By. Rhenald Kasali
Thursday, 07 July 2011
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.
Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.
Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.
Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
Kamis, 07 Juli 2011
Rabu, 22 Juni 2011
[KLIPING] Multiple Intelligence yang bikin pusing di Indonesia…
by Adi D Adinugroho-Horstman on Friday, June 11, 2010 at 12:44pm
Membicarakan teori MI selalu saja banyak kontroversinya. Sebenarnya kontroversi seputar teori dan filosofikal pemikiran dibaliknya merupakan suatu hal yang lumrah dalam dunia ilmu pengetahuan. Setiap orang berhak mengeluarkan beragam teori baru apapun itu. Di dunia ilmu pengetahuan empiris biasanya setiap ada teori baru yang muncul (dan menarik) maka akan banyak yang meneliti dan membahas teori tersebut terutama pada bidang keilmuan yang terkait erat areanya dengan teori baru tersebut. Penelitian, bahasan dan diskusi-diskusi disertai controversial polemic dalam bentuk tulisan ilmiah, artikel ilmiah maupun debat-debat langsung dalam forum-forum dan konferensi akadamis terhapad teori baru biasanya meliputi :
1. Filosofi pemikiran teori tersebut
2. Metoda dan kerangka berpikir dari teori yang dimaksud
3. Apakah ada latar belakang pendukung dari teori-teori sebelumnya dan peneliitan-penelitian
terdahulu.
4. Apakah Teori tersebut dapat dibuktikan dalam artian : bisa diukur dan dibedakan variable-variable
yang akan di ukur.
5. Bisa di wujudkan dalam penelitian-penelitian empiris untuk pembuktiannya
6. Bisa di cobakan metode-metode aplikasi berdasarkan teori tersebut kedalam kehidupan
masyarakat dan apakah bermanfaat untuk di cobakan.
Ke enam hal diatas hanya sebagian kecil dari area yang biasanya dilihat di dalam penemuan suatu teori baru. Dan sebelum teori tersebut di terapkan langsung dan di aplikasikan ke masyarakat luas, biasanya diperlukan pembuktian-pembuktian yang signifikan yang menunjang kebenaran teori tsb. Bila sudah ada pembuktian-pembuktian melalui riset-riset empiris dengan jumlah yang cukup banyak dan samplenya mewakili populasi yang ditargetkan, barulah metode dengan teori yang dimaksudkan dapat diterapkan secara bertanggung jawab terhadap masyarakat dan dapat di generalisasikan bagi populasi umum.
Apa sih Multiple Intelligense(MI) itu dan bagaimana koq sampai muncul teori tersebut.
Teori MI dicetuskan oleh Dr. Howard Gardner, salah satu professor di fakultas pendidikan Havard University. Dari beragam penelitiannya di area dunia pendidikan Dr. Gardner melihat adanya ketidak lengkapan pada standard tes IQ conventional yang umum digunakan dan pada konsep kecerdasan secara umum. Menurut beliau standard tes IQ yang sudah ratusan tahun teruji validitas dan reliabilitasnya itu serta teori-teori klasik yang menjelaskan konsep dasar kecerdasan manusia itu tidak lengkap dalam menggambarkan kecerdasan manusia. Alasannya kecerdasan manusia adalah suatu permasalahan yang sangat kompleks, sementara standard IQ test hanya dapat menjelaskan sebagian kecil kemampuan berpikir manusia, yaitu kemampuan-kemampuan berpikir yang berdasarkan pada kemampuan verbal dan matematikal saja. Beliau menolak pemahaman klasik seputar konsep kecerdasan bahawa kecerdasan dasar/potensi yang dimiliki setiap manusia sejak lahir adalah berbeda-beda. Dan karena potensi dasarnya berbeda-beda, maka dalam pencapaian kecerdasan aktual (prestasi) pada setiap orang pun berbeda-beda.
