siswa memiliki transveral competencies, sebagai bekalnya di abad 21.

Sekolah Terakhir - Fathul Wahid

Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...