Menurut beliau semua manusia terlahir dengan potensi dan kecerdasan yang sama. Sementara faktor lingkunganlah yang dapat meciptakan kecerdasan-kecerdasan yang beragam-ragam. Menurut beliau IQ test yang ada sekarang ini salah dalam mengintepretasikan konsep kecerdasan manusia, Karena kecerdasan manusia itu lebih besar dari gambaran yang diberikan oleh konsep IQ (Intelligence quotient) karena di dalamnya banyak hal/fenomena dan prilau manusia yang tidak bisa dijelaskan dalam konsep IQ tersebut, dank arena konsep IQ begitu sempit maka standard IQ test pun hanya bisa mengukur sebagian kecil kemampuan berpikir manusia. Beliau mencontohkan dalam interviewnya dengan BBC di tahun 2006 bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh seorang artis (pelukis) misalnya bisa saja berbeda dengan kecerdasan yang dimiliki oleh seorang pilot, karena dua area tersebut menggunakan pola berpikir yang berbeda, beliau berpendapat bila saja kita melihat konsep kecerdasan secara berbeda, maka akan lebih banyak kecerdasan-kecerdasan yang bisa kita lihat begitu kira-kira yang beliau utarakan di dalam interview tersebut. Maka di dalam teorinya berdasarkan penelitian studi kasus yang dilakukannya beliau pun mengusulkan untuk melihat kecerdasan dalam bentuk yang berbeda, menurut teori yang di usulkannya ada 7 area kecerdasan (tadinya hanya 6 lantas berkembang jadi 7) yang bila diartikan secara harafiah sebagai berikut :
1. Kecerdasan linguistic atau kecerdasan berbahasa (linguistic intelligence)
2. Kecerdasan logika dan matematika (Logical, reasoning mathematical intelligence)
3. Spatial intelligence (spatial = kemampuan melihat bentuk/ruang/gambar…saya nggak tahu kata yang paling tepat untuk ini apa jadi biar nggak lost in translation saya sebut saja spatial ya).
4. Bodily –kinesthetic intelligence (kemampuan olah tubuh/olah raga, motor kasar, motor halus)
5. Kecerdasan bermasyarakat/bersosial/berinteraksi dengan manusia lain (Inter personal intelligence).
6. Kecerdasan di dalam diri sendiri (Intrapersonal intelligence/self smart)
7. Naturalist intelligence (nature smart) atau kecerdasan natural
Teori kecerdasan yang diusulkan beliau ini adalah berdasarkan riset dalam bentuk case study 2 individu yang memiliki kondisi khusus (cidera otak) dan Idiot Savant (contoh kasusnya Nadia, yang kemampuan matematika luar biasa, tetapi dalam test IQ masuk ke dalam kategori mental retardasi). (Gardner 1983,1999).
Selasa, 21 Juni 2011
[KLIPING] Debunking the Case for National Standards
Debunking the Case for National Standards
One-Size-Fits-All Mandates and Their Dangers
By Alfie Kohn
Source : http://www.alfiekohn.org/teaching/edweek/national.htm
[This is a slightly expanded version of the article published in
Education Week’s annual “Quality Counts” issue.]
Education Week’s annual “Quality Counts” issue.]
![]() |
By the time the century ended, many of us thought we had hit bottom – until the floor gave way and we found ourselves in a basement we didn’t know existed. I’m referring, of course, to what should have been called the Many Children Left Behind Act, which requires every state to test every student every year, judging students and schools almost exclusively by their scores on those tests, and hurting the schools that need the most help. Ludicrously unrealistic proficiency targets suggest that the law was actually intended to sabotage rather than improve public education.
Today we survey the wreckage. Talented teachers have abandoned the profession after having been turned into glorified test-prep technicians. Low-income teenagers have been forced out of school by do-or-die graduation exams. Countless inventive learning activities have been eliminated in favor of prefabricated lessons pegged to numbingly specific state standards.
And now we’re informed that what we really need . . . is to standardize this whole operation from coast to coast.
Have we lost our minds? Because we’re certainly in the process of losing our children’s minds.
To politicians, corporate CEOs, or companies that produce standardized tests, this prescription may seem to make sense. (Notice that this is exactly the cast of characters leading the initiative for national standards.) But if you spend your days with real kids in real classrooms, you’re more likely to find yourself wondering how much longer those kids -- and the institution of public education -- can survive this accountability fad.
Rabu, 15 Juni 2011
Kenapa sampai sekarang kita berdua masih bertahan menjadi Guru?
![]() |
| Sumber : http://surabaya.detik.com/ |
Permasalahan yang terjadi belakangan ini di SD Gadel 2 Surabaya, sebenarnya juga terjadi di sebagian besar sekolah di seluruh Indonesia, yang menggunakan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan anak didiknya.
Seorang teman yang guru juga terusik sekali dengan keadaan ini, seolah kami tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah ataupun mengungkap segala kecurangan yang dilakukan di sekolah tempat kami mengajar.
Hingga terlepas beliau mengatakan “ingatkan saya, kenapa sampai sekarang kita berdua masih bertahan menjadi guru?”
Jawaban saya, paling tidak kita masih bisa memprovokasi anak-anak tentang moral, kejujuran, untuk berani bermimpi, berani beropini, dan terlepas dari carut marutnya UN dan sistem pendidikan kita.
Peristiwa 2 tahun yang lalu, ketika saya mengungkap bullying di sekolah antara guru dan murid, hingga terancam dimutasi dan dicopot jadi Guru, memang sempat membuat saya berpikir untuk pindah, merasa tidak pantas jadi guru lagi, pergi dari sekolah itu, bahkan sempat terpikir untuk mendirikan sekolah sendiri yang sesuai dengan idealism pendidikan hakiki yang tentu saja salah satunya tidak pakai UN sebagai standar kelulusan.
Selasa, 24 Mei 2011
[KLIPING] Terkait pernyataan Pak Nuh : "Ujian Nasional di AS dan India? Tidak ada."
adopt fr Dhitta Puti Sarasvati on Tuesday, May 3, 2011 at 12:50pm
Ujian Nasional di AS dan India? Tidak ada.
Oleh Satria Dharma
Dear all,
Nampaknya Mendiknas mendapat informasi yang salah soal ujian di AS. Beliau masih bersikukuh bahwa di AS ada Ujian Nasional seperti di Indonesia (atau bahwa AS juga menerapkan ‘cara yang mirip’ ujian nasional). Padahal TIDAK ADA ujian nasional di AS. Jangankan ujian nasional, sedangkan standar pendidikan berskala nasional saja tidak ada di AS. Lantas darimana beliau memperoleh informasi bahwa ada ‘semacam’ ujian nasional di AS (dan India)?
Berikut ini petikan tanya jawab beliau dengan pers.
Tempo : Anda berkukuh karena negara lain juga masih mempraktekkan ujian nasional?
Mendiknas : Banyak negara menggelar ujian nasional. Coba bandingkan dengan kebijakan Barack Obama yang terakhir dan kebijakan India. Amerika itu menerapkan cara yang mirip ujian nasional. Ada standar nasional. Tapi negara bagian diberi opsi. Kalau memilih ikut ujian nasional, diberi insentif. Ujian nasional itu tidak hanya ada di Indonesia. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/05/02/WAW/mbm.20110502.WAW136617.id.html#
Seperti yang pernah saya informasikan, TIDAK ADA Ujian Nasional di AS. Jadi tidak ada SATU UJIAN NASIONAL yang berlaku bagi semua siswa di seluruh negara bagian AS. Yang ada adalah ujian kelulusan (exit exams) bagi siswa SLTA untuk NEGARA BAGIAN tertentu. Jadi ini adalah ujian kelulusan yang levelnya sama dengan propinsi di Indonesia. Ini pun tidak semua negara bagian menetapkan exit exams.
Negara bagian California adalah salah satu negara bagian di AS yang menerapkan exit exams (ujian kelulusan bagi siswa SLTA) seperti yang kita lakukan dengan Ujian Nasional kita. Berbeda dengan di Indonesia, ujian kelulusan tersebut telah dimulai pada kelas 10 (klas 1 SMA) untuk mengidentifikasi mana-mana siswa yang mendapat kesulitan dalam bidang akademis dan perlu mendapat bantuan agar bisa lulus ujian kelulusan. Jadi berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan Ujian Nasionalnya untuk MENGHUKUM siswa yang tidak mampu mengerjakannya dengan baik pada akhir tingkat pendidikan mereka.
Senin, 23 Mei 2011
[KLIPING] ALL ABOUT UJIAN NASIONAL
Tidak Harus UN - Bagian 1
by 최이네스 on Thursday, May 19, 2011 at 8:29pm - Ines Setiawan -
Tahukah kita bahwa TIDAK semua profesi yang bonafid dan mapan membutuhkan rapor sekolah atau ijazah kelulusan UN? Ambil profesi sebagai guru Bahasa Inggris di English First (EF) sebagai contoh. Orang Indonesia yang diterima sebagai guru bukan mereka yg memiliki rapor atau ijazah kelulusan UN tetapi mereka yang kemampuan 'speaking'nya baik dan memiliki sertifikat Teaching Knowledge Test Module 1-2-3 dari University of Cambridge ESOL Examination dengan minimum pencapaian band 3 untuk masing-masing modul. http://www.cambridgeesol.org/exams/teaching-awards/tkt.html
Bahkan, orang Indonesia yang memiliki sertifikat CELTA, juga dari University of Cambridge ESOL examinations, diperlakukan sama dengan 'native speaker' dan berhak mendapatkan penghargaan finansial yang sama dengan native speaker (sekitar Rp. 125.000 per jam). http://www.cambridgeesol.org/exams/teaching-awards/celta.html
Semua ujian dari University of Cambridge ESOL examinations ini bisa diambil di Indonesia (on demand) TANPA persyaratan rapor/ijazah jenjang pendidikan sebelumnya. Berbeda dengan Cambridge International Examinations yang menyediakan ujian kualifikasi, Cambridge ESOL lebih banyak menyediakan ujian sertifikasi profesi. http://www.cambridgeesol.org/index.php
Di Indonesia, berbagai ujian dari University of Cambridge ESOL ini bisa diambil di berbagai tempat. Salah satunya di:
http://www.planetedupro.org/ (I love the staff)
Jadi, tidak UN tidak mati! ;)
Bahkan, orang Indonesia yang memiliki sertifikat CELTA, juga dari University of Cambridge ESOL examinations, diperlakukan sama dengan 'native speaker' dan berhak mendapatkan penghargaan finansial yang sama dengan native speaker (sekitar Rp. 125.000 per jam). http://www.cambridgeesol.org/exams/teaching-awards/celta.html
Semua ujian dari University of Cambridge ESOL examinations ini bisa diambil di Indonesia (on demand) TANPA persyaratan rapor/ijazah jenjang pendidikan sebelumnya. Berbeda dengan Cambridge International Examinations yang menyediakan ujian kualifikasi, Cambridge ESOL lebih banyak menyediakan ujian sertifikasi profesi. http://www.cambridgeesol.org/index.php
Di Indonesia, berbagai ujian dari University of Cambridge ESOL ini bisa diambil di berbagai tempat. Salah satunya di:
http://www.planetedupro.org/ (I love the staff)
Jadi, tidak UN tidak mati! ;)
Cerita anak-anak dibalik UN mereka
by Lea Kesuma on Tuesday, April 27, 2010 at 7:56am
Kalimat-kalimat tersebut yang terucap dari mulut mereka setelah mereka menerima amplop kelulusan mereka
Kamis, 21 April 2011
UN vs UU 20 2003 pasal 1...:)
Kata-kata lalu yang mengatakan bahwa UN tidak adil, UN penuh intrik dan kecurangan, UN hanya melihat kognitif siswa, soal UN tidak berkualitas karena pilihan ganda dan masih banyak lagi.
Tahun ini saya menjadi pengawas UN, saya juga pernah jadi anak SMA, jadi saya juga tahu perasaan anak-anak dan ketegangan mereka, juga trik mereka untuk curang, yang saya tidak tahu kenapa masih bocor?....
Saya tidak akan membahas kenapa bocor, dan kenapa bisa curang.
Saya ingin melihatnya dari perspektif kegagalan sistem pendidikan Indonesia melaksanakan amanah UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 yang berbunyi Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Suasana belajar?...bagi sekolah swasta dan mahal oke lah, bagi sekolah negeri saya masih menyangsikannya, karena selain sarana prasarana juga sumber daya manusia pendidik yang masih feodal, otoriter dan close minded. Banyak penelitian membuktikan bahwa kualitas guru sangat rendah, itupun baru dari segi kompetensi dasar, belum karakteristiknya, belum loyalitasnya, belum dedikasinya terhadap masa depan anak-anak bangsa yang dididiknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Sekolah Terakhir - Fathul Wahid
Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...
-
Kuliah Introduction to Finance sekarang beranjak ke week 8, saya baru selesai mengerjakan assignment di week 6 yang batas akhir pengerja...
-
Membaca halaman-halaman pertama buku Smart Learning Technology- Menjadi Juara dalam Waktu Singkat By. Setiyo Widodo – sudah membuat kepala...
-
Lama nggak nemu buku kritis atau tepatnya saya lama gak liat buku buku tentang kritik sistem pendidikan. 4 tahun nggak nulis, semakin kesini...




